Budaya dan Peran Kiai di Madura

artikel tentang: Budaya dan Peran Kiai di Madura

judul artikel: Perbedaan Budaya Politik Antara Kiai Jawa Dan Madura

 

 

Nama kiai di Pulau Madura memang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh kiai di pulau garam ini sangat kental hingga banyak didirikan pondok-pondok pesantren.

Kajian analitis mengenai kiai memang cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah studi yang dilakukan oleh Dhofier. Menurut Dhofier gelar kiai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang menjadi pimpinan pondok pesantren dan memiliki keahlian ilmu agama Islam. Gelar kiai dibentuk dan ditentukan oleh masyarakat, bukan gelar yang diciptakan sendiri oleh kiai tersebut. Gelar seperti ini merupakan gelar sosial yang menentukan prestis tidaknya seseorang dalam masyarakat. Gelar kiai juga diberikan kepada seseorang yang dianggap tokoh oleh masyarakat di luar urusan agama, atau diberikan kepada seseorang di luar kapasitasnya sebagai ahli ilmu agama. Dalam tradisi Jawa gelar yang diberikan dikenal dengan sebutan Kiai, Yai atau Ki. Masih menurut Dhofier, gelar kiai juga diberikan kepada seseorang yang ahli di bidang ilmu agama Islam, utamanya kitab kuning meskipun yang bersangkutan tidak memiliki pesantren.
Variasi kekiaian berbeda antara Jawa dan Madura. Dalam penelitian Turmudi di Jombang, semua ulama dari tingkat tertinggi hingga yang terendah disebut kiai. Dengan kata lain, istilah kiai di Jombang tidak mesti pada mereka yang menjalankan pesantren, tetapi juga dapat diterapkan kepada guru ngaji atau imam Masjid yang memiliki pengetahuan keislaman yang lebih dibandingkan dengan warga lain. Sementara di Madura tidak terikat oleh struktur formal apapun, tetapi lebih terletak pada pengakuan sosial sehingga agak sulit mengenali kekiaian seseorang. Hanya mereka yang menjalankan pesantren yang bisa dikenali dengan mudah. Mereka dianggap sebagai kiai yang lebih tinggi derajatnya. Di Madura, seorang guru ngaji di Musholla disebut kiai, demikian juga ada kiai yang berprofesi sebagai paranormal.
            Peran kiai di Madura sebagai pemimpin agama sangat dekat dengan hal-hal yang bersifat politik. Hal ini tidak dapat dielakkan karena kiai memiliki massa yang besar dan dengan sangat mudah menggerakkan massa (ummat) tersebut untuk kepentingan politik. Sementara sebagian massa tersebut adalah santri atau keluarga santri, atau mereka yang memiliki hubungan secara emosional keagamaan dengan kiai. Dari kekuatan tersebut kiai memiliki peran yang kuat dan berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya. Artikel ini mencoba membedah peran kiai di Madura dan peran-peran mereka dalam pentas politik.
Ekologi Madura
Secara antropologis, Jawa khususnya Jawa Timur dibagi ke dalam tiga budaya besar, yaitu kawasan yang disebut mataraman, yaitu kawasan yang secara budaya lebih dekat dengan budaya Jawa Mataram, yaitu budaya keraton Surakarta dan Yogyakarta. Di luar kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan pesisir dan ujung timur Jawa, yakni kawasan Madura dan Jawa-Madura.
Masyarakat Jawa-Madura memiliki karakteristik dan budaya yang sama dengan Madura. Para ilmuwan ada menempatkan dan memperlakukan sama antara orang Madura dan Jawa-Madura, karena hubungan genealogis yang tidak bisa dipisahkan, tetapi sebagaimana dilakukan oleh Ayu Sutarto, antara Madura dan Jawa-Madura memiliki perbedaan yang cukup jelas, sehingga Jawa-Madura membentuk subkultur baru yang disebut dengan ”Pendalungan”.
Istilah tapal kuda merupakan istilah yang dianalogikan kepada masyarakat Madura, yang tinggal di Pulau Madura maupun di Jawa Timur bagian timur. Selain tinggal di pulau Madura, masyarakat Madura juga mendiami kawasan kawasan pesisir, mulai Surabaya, Bangil hingga kawasan Jawa Timur bagian timur, yakni Jember dan Banyuwangi. Secara geografis, kawasan tersebut menyerupai telapak kuda, sehingga para antropolog sering memakai istilah ”tapal kuda” untuk merujuk kawasan tersebut.
Penduduk yang berbahasa dan berbudaya Madura tidak saja ditemui di rumah asalnya, pulau Madura, melainkan beberapa kawasan lain di Jawa Timur. Hampir di kawasan pesisir utara Jawa Timur didiami oleh masyarakat Madura, yang membentang dari pesisir Gresik, Surabaya, Bangil, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Jember. Bahkan kawasan pesisir pantai selatan, seperti Lumajang dan Malang juga didiami masyarakat Madura, meskipun jumlahnya tidak sebanyak di kawasan pantai utara. Di dua Kabupaten, Bondowoso dan Situbondo yang berada di kawasan timur Jawa Timur, hampir 100 % penduduk setempat berbahasa Madura. Indikasinya adalah, tidak ditemuinya penduduk setempat yang berbahasa selain Madura, kecuali penduduk pendatang baru, yang umumnya bekerja sebagai pegawai pemerintah dan guru, dan tinggal menetap di kawasan tersebut.
Masyarakat Madura di Jawa (istilah lain disebut Jawa-Madura) adalah berasal dari pulau Madura. Secara genealogis mereka adalah orang Madura. Mereka melakukan migrasi besar-besaran pada akhir abad 18. Pada tahun 1806, sudah ditemui desa-desa orang Madura di pojok timur karesidenan Jawa; 25 desa di Pasuruan, 3 desa di Probolinggo, 22 desa di Puger dan 1 desa di Panarukan. Pada tahun 1846, populasi orang Madura di pojok timur pulau Jawa diperkirakan berjumlah 498.273, dan di Surabaya, Gresik dan Sidayu sekitar 240.000. Adapun jumlah total etnis Madura di Jawa-Madura waktu itu sekitar 1.055.915.8
Migrasi temporer dan permanen mempengaruhi populasi di Madura sendiri. Sejak tahun 1892, diperkirakan perpindahan tiap-tiap tahun penduduk Madura ke Jawa berjumlah 40.000, dengan perincian 10.000 dari Sumenep, 3.000 Pamekasan, 18.000 dari Sampang dan 9.000 dari Bangkalan. Selama musim kemarau, ketika air sangat jarang, pekerja-pekerja migran meninggalkan pulau Madura dan kembali lagi setelah masa panen, atau pada akhir ramadhan untuk berpesta bersama keluarga. Mereka biasanya tinggal di Jawa, tiga sampai enam bulan atau sampai satu tahun. Ongkos berlayar hanya 25 sen, atau sama dengan upah sehari kerja. Rendahnya ongkos berlayar mendorong mereka untuk pergi ke Jawa dalam waktu terbatas, atau menetap dalam jangka waktu lama. Dalan studi yang dilakukan oleh Kuntowijoyo, hingga tahun 1930 separuh lebih dari seluruh etnis Madura tinggal di Jawa, utamanya di pojok timur Jawa Timur. Sensus penduduk waktu itu memperlihatkan bahwa penduduk Madura yang tinggal di Jawa (termasuk pulau-pulau kecil di timur Madura) berjumlah 4.287.276. Bandingkan dengan orang Madura yang tinggal di Madura yang hanya mencapai 1.940.567, atau sekitar 45 % dari total etnis Madura. Pada tahun tersebut, etnis Madura di pojok timur pulau Jawa merupakan mayoritas. Di Karesidenan Panarukan, Bondowoso dan Kraksan hampir 100 % penduduknya orang Madura. Di Probolinggo, orang Madura mencapai 72 %, di Jember 61 %, Pasuruan 45 %, Lumajang 45, 6 %, di Malang 12 % dan Bangil 12, 7 %.10 Dari sisi inilah, prilaku, karakteristik antara orang Madura yang berada di pulau Madura dan pulau Jawa-Madura memiliki persamaan, baik dari struktur sosial, budaya dan ciri keagamaan.
Dalam sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2000, penduduk Madura yang berada di Madura Pulau sebesar 3.230.300 jiwa. Sementara terdapat 3.281.058 etnis Madura yang berada di pulau Jawa khususnya Jawa Timur, sementara dalam lingkup nasional jumlah etnis Madura mencapai 6.771.727 jiwa. Artinya jumlah etnis Madura yang berada di Jawa lebih besar dibandingkan dengan yang berada di Madura Pulau.
Dalam penelitian Kuntowijoyo, masyarakat Madura dikelompokkan menjadi lima;yaitu para usahawan, pemimpin agama, petani dan produsen garam. Usahawan yang cukup menonjol adalah pedagang besi tua dan kerajinan khas Madura. Sebagian lain sebagai petani dan nelayan. Jumlah petani di Madura sangat kecil, karena hampir sebagian besar tanah Madura adalah tandus dan tadah hujan. Tanah tersebut kurang cocok untuk memproduksi padi dan tanaman polowijo. Sebagian besar tanah Madura ditanami tembakau dan jagung, yang dari sisi ekonomis naik turun atau harganya ditentukan oleh pasar. Sementara yang bekerja sebagai nelayan cukup besar. Untuk kawasan timur, banyak ditemui petani garam yang jumlahnya cukup besar. Bahkan Kalianget, salah satu kawasan di Kabupaten Sumenep merupakan produsen garam terbesar di Indonesia.
Kondisi tanah tegalan yang tandus yang berimbas pada prilaku keseharian warga Madura. Secara umum masyarakat Madura dikelompokkan sebagai pekerja keras, terbuka, bertipikal kasar tetapi peduli pada lingkungan sekitar. Struktur ekologis sangat menentukan karakter masyarakat Madura. Tetapi ada perbedaan antara Madura Sumenep dan bagian barat, yaitu Pamekasan, Sampang dan Bangkalan. Tipikal keraton yang priyayi banyak mempengaruhi prilaku keseharian mereka. Masyarakat Sumenep lebih dikenal lebih halus, santun dan jaim (jaga imej). Orang Madura-Jawa yang mendiami kawasan pojok timur Jawa Timur banyak dipengaruhi tipikal Sumenep dibandingkan bagian barat lain. Sementara orang Jawa-Madura yang tinggal di sekitar Surabaya, Bangil, Pasuruan dan Probolinggo memiliki karakteristik yang sama dengan Madura Sampang dan Bangkalan.
Agama dan Politik Memposisikan Kiai Sebagai Sentral
Pemimpin kegamaan di Madura terdiri dari tiga kelompok, yaitu; santri, kyai dan haji. Murid yang menuntut ilmu disebut santri, guru agama yang mengajari santri disebut kyai, dan mereka yang kembali dari menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah disebut haji. Ketiga kelompok tersebut berperan sebagai pemimpin keagamaan di Masjid, Musholla, acara ritual keagamaan dan acara seremonial lain, dimana mereka berperan sebagai pemimpinnya. Diantara ketiganya, kyai merupakan tokoh yang paling berpengaruh, dan oleh Kuntowijoyo, kyai Madura disebut dengan elit desa. Pengetahuan yang mendalam tentang Islam menjadikan mereka paling terdidik di desa. Beberapa kiai selain tetap menyampaikan keahliannya soal-soal agama, juga dapat meramalkan nasib, menyembuhkan orang sakit dan mengajar olah kanuragan. Kyai Madura dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis;guru ngaji, yang mengajarkan al-Qur’an, guru ngaji kitab yang mengajarkan berbagai jenis ilmu agama, dan guru tarekat yang disebut juga pemimpin tarekat.

