Wisata Kuliner Ikan Bakar Khas Sumenep Bangkalan

Berkunjung ke Madura belum lengkap rasanya apabila Anda tidak menyambangi Museum Keraton Sumenep. Lokasinya terletak di tengah kota, di Jalan Dr. Sutomo, Sumenep, tepatnya di belakang Keraton Sumenep. Museum ini menyimpan beragam peninggalan bersejarah dari Keraton Sumenep dimana sebagian besar merupakan peninggalan bangsawan Sumenep Dan Bagi Anda yang suka ikan bakar segar tidak perlu lagi bingung mencarinya.

Kini, di Jalan Lingkar Timur Kota Sumenep, Madura, Jawa Timur menjadi tempat penjualan ikan tongkol bakar yang masih segar.

Disepanjang jalan tersebut banyak warga yang menjual dengan berbagai macam ukuran. Anda tinggal menunggu beberapa saat untuk proses pembakaran.

Anda juga akan dimanja dengan aroma bumbu yang menggoda. Tak ayal, jika diantara pembeli terlihat asyik beramai-ramai menikmati ikan tongkol bakar diatas alas tikar seadanya.

Para penjual pun menyediakan nasi putih, minuman, krupuk dan kecap sebagai campuran bumbu bila ingin dimakan disana.

Satu ikan tongkol bakar berukuran kecil di patok Rp8 ribu. Ada yang Rp10 ribu – Rp17 ribu per ekor. Harga bumbu plus kecap Rp3 ribu dan nasi putih Rp3 ribu.

Ikan tongkol segar dipasok oleh nelayan asal Kecamatan Ambunten dan Pasongsongan. Setiap hari, para penjual ini buka dari siang hingga jam 12 malam.

“Jam 2 siang sudah buka, kalau saya tutup jam 12 malam,” kata Buk Ennur, salah seorang penjual ikan tongkol bakar asal Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Senin (26/1/2015).

Setiap harinya, ia mengaku mampu menjual ikan tongkol bakar sampai 200 ekor. Di saat ramai mampu terjual hingga 250 ekor dari berbagai ukuran.

Jalan Lingkar Timur, awalnya dikenal dengan jalan cinta, karena setiap saat selalu ada muda-mudi yang terlihat bermesraan. Namun, sejak ada pelebaran jalan, muda-mudi itu tak terlihat lagi.

Kini muncul puluhan penjual ikan tongkol bakar segar. Mayoritas berasal dari Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Sumenep.(Hartono)

” PUMARA ” Pusat Makanan Rakyat Bangkalan

 
Kabupaten Bangkalan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, Bangkalan ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura dengan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur serta Selat Madura di selatan dan barat.
 
Di bangkalan ini mempunyai makanan khas, makanan khas yang tekenal di nusantara salah satunya Sate madura,soto madura,rujak madura. pernahkah anda mencicipinya?

Pusat Makanan Rakyat Bangkalan – Seperti halnya di tempat lain, Madura pun memiliki sebuah tempat pusat jajanan yang selalu menjadi tujuan dan daya tarik bagi setiap wisatawan yang datang. Pusat makanan rakyat atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama “PUMARA” ini merupakan pusatnya para pedagang kaki lima untuk menjual berbagai macam masakan khas Madura.

Lokasi Dan Transportasi

Bukanlah hal yang sulit untuk mencari letak pusat makanan rakyat Bangkalan ini karena lokasinya yang berada tepat di tengah kota Bangkalan, persisnya terletak di dekat alun-alun Kota. Karena lokasinya yang strategis maka tidak pula sulit untuk mencari transportasi umum yang menuju kesini.

Anda bisa naik angkot yang banyak tersedia di Kota, ongkosnya pun tidak begitu mahal, hanya dengan membayar Rp 3.000*) anda sudah bisa tiba di lokasi pusat makanan rakyat Bangkalan ini. Alternatif lain anda bisa naik ojek, untuk ongkosnya akan ditentukan dari jauhnya jarak yang di tempuh, jadi anda dapat tawar-menawar harga terlebih dahulu sebelum naik ojek tersebut.