Tingkat Pendidikan Masyarakat Madura

artikel tentang: Tingkat Pendidikan Masyarakat Madura

judul artikel: Pendidikan madura: Sejarah, kenyataan dan harapan

 

 

Sistem pendidikan di tiap daerah di indonesia belum seluruhnya merata. Apalagi di daerah pedalaman masih banyak anak – anak yang kesulitan mengenyam pendidikan.

Dewasa ini sistem pendidikan Nasional menghadapi berbagai tantangan yang cukup besar dan mendasar, terutama dalam konteks pembangunan masyarakat, negara dan bangsa. Pada era globalisasi ini, tantangan itu dirasakan sehubungan dengan keadaan dan permasalahan di berbagai bidang kehidupan yang secara langsung memiliki kaitan dengan sistem pendidikan nasional. Tantangan ini bersumber dari dua faktor yang saling berpengaruh, baik dari faktor luaran (ekstern) maupun faktor dalam (intern).

Tantangan besar dalam pendidikan nasional paling tidak meliputi tiga hal, yaitu: Pertama, sebagai akibat krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai; Kedua, untuk mengantisipasi era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global; Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang demokratis, memperhatikan keberagaman, serta mendorong partisipasi masyarakat.

Berdasarkan permasalahan dan tantangannya tersebut, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) seolah terus merintis berbagai upaya pembaharuan pendidikan nasional, diantaranya dengan melahirkan berbagai kebijakan baru sektor pendidikan. Kebijakan-kebijakan tersebut sepertinya akan memberikan pijakan untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan berbagai prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Penerapan semua kebijakan ini diharapkan akan dapat mendukung segala upaya untuk memecahkan masalah pendidikan, yang pada gilirannya akan dapat memberikan sumbangan yang signifikan terhadap masalah-masalah makro bangsa Indonesia.

Pendidikan memang bukan merupakan suatu bidang kehidupan yang terpisah dari bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan sering dianggap sebagai faktor terpengaruh dari masalah-masalah terjadi dalam lingkungan strategis sehingga pendidikan sering menerima akibat buruk dari perubahan tersebut. Kebijakan pendidikan yang akan ditetapkan setidak-tidaknya harus mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan permasalahan yang terjadi dalam lingkungan strategis, bahkan pendidikan harus mampu menjadikan dirinya sebagai faktor yang dapat menggerakan atau mengarahkan perubahan dalam lingkungan tersebut.

Oleh karenanya, kebijakan pendidikan diarahkan pada perwujudan sistem pendidikan yang bermutu dan dapat dijangkau oleh semua anggota masyarakat agar semua warga negara memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati hasil-hasil pendidikan. Dengan demikian, prinsip keadilan dalam pendidikan merupakan hal yang sangat penting, karena berkaitan dengan pemerataan, keterjangkauan, bahkan mutunya. Oleh sebab itu, keadilan dalam pendidikan menjadi konsep paling mendasar dari kebijakan pendidikan di tanah air. Persoalannya adalah, apakah yang menjadi harapan kita akan dunia pendidikan di Indonesia itu telah benar-benar mewujud pada masa pemerintahan SBY-MJK sekarang ini?

Di pojok timur laut pulau jawa bertengger sebuah pulau sempit memanjang yang secara sepintas berbentuk seperti belati. Pulau itu terbilang kecil, panjangnya hanya sekitar 160 km dan bagian terlebarnya mencapai 40 km. Dari daratan jawa pulau itu dipisahkan oleh sebuah selat dangkal kira-kira 4 km lebarnya di sebelah barat yang semakin melebar di bagian selatannya hingga menjadi sekitar 55 km. Secara teritorial Pulau Madura masih taermasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Timur. Yang terbagi menjadi 4 kabupaten yakni, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Jumlah penduduk Pulau Madura sampai tahuan 2004 terbilang 3.536.362 jiwa, sekitar 9,67% dari jumlah penduduk Provinsi Jawa Timur 36.548.648 , yang tarbagi atas: Bangkalan 892.987 jiwa, Sampang 847.361 jiwa, Pamekasan 750.295 jiwa, dan Sumenep 1.045.719 jiwa.

Dari pribahasa Madura Buppa, Babbu’, Guruh, Ratohterkandung makna: Bapak dan Ibu sebagai figure kecil dalam lingkup keluarga dan berada di posisi utama yang sangat dihormati bagi individu (manusia) Madura. Sedangkan dalam konteks sosial, figur utama sebagai panutan yang sangat dihormati adalah Kyai. Bagi orang Madura Kyai adalah guru yang mendidik dan mengajarkan pengetahuan agama yang memberikan tuntunan dan pedoman dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Setelah kiayi barulah Pemerntah, yakni Pejabat, Birokrasi Negara. Uraian Tersebut sedikit Memberikan gambaran terhadap bagaimana wajah dari pendidikan di Madura:

Dalam lingkungan masyarakat yang agamis (Islam), wajah pendidikan di Madura lebih banyak didominasi oleh peran serta para kyai dengan pesantren yang dibawahinya, pendidikan formal menjadi alternatif setelah pesantren. Realisasi pembangunan jembatan Suramaadu pun tidak lepas dari adanya campur tangan para Kyai. Yang akan jadi pertanyaan dan tetap menarik untuk kita diskusikan adalah bagaimana wajah pendidikan Madura dalam konteks karakteristik sosial dan budaya masyarakat Madura dan tuntutan peningkatan kuailitas sumberdaya manusia sebagai konsekuensi dari terrealisasinya Jembatan Suramadu yang notabene akan membawa iklim industrialisasi ke pulau Madura…?

Mulanya hanyalah niat dan keinginan, namun bukan berarti tanpa langkah dan kesungguhan. Kabinet Mahasiswa Universitas Trunojoyo, dan saat ini dilanjutkan oleh Himpunan mahasiswa jurusan sosiologi universitas Trunojoyo dalam perjalanannya membangun atmosfer intelektual, pada akhirnya dengan kesungguhan hati, memantapkan niat dan keinginan tersebut untuk merealisasikan Program Penulisan Buku sebagai salah satu bentuk kepedulian kita akan pembangunan madura di masa mendatang.

Program Penulisan Buku ini sendiri pada awalnya digagas oleh Kabinet Mahasiswa dan saat ini dilanjutkan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Trunojoyo sebagai sebuah misi yaitu membangun atmosfer intelektual di bumi Universitas Trunojoyo dan Madura pada umumnya, dimana Penulisan Buku ini sebagai jendela terdekat bagi para mahasiswa untuk mengetahui dimensi-dimensi baru dari tekhnologi dan peradaban masyarakat dunia. Juga atas realisasi ini membawa peluang dan potensi yang cukup besar dalam upaya meningkatkan kualitas generasi muda sebagai generasi yang nantinya akan memegang tonggak estafet kepemimpinan bangsa Indonesia. Langkah ini memang awal, tapi kami berupaya membangun satu patok keyakinan bahwa sekecil apapun langkah itu, setidaknya kami berani berjalan selangkah untuk memulai.

Berbagai Kebudayaan Seni Khas Madura

artikel tentang: Berbagai Kebudayaan Seni Khas Madura

judul artikel: Kesenian Budaya Madura

 

 

 

Setiap pulau yang ada di Indonesia pasti selalu mempunyai kelebihannya masing-masing, entah itu dari segi pemandangan alamnya yang begitu menakjubkan. Termasuk salah satunya pulau Madura.

Madura merupakan pulau kecil yang letaknya di sebelah timur pulau jawa. Madura memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang sudah ada dari sejak lama. Madura memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan masyarakat-masyarakat pada umumnya, meskipun Madura masih berada di wilayah Indonesia tetapi faktor letak membuat kebudayaan-kebudayaan di Indonesia berbeda-beda, dari satu daerah-ke daerah lain, meskipun Madura masih satu provinsi dengan mereka.
Masyarakat Madura memiliki corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat Jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat masyarakat Madura disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain. Jika masyarakat atau orang Madura mendapatkan suatu kebaikan maka dia akan membalasnya dengan kebaikan serupa atau bahkan lebih baik. Tetapi, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan mereka akan membalas dengan yang lebih kejam.
Kebudayaan Madura
            Kebudayaan yang di miliki masyarakat Madura andara lain :
Bahasa Madura
Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinya mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalannya. Bahasa Madura sama seperti bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan, namun agak berbeda karena hanya terbagi atas tingkat yakni :
·         Ja’ – iya (sama dengan ngoko)
·         Engghi-Enthen (sama dengan Madya)
·         Engghi-Bunthen (sama dengan Krama)
Rumah Adat
Rumah adat Madura memiliki halaman yang panjang atau yang terkenal dengan sebutan Tanian Lanjang yang berarti bukti kekerabatan masyarakat Madura. Rumah adat ini hanya memiliki satu pintu di depan. Agar pemilik rumah, dapat mengontrol aktifitas keluar masuk keluarga. Pintu ini dihiasi ukiran-ukiran asli Madura, dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan.
Senjata tardisional Madura
Senjata tersebut bernama clurit. Bentuknya melengkung seperti arit, mata celurit sangat runcing dan tajam. Gagangnya tebuat dari kayu atau logam.
Pakaian adat Madura
Pakaian adat masyarakat Madura untuk pria sangat identik dengan motif garis horizontal yang biasanya berwarna merah-putih dan memakai ikat kepala. Lebih terlihat gagah lagi bila mereka membawa senjata tradisional yang berupa clurit. Dan untuk wanita, biasanya hanya menggunakan bawahan kain batik khas Madura dan mengenakan kebaya yang lebih simple.
Tarian khas Madura :
·         Tari Sholawat Badar atau rampak jidor
Tari yang dimainkan oleh para dara ini merupakan tari yang menggambarkan karakter orang Madura yang sangat relegius. Seluruh gerak dan alunan irama nyanyian yang mengiringi tari ini mengungkapkan sikap dan ekspresi sebuah puji-pujian, do’a dan zikir kepada Allah SWT.
·         Tari topeng Gethak
Tari topeng ‘gethak’ mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Gerakan tari topeng gethak mengandung makna mengumpulkan masa dimainkan oleh satu hingga tiga orang penari.
·         Tari Rondhing
Rondhing ini kan berasal dari “rot” artinya mundur, dan “kot-konding” artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan baris-berbaris. Tari rondhing ditarikan oleh 5 orang.
Musik Saronen
Merupakan music khas Madura, dimana alat music tersebut berbentuk kerucut dan dimainkan dengan cara ditiup.
Upacara Sandhur Pantel
Upacara ritual untuk para masyarakat Madura yang berprofesi sebagai petani atau nelayan. Upacara ini menghubungkan manusia dengan makhluk ghaib sebagai sarana komunikasi manusia dengan Tuhan pencipta alam. Upacara ini berupa tarian yang diiringi music.
Karapan Sapi 
Merupakan kebudayaan Madura yang sangat terkenal. Karapan sapi ini merupakan lomba memacu sapi paling cepat sampai tujuan. Bertujuan untuk memberikan semangat kepada para petani agar tetap semangat untuk bekerja dan meningkatkan produksi ternak sapinya.
Penikahan Salep Tarjha
Pernikahan ini adalah pernikahan yang sangat dilarang oleh masyarakat Madura, karena dianggap dapet menbaca bencana dan musibah bagi para pelaku maupun keluarga dari pelaku pernikahan tersebut. Pernikahan Salep Tarjha adalah pernikahan 2 orang saudara.

 

Penjelasan diatas merupakan beberapa penjelasan mengenai kebudayaan yang ada di daerah Madura. Namun, masih banyak kesenian dan kebudayaan yang di miliki oleh daerah Madura. Jaga selalu dan lestarikan budaya yang dimiliki oleh daerah Madura. Bukan Madura saja tetapi budayakan dan lestarikan kebudayaan yang ada di tanah air kita yaitu Indonesia.

Tajin Simbol Ritual Adat Masyarakat Madura

artikel tentang: Tajin Simbol Ritual Adat Masyarakat Madura

judul artikel: Tajin (Bubur) simbol ritual pada masyarakat Madura

 

 

Makanan ternyata juga mempunyai simbol tersendiri bagi suku tertentu, seperti halnya bubur. Bagi orang Madura bubur sangat berarti dan mempunyai makna sendiri.

Tajin atau dalam bahasa Indonesia disebut bubur. Makanan yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, makanan ini bisa kita temui dimanapun dari mulai yang “elite” sampai yang biasa dipinggir jalan, orang biasanya mengkonsumsinya pada  pagi hari sebagai menu sarapan pagi.

Pada masyarakat Indonesia bubur memiliki nama tersendiri tergantung pada adat dan istiadat mereka,sebut saja bubur pedas dari Kalimantan Barat tepatnya Kabupaten Sambas dan bubur Suro pada masyarakat Jawa.
Pada masyarakat madura tajin merupak simbol dari sebuah rasa syukur yang mendalam terhadap karunia yang diberikan oleh Allah, maka mereka wujudkan dalam tradisi yang unik dan dengan media bubur ini pula dijadikan ajang untuk menjalin silaturrahmi antar sesama.

 

Tajin Slamet
Pada masyarakat Madura bubur bisa bermacam-macam nama,  tergantung pada bulannya, pada masyarakat madura bubur sangat penting karena bubur dapat digunakan sebagai media ritual.
Tajin slamet misalnya bubur ini dibuat untuk siapa pun yang mau bepergian kedaerah yang jarak tempuhnya jauh, atau untuk melakukan aktivitas yang lain, seperti membuat rumah, mau bercocok tanam, panen, dan sebagianya  maka ritual pertama adalah membuat tajin sebagia media untuk meminta keselamatan.
Tajin slamet ini sangat sederhana tak ada yang berbeda pada bubur kebanyakan yaitu beras yang dimasak sampai lembut dan sedikit ber air, pada tajin slamet biasa ditaburi gula merah atua gula putih.

 

Tajin Pedis atau Resem
Selain itu ada pula tajin pedis (bubur pedas,)atau biasa disebut juga dengan tajin resem (tajin campur), bubur ini di buat pada bulan muharram, bulan muharram merupakan awal bulan tahun hijriah, bulan muharram mempunyai banyak sejarah dan bulan ini sangat di istimewakan dan dimuliakan karena kejadian-kejadian besar banyak pada bulan muharram ini. Bulan muharram dalam bahasa madura disebut bulan sorah.
Tajin pedis atau tajin resem terbuat dari beras dan dicampuri dengan berbagai jenis bahan masakan lainnya seperti kacang, ubi, kacang panjang, kacang ijo dan lain-lain. Untuk itu bubur dengan berbagai campuran ini desebut dengan tajin resem, resem dalam bahasa madura sering diartikan campur aduk.

 

Tajin pedis bukan hanya sebagai simbol ritual saja namun lebih dari itu, sejarah telah mencatat kejadian awal mula tajin pedis ini, secara historis.
Sejarahnya…
Berawal dari sebuah kisah Nabi Nuh As, yang kala itu beliau mendapatkan printah dari Allah SWT, untuk membuat kapal guna terhindar dari bahaya banjir bandang yang akan menimpa kaumnya yang ingkar. Dan setelah banjir itu datang ummatnya yang tidak ingkar ikut dalam rombongan Nabi Nuh AS, setelah banjir bandang tersebut surut maka Nabi Nuh dan ummatnya turun kedaratan.
 
Setelah selamat dari banjir bandang tersebut maka Nabi Nuh bertanya kepada ummatnya, “masih adakah sisa-sisa bekal  pelayaran?” kemudian ummatnya menjawab “masih ya Nabi” dan Nabi Nuh pun memerintahkan untuk mengumpulkan semua sisa-sisa makanan tersebut untuk dimasak. Dan semenjak saat itulah kejadian ini diterjemahkan oleh masyarakat Madura sebagai tanda syukur terhadap Allah dan kemudian mereka membuat tajin pedis.

 

Tajin Mera Pote (Bubur Merah Putih )
Bubur merah putih atu tajin mera pote merupakan salah satu bubur yang dijadikan alat untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap Allah SWT, sebagimana Nabi Nuh mengungkapkan rasa syukurnya dengan memasak sisa-sisa bekal pada kejaidian banjir bandang yang menimpa kaumnya yang ingkar.
Rasa syukur ini pula di wujudkan oleh masyarakat madura sehingga mereka membuat tajin mera pote.
Bubur atau tajin mera pote sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Madura, pada setiap bulan safar atau biasa orang Madura bilang Sappar, pada bulan inilah mereka membuat tajin mera pote.
Bubur ini sedikit berbeda dengan bubur yang lain seperti tajin slamet, dan TajinPedis. Khusus untuk bubur yang satu ini bahan bakunya  bukanlah beras melainkan tepung, bubur merah dibuat dari tepung ketan dan bubur putih dibuat dari tepung beras, rasanya pun berbeda jika yang merah manis dan yang putih rasanya  asin sehingga kalau dimakan akan terasa enak manis dan asin.
Tradisi bubur merah putih ini, di laksanakan bukan tanpa alasan, ritual-ritual ini di laksanakan untuk mengenag sejarah penting dalam Islam, bagaimana sejarahnya?

 

Sejarah…
Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib sang Cucu Rasulullah saw terbunuh oleh Yazid bin Muawiyah. Pembunuhan ini lebih tepat bila disebut dengan pembantaian karena tidak seimbangnya dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Pembantaian ini terjadi di padang Karbala ketika dalam perjalanan menuju Irak.
Kejadian pembunuhan terhadap Husain cucu Rasulullah saw ini, tidak boleh terhapus dari memori kolektif maupun individu generasi Muslim. Kejadian-kejadian dalam sejarah ini harus selalu dipupuk dengan subur sebagai salah satu media pendidikan kepahlawanan dalam Islam.

Berbagai metode pun dilakukan untuk mengenag sejarah tradisi kolaitas. Pada masyarakat madura misalnya kita mengenal tajin mera dan tajin pote (bubur merah putih) yang dibagikan pada tetangganya tidak lain untuk merawat ingatan sejarah tersebut secara perlambang.

Bubur putih bermakna rasa syukur akan panjngnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Seperti rasa syukurnya Nabi Nuh setelah berlayar dari banjir bandang, seperti syukurnya Nabi Musa setelah mengalahkan Fir’aun.
Disamping itu Bubur Putih merupakan lambing kebenaran dan kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang. Meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan, seperti Sayyidina Husain sebagai kelompok putihan yang ditumpas oleh Yazid bin Muaswiyyah sang penguasa laknat.

Sedangkan tajin mera (bubur merah) adalah pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan. Semoga semua hal-hal buruk itu senantiasa dijauhkan oleh Allah dari kita amien.

Jadi bubur yang berwarna merah dan putih merupakan representasi dari rasa syukur yang mendalam. Atas segala karunia Allah swt. Dan yang lebih penting dari itu semua, Tajin atau Bubur merupakan wahana untuk merawat ingatan akan adanya sejarah besar dalam Islam. 

 

Mata Pencaharian Masyarakat di Pulau Madura

artikel tentang: Mata Pencaharian Masyarakat di Pulau Madura

judul artikel: KEBUDAYAAN SUMENEP DALAM SUDUT PANDANG MATA PENCAHARIAN

 

 

Banyak kekayaan alam yang dapat kita petik di dalam hidup, termasuk dari negara Indonesia yang banyak terdiri dari berbagai pulau kecil.