Jika anda berencana untuk berkeliling ke tempat wisata lainnya dahulu sebelum berwisata kuliner di PUMARA maka pilihan yang baik adalah dengan menyewa kendaraan, apalagi jika anda datang berombongan, tentunya tidak ingin direpotkan dengan masalah transportasi bukan ?. Di Kota Bangkalan banyak tersedia jasa penyewaan mobil yang bisa anda gunakan.

Harga sewanya bermacam-macam, tergantung dari jenis mobil yang akan anda sewa. Rata-rata jenis mobilnya seperti APV, Avanza, Xenia dan Innova. Tarifnya dimulai dari harga Rp 500.000*) – Rp 600.000*) per harinya dengan waktu pemakaian selama 12 jam. Harga tersebut biasanya sudah termasuk dengan sopir dan bahan bakar untuk dalam Kota, jadi anda tidak perlu bingung lagi mencari rute jalan karena sopir yang membawa mobil sudah sangat paham dengan jalur yang akan dilewati menuju lokasi wisata.

Wisata

Pusat makanan rakyat di Bangkalan merupakan tempat semua pedagang kaki lima menjajahkan masakannya. Saking banyaknya anda pun akan menemukan beberapa pedagang yang berjualan di atas trotoar sekitar PUMARA. Jadi dapat anda bayangkan sendiri bagaimana keramaian yang ada disana.

Apalagi keberadaannya yang sangat strategis, membuat pengunjung banyak yang datang. Tidak hanya masyarakat sekitar bahkan wisatawan yang berkunjung ke Madura pun sering kali menyempatkan diri untuk berwisata kuliner disini.

Ada banyak jenis makanan dan minuman yang dijual di PUMARA, dapat dikatakan makanan disini sangat lengkap dan komplit. Anda dapat memilih menu yang diinginkan seperti misalnya nasi goreng, gado-gado, ayam goreng, soto dan sate ayam khas Madura yang sudah sangat terkenal itu. Beberapa jajanan pun turut dihidangkan seperti martabak, roti, kue, tahu isi dan beberapa jenis jajanan lainnya.

Untuk masalah harganya anda tidak perlu khawatir karena harga yang ada di PUMARA ini rata-rata sangat bersaing dan masih cukup terjangkau oleh masyarakat. Seperti misalnya untuk harga seporsi capcay, anda cukup membayarnya dengan harga Rp 9.000*). Cukup terjangkau bukan ?

Yang lebih menyenangkan adalah disini disediakan tempat bagi anda yang ingin menyantap makanan saat itu juga. Tidak perlu khawatir soal kenyamanan karena anda dapat duduk bersantai disini sambil menikmati hidangan. Jika butuh tambahan lainnya, anda tinggal memanggil penjualnya maka mereka pun akan datang menghampiri.

Bagi anda yang membawa kendaraan pun tidak perlu khawatir karena disini disediakan pula lahan parkir yang dikelola dengan sangat baik, dijamin kendaraan anda akan aman serta tidak akan pusing dengan kemacetan saat hendak pulangnya nanti. Pusat makanan rakyat di Bangkalan ini akan mulai ramai saat menjelang sore sampai tengah malam sekitar pukul 03.00 WIB. Sedangkan jika pagi hari tempat ini akan terlihat sepi, hanya ada beberapa pedagang yang hanya menjual snack dan minuman ringan.

Keberadaan pusat makanan rakyat ini sangat membantu bagi setiap wisatawan yang ingin mencicipi kuliner khas Madura. Jika anda ingin mencicipi berbagai masakan khas Madura yang ada maka anda tidak perlu lagi berkeliling untuk mencarinya karena semua sudah berada di satu lokasi yaitu di PUMARA.

Tips
1. Bawa dan jagalah barang anda, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Sebaiknya datanglah kesini saat menjelang malam karena pada jam tersebut warung-warung baru saja buka sehingga menu makanan yang disajikan masih banyak dan hangat.

3. Sempatkan diri anda untuk mencicipi masakan khas Madura dan jangan lupa untuk membeli beberapa jajanan sebagai oleh-oleh di rumah nantinya.