Indonesia merupakan salah satu negara agraris. Dimana sebagian besar penduduknya mencari penghasilan tergantung dengan keadaan alam sekitarnya. Pulau Madura yang termasuk salah satu dari ribuan pulau di Indonesia juga memilki kebiasaan tersebut, yakni bergantung pada keadaan alam disekitarnya.

Masyarakat Madura sebagian besar bermata pencaharian petani atau nelayan. Para petani biasanya saat musim penghujan (nembara’) menanam padi di sawah mereka. Sedang pada saat kemarau (nemor) biasanya lebih banyak orang yang menanam tembakau. Walaupun begitu ada masyarakat yang menanam jagung, kacang tanah, dll. Pada saat ini pun, masih banyak masyarakat madura yang bermata pencaharian petani atau nelayan, terutama pada masyarakat pedesaan. Bahkan, masih banyak masyarakat yang telah jadi pegawai  negeri atau pengusaha, jika masih memiliki tanah sawah mereka akan menyewakan tanah tersebut untuk orang lain agar sawahnya digarap, kemudian hasil panennya di bagi (bagi hasil). Mata pencaharian yang lain adalah menjadi petani garam. Yah,,, Madura kan terkenal dengan Pulau garam karena salah satu penghasil garam terbesar di negara Indonesia ini.

Dari mata pencaharian seperti inilah masyarakat Madura memenuhi kehidupannya. Dari mata pencaharian ini pula, masyarakat Madura, terutama di Sumenep, menghasilakan kebudayaan, yang belum tentu ada di daerah lainnya. Kebudayaan berasal dari kebiasaan. Kebiasaan masyarakat dulu yang percaya akan rahmat dari Tuhan yang telah memberikan dan menyediakan alam ini untuk digarap dan menghasilakn sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, menyebabkan masyarakat melakukan ritual untukmensyukuri akan hali tersebut. Masyarakat di sumenep melakukan ritual “Petik Laut” atau juga dikenal dengan “Rokat Tase’”s ebagai tanda mensyukuri rahmat Tuhan YME.

Tradisi ” Rokat Tase’ ” atau “Petik Laut”dilakukan untuk mensyukuri karunia serta nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Dan juga agar diberikan keselamatan dan kelancaran rezeki dalam bekerja. Ritual atau tradisi tersebut, biasanya dimulai dengan acara pembacaan istighotsah dan tahlil bersama oleh masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama setempat.Setelah itu, masyarakat melepaskan sesaji ke laut sebagai rasa ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun isi dari sesaji itu adalah ketan-ketan yang berwarna-warni, tumpeng, ikan-ikan, dan lain sebagainya. Ritual atau tradisi tersebut disebut ” Rokat Tase’ ” oleh penduduk setempat atau disebut juga denann istilah “petik laut”

Tradisi ini mungkin berasal dari tradisi sebelum masuknya Islam, yakni saat ajaran Hindu-Budha masih menjadi menjadi ajaran agama yang paling banyak dianut. Ketika Islam mulai masuk ke Madura, kebudayaan yang berasal dari kebudayaan hindu-Budha tidaklah dihapus secara keseluruhan. Tetapi pada saat itu terjadi pencampuran kebudayaan yang berasal dari ajaran Hindu-Budha dengan ajaran Islam. Pada saat itu mungkin “Petik Laut”atau “Rokat Tase’” dilakukan karena kepercayaan terhadap dewa-dewa, namun saat ini berdasarkan kepercayaan terhadap Allah SWT.

Selain itu, masyarakat Madura biasanya melakukan selamatan dengan para tetangganya setelah melakukan panen. Hal ini dilakukan biasanya untuk membagi rezeki yang diperolehnya, selain itu juga agar mendapat rahmat dan berkah dari do’a para undangan.

Kebudayan daerah akhir-akhir ini mulai ditingglakan. Walaupun begitu, masih ada sebagian masyarakat, terutama masyarakat pedesaan yan tetap melakukan ritual dan kebiasaan tersebut. Kebudayaan biasanya banyak ditinggalkan oleh masyarakat kota yang biasanya bersifat individualisma. Padahal, dengan adanya acara kebudayaan-kebudayaan tersebut akan menciptakan rasa kebersamaan, saling menghargai, tolong-menolang, dll.

Mainan Tradisional Madura

artikel tentang: Mainan Tradisional Madura

judul artikel: Bhanteng, Permaian Tradisional yang Mulai Hilang

 

 

Seiring berkembangnya zaman permainan tradisional kini makin bergeser oleh permainan yang berbasis teknologi canggih. Dikemas dengan lebih seru dan menarik untuk anak-anak.

Iseng-iseng, cobalah tanyakan kepada anak-anak kecil di Madura, apa saja permainan tradisional yang mereka kenal. Jawabannya boleh jadi sangat mengejutkan karena mereka sungguh amat sedikit mengenalnya. Padahal, Madura punya banyak permainan tradisional yang beragam. Bahkan, dalam satu jenis permainan saja, ada banyak model dan tata cara yang berbeda di masing-masing daerah.

Memang, permainan tradisional anak-anak Madura mulai tidak banyak diminati. Di kampung penulis sendiri (Jaddung, Pragaan, Sumenep), sudah sangat jarang ditemui anak-anak bermain pa?jel, la?-lala? butah, pal tandhu?, tek-etekan, dsb. Mereka lebih akrab dengan stick Play Stasion (PS), keyboard komputer, atau tombol ponsel.

Tentu saja, fenomena ini punya dampak buruk kepada generasi masa depan. Ketergantungan terhadap permainan digital membawa efek psikologis kepada anak. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah pengebirian terhadap imajinasi mereka. Di ruang digital, imajinasi anak terpenjara karena game yang mereka mainkan sudah terstruktur. Pikiran mereka otomatis dikonstruk untuk mengikuti mekanisme yang dibikin oleh pembuat game. Mereka kehilangan kreativitas untuk berimprovisasi.

Dulu, untuk bermain kekeyan, anak-anak perlu punya kecakapan membuat benda tersebut. Mereka harus mengukur dimenasinya agar ketika dimainkan tidak kalang kabut dan bisa memenangkan pertandingan. Kini, kecakapan tersebut tidak perlu dimiliki oleh anak-anak dalam bermain game. Mereka hanya perlu membeli ponsel atau komputer. Beratus-ratus game sudah bisa mereka mainkan tanpa perlu membuatnya sendiri.

Bhanteng

Permainan tradisional telah banyak terbukti memiliki nilai-nilai edukatif. Nilai-nilai itu misalnya, keakraban, kemandirian, kerja keras, sportifitas, cara mengatur strategi, keseimbangan,?dll. Semua nilai tersebut amat membantu terhadap perkembangan karakter anak.

Salah satu permainan tradisional anak-anak Madura yang mengandung banyak nilai edukatif adalah bhanteng (nama sesuai dengan pengetahuan pribadi penulis. Di beberapa daerah mungkin punya nama berbeda). Di dalam prakteknya, anak-anak diajarkan banyak hal yang bisa membangun karakter positif dalam diri mereka.

Bhanteng dimainkan oleh dua kelompok anak-anak yang masing-masing kelompok punya satu benteng. Benteng tersebut adalah pohon berbatang agak besar, sekiranya bisa dipegang oleh sejumlah anak. Jarak antara dua benteng tergantung kesepakatan pemain, yang penting masih bisa dijangkau.

Masing-masing kelompok harus mempertahankan bentengnya dari penyelundup yang kapan saja bisa merebutnya. Pohon tersebut tak boleh disentuh oleh musuh. Jika disentuh, maka ia menjadi milik musuh dan mereka dinyatakan kalah.

Para penyelundup di masing-masing kelompok juga?harus hati-hati. Sebab, bila mereka tertangkap, harus siap ditahan. Semakin banyak anggota ditahan, maka kian lemah pertahanan benteng tersebut. Hal itu bisa membuat musuh makin leluasa menguasainya.

Para tahanan bisa dibebaskan dengan cara dijemput secara hati-hati oleh temannya yang belum tertangkap. Para tahanan ditawan di tengah-tengah antara dua benteng. Mereka bisa bebas jika yang menjemput tidak kena tangkap juga. Jika kena tangkap, maka mereka juga harus siap ditahan.

Para penahan juga harus awas. Sebab, musuh bisa kapan saja membebaskan kawannya yang mereka tahan.

Ada banyak nilai edukatif dalam permainan bhanteng. Nilai-nilai itu, pertama, adalah kesolidan. Masing-masing kelompok harus solid untuk memastikan keamanan bentengnya. Jika tidak, musuh akan dengan mudah mengacak-acak benteng tersebut.

Kedua, permaian bhanteng juga mengajarkan anak-anak untuk berstrategi. Bagaimanapun, dalam merebut benteng lawan atau membebaskan kawannya yang ditahan, mereka butuh cara agar tidak juga tertangkap. Sebab, bilamana tertangkap sama artinya mereka bunuh diri.

Ketiga, keberanian. Mereka harus punya inisiatif mengambil langkah-langkah berani untuk mempertahankan bentengnya atau membebaskan kawannya yang ditahan.

Keempat, keakraban dengan alam. Medium pohon yang menjadi benteng membuat mereka kian akrab dengan alam. Terlebih lagi, mereka juga bermain di ruang terbuka, kadang belepotan tanah dan lumpur.

Demikianlah, permaian yang memiliki nilai-nilai edukatif itu mulai redup dari daftar permainan anak-anak di Madura. Di sebagian tempat mungkin masih ada yang mempraktekkannya, namun kian sedikit saja. Lambat laun ia mulai digantikan oleh game-game digital dari negeri seberang.

 

Makna Tentang Pakaian Tradisional Madura

artikel tentang: Makna Tentang Pakaian Tradisional Madura

judul artikel: Makna Busana Tradisional Khas Madura

 

 

Madura dengan sejuta keindahan pulaunya tetap membuat setiap orang terpukau, apalagi tentang cara berpakaian orang madura yang khas dan menarik dilihat.

Walaupun Madura adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa, kebudayaan Jawa dalam arti luas berpengaruh sangat besar dalam berbagai segi kehidupan masyarakat sukubangsa Madura. Oleh karena kebudayaan dan Busana Tradisonal Madura termasuk dalam daerah kebudayaan Jawa.