4. Jika anda membawa kendaraan pribadi sebaiknya beri kunci tambahan. Walaupun sudah ada lahan parkirnya namun tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.

Berwisata kuliner merupakan liburan sekaligus hobi yang menyenangkan. Apalagi jika kita sudah mencicipi masakan tradisional khas daerah setempat. Jika anda berencana ingin berlibur ke Madura maka pastikan PUMARA ini masuk dalam destinasi wajib yang harus anda kunjungi.

Setelah seharian berkeliling ke tempat wisata lainnya kemudian di akhiri dengan makan bersama di tempat ini tentunya akan menjadi hal yang sangat menyenangkan sekaligus memuaskan. Selamat berwisata!

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu

Kebudayaan Madura , Dan Mengenal Harga Diri, Dalam Masyarakat Madura

Pada masyarakat dan kebudayaan manapun pasti dikenal apa yang disebut sebagai harga diri, baik dalam konsep individual maupun kelompok, tidak terkecuali dalam masyarakat dan kebudayaan Madura. Tulisan ini mencoba memahami dan membahas konsep harga diri dalam masyarakat dan kebudayaan Madura dengan cara antara lain melihat hubungan relasionalnya dengan beberapa peristiwa sosial budaya yang secara empirik terjadi dalam kehidupan sehari-hari orang Madura.

Orang Madura akan merasa malo atau terhina jika harga dirinya dilecehkan oleh (atau sebagai akibat dari) perbuatan orang lain. Pelecehan harga diri ini sama artinya dengan pelecehan terhadap kapasitas diri mereka. Padahal kapasitas diri seseorang secara sosial tidak dapat dipisahkan dengan peran dan statusnya (social role and status) dalam struktur dan sistem sosial yang berlaku. Peran dan status sosial ini dalam prakteknya tidak cukup hanya disadari oleh individu yang bersangkutan melainkan harus mendapat pengakuan dari orang atau lingkungan sosialnya. Bahkan pada setiap bentuk relasi sosial antara orang yang satu dengan yang lainnya harus saling menghargai peran dan status sosial masing-masing. Tapi ada kalanya hal ini tidak dipatuhi. Bagi orang Madura tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui atau mengingkari peran dan status sosial sama artinya dengan memperlakukan dirinya sebagai orang tada’ ajhina (tidak bermakna secara sosial dan budaya) yang pada gilirannya menimbulkan perasaan malo.

Dalam bahasa Madura selain kata malo juga terdapat kata todus. Dalam bahasa Indonesia kedua kata ini selalu diterjemahkan sebagai malu. Tapi, dalam konteks kehidupan sosial budaya Madura, antara malo dan todus mempunyai pengertian yang sangat berbeda. Malo bukanlah suatu bentuk lain dari ungkapan perasaan todus. Pada dasarnya todus lebih merupakan suatu ungkapan keengganan (tidak ada kemauan) melakukan sesuatu karena adanya berbagai kendala yang bersifat sosial-budaya. Misalnya, menurut adat kebiasaan yang berlaku di Madura seorang menantu ketika sedang berbicara dengan mertuanya tidak boleh menatap wajahnya secara langsung. Semua menantu akan merasa todus jika berbicara kepada mertuanya dengan cara seperti itu. Jika hal itu dilakukan maka secara sosial menantu tersebut kemudian akan disebut sebagai orang ta’ tao atoran atau janggal (tidak mengerti etika kesopanan) sehingga menimbulkan perasaan todus (tidak tahu malu).

Dengan demikian, biasanya todus muncul dari dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan dirinya sendiri yang menyimpang dari aturan-aturan normatif. Sebaliknya, malo muncul lebih sebagai akibat dari perlakuan orang lain yang mengingkari atau tidak mengakui kapasitas dirinya sehingga yang bersangkutan merasa menjadi tada’ ajhina. Orang Madura yang diperlakukan seperti itu sama artinya dengan dilecehkan harga dirinya kemudian mereka akan selalu melakukan tindakan perlawanan sebagai upaya untuk memulihkan harga diri yang dilecehkan itu. Kadangkala tindakan perlawanan atau resistensi tersebut cenderung sangat keras (dalam bentuk ekstrimnya adalah pembunuhan) tergantung pada berat ringannya pelecehan harga diri yang dialami. Suatu ungkapan yang berbunyi ango’an poteya tolang etembhang poteya mata (lebih baik mati daripada harus menanggung perasaan malo) menunjukkan indikasi tentang hal itu.