Masyarakat umum mengenal Busana Tradisonal khas Madura, yaitu hitam serba longgar dengan kaos bergaris merah putih atau merah hitam, di dalamnya, lengkap dengan tutup kepala dan kain sarung. Sebenarnya, Busana Tradisonal yang terdiri dari baju pesa`an dan celana gomboran ini merupakan pakaian pria untuk rakyat kebanyakan, baik sebagai Busana Tradisonal sehari-hari maupun sebagai busana resmi. Adanya pengaruh cara berpakaian pelaut dari Eropa, terutama kaos bergaris yang digunakan.
Dalam pemakaiannya, baju pesa`an, celana gomboran dan kaos oblong ini memiliki perbedaan fungsi bila dilihat dari cara memakainya. Kalangan pedagang kecil, seringkali mempergunakan baju pesa`an dan kaos oblong warna putih, dipadu dengan sarung motif kotak-kotak biasa. Sebaliknya para nelayan, umumnya hanya menggunkan celana gomboran dengan kaos oblong.
Zaman dahulu, masyarakat menggunakan Busana Tradisonal pesa`an dalam dua warna, yaitu hitam dan putih. Baju pesa`an biasanya dipakai oleh guru agama atau molang. Pada masa sekarang, Busana Tradisonal pesa`an warna hitamlah yang menjadi ciri khas. Warna hitam ini melambangkan keberanian. Sikap gagah dan pantang mundur ini merupakan salah satu etos budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Garis-garis tegas merah, putih atau hitam yang terdapat pada kaos yang digunakan pun memperhatikan sikap tegas serta semangat juang yang sangat kuat, dalam menghadapi segala hal.
Model Busana Tradisonal yang serba longgar dan pemakaiannya yang terbuka melambangkan sifat kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Kesederhanaan bentuk baju ini pun menunjukkan kesederhanaan masyarakatnya, teguh dan keras. Sarung palekat kotak-kotak dengan warna menyolok dan sabuk katemang, ikat pinggang kulit lebar dengan kantong penghimpun uang di depannya adalah perlengkapan lainnya. Terompah atau tropa merupakan alas kaki yang umumnya dipakai.
Berbeda dengan rakyat kebanyakan, para bangsawan biasanya menggunakan Busana Tradisonal berupa rasughan totop (jas tutup) polos dengan samper kembeng (kain panjang) di bagian bawah, secara umum sebagaimana Busana Tradisonal Solo dan Yogya. Perbedaannya terletak pada odheng, tutup kepala yang dikenakan.
Pada saat menghadiri acara resmi, rasughan totop umumnya berwarna hitam digunakan lengkap dengan odheng tongkosan kota, bermotif modang, dulcendul, garik atau jingga. Odheng pada masyarakat Madura memiliki arti simbolis yang cukup kompleks, baik dari ukuran, motif maupun cara pemakaian.
Bentuk dan cara memakai odheng juga menunjukkan derajat kebangsawanan seseorang. Semakin tegak kelopak odheng tongkosan, semakin tinggi dewajat kebangsawananan. Semakin miring kelopaknya, maka derajat kebangsawanan semakin rendah. Untuk orang yang sudah sepuh (tua), sayap atau ujung kain dipilin dan tetap terbeber bila si pemakai masih relatif muda…

Mengenali Watak Orang Madura

artikel tentang: Mengenali Watak Orang Madura

judul artikel: Karakter Etnis Madura dan Kebiasaan Carok

 

 

Berbagai watak tercermin dari budaya mereka masing-masing, sehingga setiap suku mempunyai watak yang berbeda-beda.

Masyarakat Ini Ekspresif, Spontan, dan Terbuka

Banyak kalangan berpendapat bahwa kultur (sosial-budaya) suku Madura selama ini kurang menggembirakan. Karena anggapan itu, orang Madura sering dijadikan anekdot yang lucu-lucu, bahkan terkadang terkesan seram. Salah satu contohnya adalah anggapan bahwa orang Madura suka carok dan sulit diajak maju dan lain-lainnya. Lalu bagaimana sebenarnya karakter etnis Madura ini? Benarkah carok itu merupakan kebiasaan?

MADURA, menurut penelitian A. Latief Wiyata, dosen FISIP Universitas Jember, memang memiliki karakteristik sosial budaya (sosbud) khas yang dalam banyak hal tidak dapat disamakan dengan karakteristik sosbud masyarakat etnik lain. Suatu realitas yang tidak perlu dipungkiri bahwa karakteristik sosbud Madura cenderung dilihat orang luar lebih pada sisi yang negatif.

Pandangan itu berangkat dari anggapan bahwa karakteristik (sikap dan perilaku) masyarakat Madura itu mudah tersinggung, gampang curiga pada orang lain, temperamental atau gampang marah, pendendam sertasuka melakukan tindakan kekerasan. Bahkan, bila orang Madura dipermalukan, seketika itu juga ia akan menuntut balas atau menunggu kesempatan lain untuk melakukan tindakan balasan.

Semua itu, kata Latief, tidak lebih dari suatu gambaran stereotip belaka. Sebab, kenyataannya, salah satu karakteristik sosok Madura yang menonjol adalah karakter yang apa adanya. Artinya, sifat masyarakat etnik ini memang ekspresif, spontan, dan terbuka, tuturnya ketika menyampaikan makalah Lingkungan Sosial Budaya Madura dalam Seminar Prakarsa Masyarakat dalam Kerangka Pembangunan Daerah Madura di Universitas Bangkalan, beberapa waktu lalu.

Ekspresivitas, spontanitas, dan keterbukaan orang Madura, senantiasa termanifestasikan ketika harus merespon segala sesuatu yang dihadapi, khususnya terhadap perlakuan oranglain atas dirinya. Misalnya, jika perlakuan itu membuat hati senang, maka secara terus terang tanpa basa-basi, mereka akan mengungkapkan rasa terima kasihnya seketika itu juga. Tetapi sebaliknya, mereka akan spontan bereaksi keras bila perlakuan terhadap dirinya dianggap tidak adil dan menyakitkan hati.

Contohnya, suatu ketika di atas kapal feri penyeberangan dari Kamal ke Ujung, Perak, ada seorang Madura sedang merokok di dalam ruangan ber-AC. Oleh orang lain, ia ditegur. Apakah orang Madura yang ditegur itu berang? Ternyata tidak. Spontan ia mematikan rokoknya yang masih cukup panjang dan dengan keterbukaan ia pun mengaku tidak tahu kalau ada rambu dilarang merokok.

Nyo’on sapora, sengko’ ta’ tao (Minta maaf, saya tidak tahu, Red), katanya dengan ekspresi yang lugu. Ada pula anekdot yang lucu dan lugu. Misalnya, ketika seorang abang becak asal Madura berurusan dengan polisi, ia dikatakan goblok karena melanggar aturan lalu lintas. Tetapi, petugas itu pun akhirnya tertawa karena mendapat jawaban si abang becak seperti ini. “Wah, Pak Polisi ini bagaimana, kalau saya pinter, ya ndak mbecak. Tak iya, …”

Dalam konteks ini berarti bahwa nilai-nilai sosbud Madura membuka peluang bagi ekspresi individual secara lebih transparan. Bahkan, secara sosial pun setiap individu tidak ditabukan untuk mengungkapkan perasaan, keinginan atau kehendaknya.

Bila kita hendak memahami persepsi, visi, maupun apresiasi, terhadap sosok Madura — masyarakat dan nilai-nilai sosbudnya — hasilnya akan menjadi lebih proporsional dan lebih objektif. Pengungkapan perasaan, keinginan, kehendak, dan semacamnya, akan makin memperlihatkan sosok Madura asli bila menyangkut masalah harga diri. Karena, bagi orang Madura, harga diri memiliki makna dimensi sosio-kultural yang berkaitan erat dengan posisi dirinya dalam struktur sosial. Posisi sosio-kultural ini menentukan status serta peran-peran diri orang Madura dalam kehidupan masyarakat. Kapasitas diri ini juga mencakup berbagai jenis dimensi lain — pada tingkat praktis — tidak cukup hanya disadari oleh yang bersangkutan.

Dalam kaitan ini, pelecehan terhadap harga diri akan diartikan sekaligus sebagai penghinaan terhadap kapasitas diri. Jika hal ini ini benar-benar terjadi, orang Madura akan merasa tada’ ajina (seperti manusia yang tak bermakna apa-apa, Red). Yang pada gilirannya muncul perasaan malu, baik pada dirinya sendiri maupun pada lingkungan sosbud mereka. Karena perasaan seperti itu, terlahir kondisi psiko-kultural serta ekspresi reaktif secara spontan, baik pada tingkatan individual maupun kolektif (keluarga, kampung, desa atau kesukuan).

Tak Mau Dilecehkan dan Dipermalukan

MENURUT Drs Fathur Rahman Saros SH, alumnus Unibang dan IAIN Surabaya yang skripsinya mengungkapkan soal carok, cara orang Madura merespon amarah biasanya berupa tindakan resistensi yang cenderung keras. Keputusan perlu tidaknya menggunakan kekerasan fisik dalam tindakan resistensi ini sangat tergantung pada tingkat pelecehan yang mereka rasakan.

Pada tingkat ekstrim, jika perlu mereka bersedia mengorbankan nyawa. Sikap dan perilaku ini tercermin dalam sebuah ungkapan: Ango’an Poteya Tolang, Etembhang Poteya Mata (artinya, kematian lebih dikehendaki daripada harus hidup dengan menanggung perasaan malu). Sebaliknya, jika harga diri orang Madura dihargai sebagaimana mestinya, sudah dapat dipastikan mereka akan menunjukkan sikap dan perilaku andhap asor.

Mereka akan amat ramah, sopan, hormat dan rendah hati. Bahkan, secara kualitatif tidak jarang justru bisa lebih daripada itu. Contohnya, ada ungkapan, oreng dadi taretan (artinya, orang lain yang tidak punya hubungan apa-apa akan diperlakukan layaknya saudara sendiri). Suatu sikap dan perilaku kultural yang selama ini kurang dipahami oleh orang luar.

Jadi, soal carok itu bukanlah suatu kebiasaan atau budaya struktural. Sebab,belum tentu seorang yang dulu jagoan dan dikenal suka carok, lalu turunannya otomatis juga carok. yang jelas, carok itu,menurut saya lebih didominasi pada masalah harga diri. Misalnya, menyangkut soal pagar ayu, ujar Fathur yang namanya di Bangkalan cukup dikenal dengan panggilan Jimhur ini.

Jimhur lebih rinci mengatakan, carok itu bisa terjadi kepada siapa saja. Artinya, meski carok itu bukanlah tradisi atau menganut garis turunan, tapi kalau menyangkut harga diri,martabat keluarga yang dilecehkan, maka carok bisa jadi cara terbaik untuk menyelesaikan.