Tindakan resistensi yang sangat keras biasanya tidak akan terjadi pada orang Madura yang berada dalam situasi atau merasa todus karena yang bersangkutan tidak merasa dilecehkan harga dirinya. Dengan demikian ada tidaknya tindakan pelecehan harga diri merupakan indikator penting untuk membedakan antara todus dan malo. Dalam realitas sosial budaya, pada umumnya todus cenderung hanya mencakup lingkup individual, sebaliknya malo dapat tereskalasi ke lingkup yang lebih luas (keluarga dan masyarakat). Hal ini biasanya terjadi apabila menyangkut gangguan terhadap isteri.

Bagi orang Madura, tindakan mengganggu kehormatan isteri selalu dimaknai sebagai tindakan arosak atoran (merusak tatanan sosial). Itu sebabnya, gangguan terhadap isteri akan dimaknai pula sebagai pelecehan terhadap harga diri secara kolektif. Perasaan malo akibat terjadinya gangguan terhadap isteri yang akhirnya bersifat kolektif tersebut selain memiliki relasi sangat signifikan dengan sistem perkawinan matrilokal dan uxorilokal atau kombinasi antara keduanya yang masih berlaku dalam masyarakat Madura juga tercermin dalam pola pemukiman taneyan lanjhang, formasi struktur rumah tradisional, serta tradisi kin group endogamy. Makna substantif dari semuanya ini, perempuan Madura selalu mendapat perhatian serta proteksi kultural secara khusus mulai dari lingkup keluarga sampai ke lingkup sosial. Ini semua pada akhirnya menjadi faktor penguat terjadinya resistensi yang sangat keras berupa pembunuhan terhadap orang yang melakukan gangguan pada isteri.

Memahami konflik yang berpangkal pada pelecehan harga diri orang Madura akan semakin proporsional dan kontekstual bila dipahami pula dua konsep penting yang berkaitan dengan relasi sosial yang dibangun orang Madura yaitu teman (bhala, kanca) dan musuh (moso). Konsep teman merujuk pada relasi sosial dengan derajat keakraban pada taraf tertentu hingga ke derajat paling tinggi; sebaliknya, konsep musuh merupakan perwujudan relasi sosial tanpa keakraban sama sekali atau paling tidak pada taraf paling rendah. Dengan kata lain, kehidupan harmonis muncul karena dominannya semangat pertemanan (friendship); sebaliknya, kondisi kehidupan yang bernuansa konflik ditandai oleh dominasi perasaan permusuhan (enmity).

Menurut pengertian orang Madura, bhala selain menunjuk pada pengertian teman juga menunjuk pada orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan sehingga bhala sering kali diartikan identik atau sama dengan taretan.

Dengan demikian, taretan dalem (kerabat inti atau core kin) sering kali disebut juga sebagai bhala dalem; sedangkan taretan semma’ (kerabat dekat atau close kin) sebagai bhala semma’ dan taretan jhau (kerabat jauh atau peripheral kin) sebagai bhala jhau. Dalam konteks ini ada bhala dalam arti taretan atau diistilahkan dengan “bhala taretan” dan ada pula bhala dalam arti bukan termasuk taretan atau dalam terminologi lain biasa disebut kanca (teman). Kanca bisa berasal dari berbagai macam lingkungan sosial, di antaranya teman dari lingkungan ketetanggaan (kanca tatanggha), teman dari lingkungan kerja (kanca lako), teman dari lingkungan remo (kanca remo), dan dari lingkungan sosial lainnya.
Mereka yang dikategorikan sebagai kanca adalah orang-orang yang saling terikat oleh hubungan sosial dan emosional. Jika kualitas hubungan yang terjalin sebatas hubungan pertemanan biasa orang Madura menyebutnya kanca biyasa, tapi jika kualitas hubungan menjadi akrab disebut kanca rapet. Bahkan jika kualitas hubungan sampai mencapai tingkatan yang sangat akrab sehingga hampir tidak berbeda dengan hubungan persaudaraan maka kanca atau kanca rapet dapat dianggap dan diperlakukan juga sebagai anggota keluarga atau taretan.