Contohnya, ada satu keluarga yang tidak carok, namun suatu ketika kepala keluarga itu tewas gara-gara dicarok. Hampir bisadipastikan sang anak ketika kejadian masih kecil, pada saat dewasa akan melakukan perhitungan dengansi pembunuh orangtuanya.

Apa yang dilakukan si anak yang sudah dewasa itu bukanlah sikap balas dendam. Tetapi, merupakan pembelaan atas nama keluarga. Hal sepertiini bisa terjadi sampai mengakar. Karena itu, jangan heran, kalau mendengar cerita carok yang terjadi antar keluarga secara berkepanjangan, ujar Jimhur.

Hal seperti itu, lanjut Jimhur, pernah terjadi beberapa waktu lalu, yang sampai melibatkan antar keluarga dan kampung. Bahkan untuk mendamaikan, agar tak terjadi carokmassal, Pak Noer — H Mohammad Noer, mantan Gubernur Jatim yang juga sesepuh Madura — turun tangan langsung. Alhamdulillah,akhirnya terselesaikan, tutur tokoh muda yang tinggal di kawasan jalan HOS Cokroaminoto ini.

Jadi, masalah carok ini bukanlah kultur Madura. Carok, katadia lebih pas kalau dikatakan merupakan cerminan sikap pelakunya yang menjaga harga diri dan tak mau dilecehkan atau dipermalukan.

Berdasar catatan Jawa Pos, beberapa bulanterakhir ini di Sampang dan Bangkalan memang sering terjadi kasus pembunuhan. Ada Kades dibunuh warganya lantaran anaknya dikawinkan dengan pria lain, ada juga lantaran balas dendam, seperti pembunuhan terhadap Mat Sawi, 16 tahun, remaja asal Desa Serambeh, Kecamatan Proppo, Pamekasan.

Madholi nekat membunuh korban, karena Pak Sin, ayahnya, 20 tahun lalu, dibunuh H Wahab yang juga kakek Mat Sawi. Kasus pembunuhan seperti ini biasanya orang awam mengatakan korban mati dicarok. Padahal, menurut Drs Suroso dari LP3M (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Madura), pengertian itu amat menyimpang dari arti dan makna carok.

Sebab, kata dia, arti carok itu sendiri adalah persambungan diri sebagai komunikasi akhir dengan mempergunakan senjata tajam yang berupaya menjatuhkan lawan masing-masing untuk merebutkan sosial prestise sabagai imbalan dari simpanan tekanan perasaan yang dimiliki masing-masing pelaku. “Jadi carok itu perkelahian satu lawan satu atau kelompok lawan kelompok. Waktunya direncanakan bersama dan membawa senjata serta tidak ada wasit,” katanya.

Mengapa mereka melakukan carok? Menurut Suroso, masyarakat Madura mempunyai pandangan adat bahwa carok itu lambang kepahlawanan dan kebanggaan. “Pelaku carok bermaksud menghilangkan aib akibat pola tingkah laku seseorang yang mungkin dianggap mencemarkan martabat harga diri keluarga dan pribadi,” katanya.

Pakaian Adat Madura

artikel tentang: Pakaian Adat Madura

judul artikel: Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

 

 

Indonesia kaya dengan berbagai macam ragam kebudayaan, setiap daerah di Indonesia pasti mempunyai ciri khas masing-masing termasuk pakaian khas daerah.

Nama pakaian

  • Bagian atas : Baju Pesa’an.
  • Bagian bawah : Celana Gomboran.

Perlengkapan pakaian :

 Bagian kepala :

  • Odheng santapan, bahan kain batik biasa, motif telaga Biru atau Storjoan, Warna merah soga. Ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. seperti pada umumnya ikat kepala yang Bentuk berbentuk segitiga.
  • Odheng tapoghan, bahan kain batik biasa, motif bunga atau lidah api. warna merah soga, ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuk : seperti pada umumnya ikut kepala yang berbentuk segitiga, hanya di bagian atas kepala tidak tertutup.

Pakaian bagian atas :

  • Baju Pesa’an Bahan kain cina (dahulu) kain Lasteng tiu, atau Tetoron (sekarang), motif  polos Warna hitam, ukuran serba longgar tidak pas badan, ukuran pinggang dan pipa celana lebar, menyerupai sarung bila dibentangkan, panjang celana sampai mata kaki. Adapun ciri khas dari celana Gomboran ini pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti pada umumnya celana panjang bia­sa tetapi tidak memakai kolor.
  • Sarong Bahan : sarong Samarinda memakai bahan sutra sedang sarong plekat terbuat dari katun. Motif : ke-2 sarong bermotif kotak-kotak besar ± 5 cm, warna sarong samarinda berwarna menyolok mema­kai benang emas, sedang sarong plekat berwarna dasar putih dengan kotak-kotak berwarna biru atau hijau, ukuran seperti pada umumnya sarong yang lain. Bentuk : seperti pada umumnya sarong yang lain.
  • Ikat pinggang sabbuk katemang Raja atau sabbuk katemang kalep, bahan kulit sapi, motif polos, warna coklat atau hitam, ukuran seperti pada umumnya ikat pinggang yang lain, bentuk lebar ada kantung di depannya untuk menyimpan uang.

Senjata terbagi atas beberapa jenis :

  • Gelati cap garupu/ mata buatan Jerman. Bahan : besi baja Motif : polos Wama : warna besi baja. Ukuran : vang terpanjang 40 cm. Bentuk : seperti pisau dapur, pada umumnya hanya ujungnya runcing.
  • Piol adalah Gobang yang kecil Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : pas dengan badan. Bentuk : seperti pisau dapur pada umumnya.
  • Are/Sabit atau clurit, merupakan senjata kelas menengah Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : beratnya rata-rata 450 gr. Bentuk : seperti sabit atau clurit pada umumnya. Are/sabit terbagi atas beberapa kelas.
  • Takabuan terbuat dari besi tempaan bermutu terbuat dari besi bekas keris sehingga pamornya tampak. motif  polos, warna besi, ukuran paruhnya pas lengkung perut, bentuk  melengkung seperti bulan sabit, namun agak lebar di bagian tengah dan tebal di punggungnya. Mata pisaunya (paruhnya) lebar dan kemudian mengecil ke arah ujungnya (ujungnya berbentuk lancip). Takabuan biasanya tidak bersarung kecuali yang berukuran kecil. Hanya bagian paruhnya yang ditutupi oleh sarung yang terbuat dari kulit atau rotan (Madura : Selotong).
  • Lancor ayam/bulu ayam atau Kembang toroy/kembang turi, bahan, loyang biasa hasil tempaan pandai besi, se­dang gagangnya terbuat dari kayu sawo, motif polos , warna paruhnya berwarna besi dan gagangnya ber­warna coklat, bentuk melengkung seperti ekor ayam jago, bagian paruhnya sempit, makin ke ujung makin runcing, ga­gangnya bulat panjang seperti bentuk Takabuan dan biasanya diberi paksei tembus agar lebih kuat, namun ada juga pakseinya yang tidak besi baja polos
  • Gobang Bahan besi baja, motif  pada umumnya tembus, warna besi, ukuran  lebih besar dari piol, bentuk : seperti pisau dapur.
  • Calo Montor merupakan senjata kelas berat, bahan besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan (racun). Motif polos, warna hitam (warna besi), bentuk seperti are tapi mempunyai gagang kayu yang panjang. Calo Montor, macamnya antara Lain :(1.) Amparan/Labasan Bahan Besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan. warna besi. Motif polos Ukuran beratnya rata-rata 11 ons. Bentuk seperti Calo Montor tetapi paruhnyamenghadap ke luar. (2.) Clonot Bahan motif polos Warna warna hitam besi Bentuk sama seperti Calo Montor tetapi paruh­nya menghadap ke dalam.

Alas kaki : Terompah bahan  kulit sapi,  ukuran  sesuai dengan ukuran kaki si pemakai, bentuk terbuka tetapi di bagian ujung depan dan belakang terdapat suatu tali sebagai penjapit yang terbuat dari bahan sama. Fungsi alat penjepit ini untuk pengikat antara ibu jari dengan jari yang lain.

Cara memakai pakaian: mula-mula dikenakan celana Gomboran. Caranya setelah ke dua kaki masuk ke kaki celana, kemudian bagian atas celana dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digu- lung dari atas seperti halnya memakai sarong, sampai panjang ce­lana menjadi 3/4. Sebagai penguat celana memakai sabbuk Katemang Raja (bagi orang kaya) atau sabbuk katcmang kalep. Ke- mudian untuk bagian atasnya dipakai baju kaos. tetapi kadang- kadang ada yang tidak. Setelah itu baru dikenakan baju Pesa’an. Lalu mengenakan odheng santapan atau odheng Tapoghan. Ada- pun cara mengenakan odheng Tapoghan •

Setelah tepi dilipat maka puncak kain diletakkan terbalik (bagian yang lebar berada di bawali). Puncak kain tersebut di taruh di sebelah kiri atau kanan kepala. Jika si pemakai berjalan maka puncak kain yang lebar itu bila tertiup angin akan menepuk (Madura : Napok) si pemakai odheng Tapo- ghan. Sedang jika memakai odheng Santapen, di bagian atas kepala terbuka sedikit sehingga rambutnya kelihatan. Selain memakai baju Pesa’an dan celana Gomboran, ada juga yang melengkapinya dengan sarong. Bila orang itu mampu, ia memakai sarong Samarinda dan orang biasa memakai sarong plekat. Adapun cara memakainya bila sarong disampirkan di bahu namanya eka sandang dan bila di lilitkan di pinggang namanya eka samhung.

Fungsi pakaian

Pakaian dapat berfungsi praktis bila dilihat dari bentuknya yang serba sederhana, bebas dan ringkas. Pakaian ini tidak hanya dapat dipakai untuk ke acara remo (resmi) tetapi juga dapat dipergunakan di rumah. Fungsi lainnya lagi adalah estetis. Apabila dilihat warnanya, warna merah-putih pada kaosnya kontras dengan warna baju pesa’an yang berwarna hitam. Selain ke dua fungsi itu, masih ada fungsi yang lain, yaitu fungsi khusus. Fungsi ini merupakan cermin dari nilai budaya lokal Madura khususnya untuk rakyat biasa.

Fungsi Sarong

Selain sebagai perlengkapan ibadah (sholat), dapat pula digu- nakan sebagai hiasan baju dengan sara disampirkan di bahu.

Arti simbolis :

Kaos lorek merah-putih mempunyai arti bahwa manusia berasal dari Bopo-Biyung (bapak-ibu). Selain itu warna merah dan putih dengan garis yang tegas melambangkan kegagahan, dari jiwa dan semangat berjuang yang gigih. Berjuang dalam melawan musuh maupun mencari naf- kah.

Warna pakaiannya yang hitam mempunyai arti simbolis sesuatu yang murni. Theori di sini berarti dalam segala tindakan orang Madura tidak ragu-ragu, menunjukkan suatu ketegasan hidup. Apa yang diperbuat sudah diper- hitungkan secara matang.

Deskripsi Tentang Pulau Madura

artikel tentang: Deskripsi Tentang Pulau Madura

judul artikel: Gambaran Umum Pulau Madura

 

 

Pulau Madura tak hanya terkenal dengan makanan khasnya atau sumber daya alamnya saja. Namun Pulau mungil ini menyimpan banyak ciri khas yang lain.

1. Keadaan Geografis

 Pulau Madura terletak di timur laut pulau Jawa, kurang lebih 7 derajat sebelah selatan dari khatulistiwa di antara 112 derajat dan 114 derajat bujur timur. Pulau itu dipisahkan dari Jawa oleh Selat Madura, yang menghubungkan Laut Jawa dengan Laut Bali. Moncongnya di barat laut agak dangkal dan lebarnya tidak lebih dari beberapa mil laut.

  Secara geologis Madura merupakan kelanjutan dari pegunungan kapur yang terletak di sebelah utara dan di sebelah selatan Lembah Solo. Bukit-bukit kapur di Madura merupakan bukit-bukit yang lebih rendah, lebih kasar, dan lebih bulat daripada bukit-bukit di Jawa dan letaknya pun lebih menyatu. Puncak tertinggi di bagian timur Madura adalah Gunung Gadu (341 m), Gunung Merangan (398 m), dan Gunung Tembuku (471 m).

Iklim  di Madura bercirikan dua musim, musim barat atau musim hujan selama bulan Oktober sampai bulan April, dan musim timur atau musim kemarau. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama—di  lereng-lereng yang tinggi letaknya justru kebanyakan, sedangkan di lereng-lereng yang rendah malahan kekurangan—membuat Madura kurang memiliki tanah yang subur. Hanya di daratan aluvial dan di tanah liat bercampur kapur di dataran tinggi yang terdapat cukup curah hujan saja persawahan yang permanen atau sementara dimungkinkan. Sebagian besar tanah yang diolah tediri dari tegalan yang terutama menghasilkan jagung dan singkong. Hanya selama musim hujan saja lahan-lahan kering ini dapat ditanami. Di selatan, lahan-lahan yang sama sekali tidak subur digunakan untuk pembuatan garam. Sudah sejak lama Madura terkenal sebagai daerah penghasil garam yang penting.

2. Demografi

Mayoritas masyarakat Madura merupakan masyarakat agraris. Kurang lebih 90% penduduknya hidup terpencar-pencar di pedalaman, di desa-desa, di dukuh-dukuh, dan kelompok-kelompok perumahan petani. Pulau ini memiliki empat kota, dari barat ke timur berturut-turut yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Kota-kota tersebut adalah sekaligus ibukota kabupaten yang membagi daerah itu dengan menggunakan nama yang sama. Kota-kota itu berada di tengah-tengah daerah yang subur dan letaknya berdekatan dengan pantai. Pada zaman yang lampau, di tempat-tempat ini terdapat keraton yang merupakan kota kediaman raja-raja. Jauh sebelum orang Belanda tiba di kepulauan Indonesia, tempat kediaman raja-raja itu telah tumbuh menjadi kota-kota kecil, yang disamping tak terhitung banyaknya pegawai dan pelayan istana, juga dihuni oleh ratusan tukang, para pemilik toko kecil, dan para pedagang. Kota keraton ini merupakan pusat kebudayaan, ekonomi, dan pemerintahan kerajaan Madura.

3. Mata Pencaharian

Mata pencaharian penduduk Madura adalah bertani dan beternak. Akan tetapi hasil pertanian tidak dapat menghidupi seluruh penduduknya sehingga sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pedagang, nelayan dan pembuat garam. Kurangnya kesuburan tanah dan pengairan yang tidak memadai, menyebabkan banyak penduduk Madura yang bermigrasi ke pulau Jawa dengan alasan utama untuk mencari nafkah. Proses perpindahan ini melaui bermacam saluran seperti perdagangan, pelayaran, penangkapan ikan dan ekspedisi militer. Alasan lain penduduk Madura bermigrasi, menurut J.Van Goor yang dikutip oleh Sutjipto, adalah untuk menghindarkan diri dari wajib militer, pemerasan atau tekanan dari bupati dan dari perlakuan hukum yang semena-mena. Karena itu, sampai saat ini banyak dijumpai orang Madura di daerah Jawa Timur.

Gambaran Umum Kota Sumenep

Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di propinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093.45 km² dan populasi ±1 juta jiwa. Ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Terletak di ujung timur pulau Madura, Sumenep memiliki sebuah keraton keluarga kerajaan Madura, Cakraningrat. Kabupaten Sumenep selain terdiri dari wilayah daratan juga terdiri dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau. Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian yang terletak di Kecamatan Masalembu dan pulau yang paling Timur adalah Pulau Sakala. Sumenep memiliki batas-batas sebagai berikut: sebelah selatan berbatasan dengan Selat Madura, sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan, sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa / Laut Flores.

Keraton Sumenep, tanpa memperhitungkan bangunan-bangunan tambahan, kandang-kandang dan ruang-ruang yang lain, memiliki 133 rumah dan pendopo, yang selain dari raja, para keluarganya yang terdekat dan para gundiknya, juga merupakan tempat kediaman dari hampir dari semua para bangsawan dan para pegawai tinggi istana. Di luar tembok keraton, terdapat beberapa kampung dengan kehidupan penduduknya yang  langsung atau tidak langsung tergantung pada istana. “Orang-orang timur asing”, seperti orang Cina, Arab, dan Melayu bertempat tinggal di lingkungan yang terpisah dengan pemimpin mereka sendiri. Dalam jarak yang dekat, kota itu dikelilingi oleh sejumlah desa yang termasuk dalam daerah kota.

 

Berbagai Macam Kebudayaan Asli Madura

artikel tentang: Berbagai Macam Kebudayaan Asli Madura

judul artikel: Jenis-jenis Kebudayaan Madura

 

 

Banyak kebudayaan yang dilestarikan di berbagai daerah seperti halnya Pulau Madura. Berikut berbagai jenis kebudayaan khas Madura:

1. Kebudayaan Macopat (Mamaca)

Macopat atau juga ada yang menyebutnya dengan mamaca, merupakan kebudayaan madura yang juga bisa dikategorikan berbentuk kesenian. Tembang yang ditulis dengan bahasa jawa ini dilantunkan dengan syair-syair tertentu, atau juga yang dikanal dengan istilah tembeng.

Biasanya dalam pembacaan macopat ini terkadang diringi dengan alunan musik, dan yang sering dengan menggunakan seruling.

2. Ritual Ojung

Pelaksanaan ritual Ojung dalam bentuknya sejenis permainan yang melibatkan dua orang untuk beradu fisik dengan dilengkapi media rotan berukuran besar sepanjang 1 meter sebagai alat memukul.ritual ini biasanya diselenggarakan agar segera turun hujan dan terhindar dari malapetaka akibat kekeringan musim kemarau.Dan biasanya diiringi dengan musik yang jarang dijumpai di daerah lain yang terdiri dari 3 buah dung-dung (akar pohon siwalan) yang dilubangi di tengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca serta satu alat musik kleningan sebagai pengatur lagu.

3. Kebudayaan Rokat Tase’ (Petik Laut)

Tradisi ” Rokat Tase’ ” dilakukan untuk mensyukuri karunia serta nikmat yang diberikan oleh sang maha pencipta yaitu Allah SWT. Dan juga agar diberikan keselamatan dan kelancaran rezeki dalam bekerja.Ritual atau tradisi tersebut, biasanya dimulai dengan acara pembacaan istighotsah dan tahlil bersama oleh masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama setempat.Setelah itu, masyarakat melepaskan sesaji ke laut sebagai rasa ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun isi dari sesaji itu adalah ketan-ketan yang berwarna-warni, tumpeng, ikan-ikan, dan lain sebagainya. Ritual atau tradisi tersebut disebut ” Rokat Tase’ ” oleh penduduk setempat.

4. Kebudayaan Okol

Okol, istilah warga Madura untuk menyebutkan olahraga gulat tradisional.Tradisi okol biasa dilakukan pada saat musim kemarau berkepanjangan melanda. Namun apabila kita lihat baik dari tujuan maupun pelaksanaannya okol hampir sama dengan kebudayaan ojung

5. Kebudayaan Rokat

Kebudayaan Rokat yang ada di Madura dilakukan dengan maksud jika dalam suatu keluarga hanya ada satu  orang laki-laki dari lima bersaudara (pandapa lema’), maka harus diadakan acara Rokat. Acara Rokat ini biasanya dilaksanakan dengan mengundang topeng (nangge’ topeng) yang diiringi dengan alunan musik gamelan Madura dan sembari dibacakan macopat (mamaca).

Macam-macam Upacara Selamatan Orang Madura

artikel tentang: Macam-macam Upacara Selamatan Orang Madura

judul artikel: Jenis Upacara Selamatan Pada Masyarakat Madura

 

 

Masyarakat Madura terkenal memang suka merayakan acara-acara tertentu, seperti halnya acara selamatan yang bersifat sakral.