Sebaliknya, adakalanya anggota keluarga (taretan termasuk taretan ereng, persaudaraan karena adanya ikatan perkawinan) dapat dianggap dan diperlakukan sebagai oreng (bukan keluarga) jika kualitas hubungan kekerabatannya sangat rendah misalnya karena adanya perselisihan dengan anggota keluarga yang lain. Hal yang demikian dalam ungkapan bahasa Madura disebut oreng dhaddhi taretan, taretan dhaddhi oreng (artinya: orang lain yang bukan keluarga dapat dianggap sebagai saudara, sebaliknya saudara sendiri dapat dianggap sebagai bukan keluarga). Bahkan jika perselisihan tersebut menyebabkan hilangnya hubungan kekerabatan maka tidak mustahil anggota keluarga tersebut dianggap sebagai moso (musuh). Dalam situasi semacam ini, tidak tertutup kemungkinan terjadinya konflik kekerasan intra-keluarga. Dengan demikian, kualitas hubungan yang terjalin sangat ditentukan oleh kualitas pengakuan sekaligus penghargaan terhadap kapasitas diri masing-masing individu.

Kebalikan daripada teman (bhala) adalah musuh (moso). Moso dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu moso dalem dan moso lowar. Moso dalem adalah musuh dari lingkungan keluarga sendiri, sedangkan moso lowar adalah musuh yang tidak mempunyai ikatan kekeluargaan atau bukan dari lingkungan keluarga sendiri. Baik moso lowar maupun moso dalem masih dibedakan lagi antara moso mata dan moso ate.

Moso mata adalah seseorang atau sekelompok orang yang secara terang-terangan diperlakukan sebagai musuh sehingga konflik dapat meledak dimana saja dan kapan saja. Itu sebabnya, masing-masing pihak harus selalu dalam keadaan waspada dan siap siaga mengantisipasi terjadinya segala kemungkinan terburuk (konflik kekerasan). Moso ate adalah seseorang atau sekelompok orang yang dalam pergaulan sehari-hari tidak secara terang-terangan diperlakukan sebagai musuh tapi diperlakukan seolah-olah sebagai teman. Bahkan adakalanya hubungan pertemanan terkesan sangat erat bagaikan sahabat karib (kanca rapet). Tanda-tanda atau isyarat-isyarat permusuhan sama sekali tidak diperlihatkan. Akibatnya, biasanya orang yang sebenarnya adalah musuh ini menjadi lengah terhadap ancaman tindakan kekerasan yang akan menimpanya.

Konsep bhala dan moso dalam makna yang hampir sama dikenal juga oleh masyarakat Sulu – khususnya suku Tausug di Filipina Selatan dari suatu hasil penelitian antropologis tentang kekerasan (violence) yang pernah dilakukan oleh Thomas M. Kiefer (1972). Pertemanan (friendship, bagay) dan permusuhan (enmity, bantah) merupakan dua konsep yang selalu muncul dalam organisasi sosial masyarakat ini. Kiefer merinci macam-macam pertemanan dan permusuhan tersebut menjadi sembilan kategori, yaitu: bagay (close friend); bagay magtaymanghud (ritual friend or “friend like brother”); bagay-bagay (casual friend); gapi (ally); bantah (enemy); tau hansipak (opponent); tindug (retainer or follower); bata’an (bodyguard); dan tau ha ut (neutral).

Pada masyarakat suku Tausug selain terlihat secara jelas perbedaan antara kekerabatan (kinship) dan pertemanan (friendship) namun ada kalanya kedua konsep tersebut dimaknai sama sebagaimana yang dikenal dalam masyarakat Madura. Dalam masyarakat suku Tausug hal itu disebut bagay magtay manghud (teman bagaikan saudara) sedangkan dalam masyarakat Madura, sebagaimana telah disinggung di bagian lain di muka, tercermin dalam suatu ungkapan: oreng dhaddhi taretan.