Jenis-jenis upacara Selamatan yang ada kepentingannya dengan pencegahan penyakit pada masyarakat Madura dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
Aburdah (menambah ketenangan /kekuatan batin bagi orang yang sakit) dan Rabu bekasan (yang didoakan untuk pengobatan penyakit).
Rokatan  Rokat asal kata barokah, umumnya dilakukan di bulan Muharram tgl 1 atau 10 yaitu rokat pekarangan, rokat bumi. Dengan tujuan mengharap terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan, nasib buruk dan segala bentuk gangguan kejahatan. Rokat pekarangan sejajar tidak ditanam, sedangkan rokat bumi sejajar ditanam.
Rokat Prakarya  dan Rokat Bumih  Dua jenis rokat ini hampir sulit dibedakan, di suatu daerah rokat bumih dianggap rokat prakarya demikian sebaliknya. Akan tetapi di daerah Dasuk dipahami rokat prakarya dilakukan dengan sesajen ayam yang disembelih tetapi bagian ayam telah dikubur sedangkan. Sedangkan rokat bumih menurut masyarakat Dasuk bagian ayam dan sesajen lainnya ditanam kebumi. Sedangkan cara melakukannya relatif tidak ada perbedaan.
Rokat Beliunih Upacara selamatan ini dilakukan untuk mengembalikan kebahagiaan dan harta yang hilang ketika meninggalnya salah satu keluarganya. Beliunih artinya kembali asal dilakukan pada hari ke-7 dari kematiannya. Cara melakukan sama dengan rokat diatas perbedaannya: ayam tidak usah dipilih yang berbulu tertentu, tidak ada yang ditanam, tidak ada jarum, telur dan ramuan. Do’a sama yang dilakukan
Rokat ngalle  Upacara ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu keberkatan hidup di suatu tempat yang baru ditempati dirumah baru. Ngalle artinya pindah, menurut Bapak Nasibah desa Gadu Barat, cara-caranya sama dengan rokat pekarangan, tetapi secara jelas belum kami ketahui karena adat ini sudah jarang dilakukan
Rokat Disah Upacara rokatan ini adalah selamatan untuk keamanan desa dan terhindarnya dari serangan penyakit mendadak biasanya dilakukan di tengah desa. Belum ditemukan cara-cara yang sebenarnya karena sudah jarang dilakukan dan dirubah pada cara-cara Islami yaitu dengan menghatamkan Al-Qur’an di Masjid. Dilakukan oleh 30 orang, kebagian membaca 1 juz do’anya sama dan makanan terserah kesepakatan masyarakat tanpa ada cara-cara yang berbau mistis, biasanya diawali dengan pembacaan al-Fatihah pada Nabi, sahabat, thabi’ien, waliyullah, para guru dan sesepuh desa yang sudah meninggal, kemudian baca Al-Qur’an sendiri-sendiri setelah selesai baca do’a pangrokat ditambah  do’a khatmil Qur’an (do’a yang ada diakhir surat-surat Al-Qur’an ) baru kemudian makan bersama.
Rokat petik laut Yaitu selamatan para pelaut karena banyaknya ikan yang bisa ditangkap berupa sesajen makanan dan kepala hewan yang dibawa ketengah laut dan ditenggelamkan cara yang sebenarnya belum diperoleh informasi yang falid karena letaknya jauh dari jangkauan kami.
Rokat sangke Bumih Adalah suatu selamatan yang mirip rokat pekarangan ditujukan untuk memperoleh keselamatan di suatu tempat yang sering terjadi kecelakaan dilakukan pada tanggal yang disukai. Do’anya sama dan tanpa ada peralatan yang ditanam, air ramuan menggunakan air kumkuman yang dibuat dari air dicampur bidan dan bunga-bungaan. Sesajen yang diletakkan diambil dari makanan yang dimasak. Sedangkan ayam yang disembelih berbulu apa saja asal didada dan leher bagian bawah hingga ekor bawah berbulu orange atau dikenal dengan ayam sangke bumih.
Ajenneng Adalah suatu prosesi untuk mengawinkan suatu bangunan dengan bumi yang ditempati kalau dulu tiang kayu dikawinkan dengan pondasi dilakukan agar penghuni rumah senang menempati rumah tersebut yang diwujudkan dengan rajinnya seseorang merawat rumah seperti menyapu tiap hari dan lainsebagainya. Ajennang suatu rumah biasanya biasanya dilkukan setelah rumah tersebut selesai dibangun para peserta upacara dalah para tukang bangunan yang telah melakukan pengajian rumah hingga selesai.

Tradisi Turun Tanah Ala Orang Madura

artikel tentang: Tradisi Turun Tanah Ala Orang Madura

judul artikel: Tradisi Turun Tanah, Sambut Bayi Berusia 7 Bulan

 

 

 

Indonesia memang kaya sumber daya alam yang berlimpah, begitu juga dengan tradisi masyarakatnya yang begitu kental. Karena orang Madura sangat menjaga tradisi yang telah diturunkan nenek moyangnya sejak dahulu kala.

Masyarakat Madura memiliki ritual khusus yang dilakukan untuk menyambut usia 7 bulan pada seorang bayi yakni tradisi toron tanah (turun tanah). Sesuai namanya saat itulah bayi dilambangkan untuk pertama kalinya menginjak tanah.

Dalam prosesi, bayi akan menginjak bubur yang terbuat dari beras merah bercampur santan yang diyakini akan membuat sang bayi kuat dan kokoh menapaki kehidupan.

Salah satu tradisi sakral yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Madura adalah tradisi toron tanah (turun tanah) yang biasanya dilakukan pada bayi mungil yang berusia 7 bulan.

Tradisi ini digelar sebagai bentuk harapan agar kelak anak bisa menjadi orang yang berguna. Sebelum acara digelar, bayi dimandikan terlebih dulu. Sedangkan tamu – tamu yang diundang dalam tradisi ini adalah anak – anak. Tokoh masyarakat kemudian diminta membacakan zikir dan doa bersama.

Setelah doa selesai, bayi dibiarkan mengambil barang – barang yang disediakan didepannya seperti buku, pulpen, tasbih dan Al Qur’an agar kelak anak menjadi rajin, pintar dan tumbuh menjadi anak yang sholeh.

Proses ritual selanjutnya adalah menginjak bubur. Hal ini memiliki makna tersendiri agar kaki sang bayi kuat dan kokoh saat berjalan. “Tradisi ini merupakan turun temurun yang harus dilaksanakan agar sang bayi menjadi orang kuat dan bijaksana” ujar seorang tokoh masyarakat.

Bayi yang telah merayakan tradisi turun tanah diperbolehkan menyentuh tanah serta bermain dengan anak – anak sebayanya ditandai dengan makan bubur bersama. Diakhir acara, anak – anak ini diberi sentuhan sapu lidi dengan harapan anak tidak nakal dan patuh terhadap orangtua.

Sumber Daya Alam Asli Pulau Madura

artikel tentang: Sumber Daya Alam Asli Pulau Madura

judul artikel: Sumber Daya Alam Madura

 

 

Selama ini Madura hanya dikenal sebagai Pulau Garam, suatu komoditas yang kurang menarik. Madura juga diidentikkan dengan lelucon-lelucon konyol dan juga makanan khas Sate Lalat (sate berukuran kecil). Yang lebih memprihatinkan, Madura dianggap sebagai Jago Carok, sebuah kata yang membanggakan sekaligus memilukan. Membanggakan karena melambangkan sifat ksatria, dan memilukan karena menunjukkan tingkat pendidikan dan toleransi yang minim.

Tidak banyak yang menyadari, termasuk Putra/i Madura sendiri, bahwa bumi Madura menyimpan kekayaan alam berupa tambang yang sangat berharga seperti Gas Alam (Liquid Natural Gas, LNG). Padahal sudah beberapa tahun ini LNG (dan mungkin juga Minyak Bumi) telah di-bor (drilled) dan disalurkan ke wilayah Industri di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, dll.

Sebagian kita mungkin masih ingat bahwa pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1992, api PON diambil dari Api Tak Kunjung Padam yang berada di Kabupaten Pamekasan, Madura. Api Tak Kunjung Padam adalah salah satu fenomena kecil yang menunjukkan bahwa bumi Madura mengandung begitu banyak sumber Gas Bumi, hingga ke permukaan daratan (on-shore). Di taman wisata Api Tak Kunjung Padam pengunjung dapat menyalakan api hanya dengan korek api, langsung dari permukaan tanah, tanpa bahan bakar apapun.

Bagaimana halnya dengan di lautan (off-shore)? Fakta menunjukkan bahwa saat ini LNG dari Madura telah memasok 60% kebutuhan Industri di Jawa Timur, di mana LNG tersebut diambil dari wilayah kepulauan Kangean yang disalurkan melalui pipa laut sejauh 450 km ke arah pulau jawa. Belakangan diketahui bahwa sudah direncanakan (dan diimplementasikan) pembuatan pipa laut ke arah Bali.

Lantas bagaimana dengan masyarakat madura? Adakah mereka sudah menikmati insentif yang seimbang dengan apa yang disumbangkan oleh Bumi Madura kepada Nusantara? Sebuah pertanyaan besar.

Temuan di lapangan menunjukkan ketidakadilan terhadap masyarakat sekitar pertambangan, mulai dari harga pembebasan lahan, penyediaan listrik, transparansi pembagian pusat-daerah, dan pelayanan masyarakat yang lain.

Penambangan di laut (on-shore) memang lebih mudah menghindar dari sorotan masyarakat perkotaan. Tetapi masyarakat kepulauan bukan masyarakat yang bisa dibodohi. Tipikal masyarakat madura yang cekatan, pemberani, dan transparan telah membuka fakta-fakta ketidakadilan tersebut.

 

Bermacam-macam Dialek Bahasa Madura

artikel tentang: Bermacam-macam Dialek Bahasa Madura

judul artikel: Bahasa dan Dialek Madura

 

 

Bahasa Madura menurut kebanyakan orang sangat unik dan berbeda dengan lainnya. Mereka dikenal sangat terbuka dan mudah memiliki teman.

Orang Madura terkenal dengan gaya bicara yang blak-blakan dan logat yang kental, memiliki sifat temperamental dan mudah tersinggung. Mereka berbicara dalam bahasa Madura, yang digunakan sebagai bahasa utama orang Madura. Walaupun kediaman orang Madura berada di wilayah Jawa, tapi banyak orang Madura yang tidak bisa berbahasa Jawa. Pada umumnya mereka bisa berbahasa Indonesia, tapi dengan dialek Madura yang kental.

Bahasa Madura mempunyai penutur yang terpusat di pulau Madura, Ujung Timur pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, kepulauan Kangean, kepulauan Masalembo hingga di beberapa daerah di pulau Kalimantan.

Bahasa Madura banyak dipengaruhi bahasa Jawa, Melayu, Bugis dan Tionghoa. Pengaruh bahasa Jawa terlihat dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Sumatra, tapi dengan lafal yang berbeda.

Bahasa Madura memiliki sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang lain yang ingin mempelajari bahasa Madura akan mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.

Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, yaitu:

  1. Dialek Bangkalan
  2. Dialek Sampang
  3. Dialek Pamekasan
  4. Dialek Sumenep
  5. Dialek Kangean

Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura.

Di pulau Jawa, dialek-dialek tersebut seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.