Dalam konteks itu, satu hal sangat penting yang perlu disadari dan dipahami adalah makna hubungan pertemanan dalam masyarakat Madura – demikian pula dalam masyarakat suku Tausug – senantiasa dilandasi oleh semangat resiprokal. Dengan demikian, apabila hubungan pertemanan semacam itu dikelola dengan baik dan senantisa dijadikan semangat, referensi dan landasan dalam kehidupan sosial oleh orang Madura, maka konflik (kekerasan) sudah pasti dapat diantisipasi dan sekaligus dicegah sedini mungkin. Pada gilirannya, kehidupan sosial orang Madura niscaya akan selalu dalam suasana yang nyaman, sejuk, dan teduh penuh kedamaian sebagaimana makna ungkapan rampa’ naong, baringen korong

Tulisan diatas menyalin dari : Harga Diri dalam Masyarakat dan Kebudayaan Madura | Lontar Madura http://www.lontarmadura.com/harga-diri-masyarakat-kebudayaan-madura/#ixzz3PoTK1ECa
Harap mencatumkan link sumber aktif

Woww ,, Di Sumenep Ada Wisata Pakaian

Sumenep adalah nama salah satu Kabupaten diujung paling timur Pulau Madura, yang konon katanya merupakan Kadipaten berpangaruh atas lahirnya Kerajaan Majapahit dahulu. Berdirinya Kabupaten ini tak luput dari peran tokoh zaman kerajaan yang bijaksana dan pintar yakni “Arya Wiraraja”.

Bila Anda berkunjung ke salah satu sumber air di Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur akan melihat banyak pakaian dalam pria maupun wanita yang digantung di pohon bambu.

Pakaian dalam, semisal CD dan BH tersebut sengaja dibuang oleh pemiliknya sebagai “tumbal” setelah melakukan ritual dengan cara mandi di sumber tersebut.

Para pengunjung tidak semuanya melaksanakan ritual mandi. Hanya bagi mereka yang menderita penyakit kulit yang sudah bertahun-tahun tidak kunjung sembuh.

Dengan cara mandi di sumber air yang terasa bau belerang menyengat itu, diyakini penyakit kulit yang diderita akan sembuh atas ijin Allah.

Tidak hanya cukup mandi. Mereka juga membuang pakaian dalam dengan cara digantungkan di pohon bambu tak jauh dari lokasi sumber.

Ritual ini sudah menjadi kepercayaan turun-temurun jika penyakit kulit yang diderita ingin sembuh total. Bahkan, diantara mereka ada yang membawa airnya untuk mandi di rumah.

Lokasi sumber ini tidak sulit dijangkau, karena ada dipinggir jalan provinsi, tepatnya di perbatasan Kabupaten Sumenep-Pamekasan. (Hartono)

Tips Merawat Batik Madura Yang Baik

Menggunakan batik telah menjadi hal yang umum untuk warga negara Indonesia. Di hari-hari tertentu Anda diwajibkan menggunakan batik.

Agar batik awet, warnanya tidak luntur dan tak cepat nampak kusam serta tidak cepat rusak, berikut panduan cara merawatnya yang di sampaikan oleh Dhani Budidarma, perancang pakaian muslim asal Solo.

Untuk teknik pencucian batik, ia menganjurkan untuk menjauhi penggunaan deterjen. Kalau orang zaman dahulu umum menggunakan lerak untuk mencucinya. Tetapi, sekarang ada bahan spesial untuk mencuci batik yang di jual di pasaran.

“Produk spesial ini dipakai agar warnanya terus bagus, ” kata pemilik brand Lhe-Marikoe, dikutip PortalMadura.Com dari Republika Online.

Sehabis dicuci, tentu mesti dikeringkan. Dhani mengingatkan agar Anda menjauhi penjemuran di bawah cahaya matahari langsung.

Sementara untuk jarik batik, umumnya dicelup kanji agar kaku. Dan agar lebih gampang di wiru, umumnya bila ingin dipakai jaritan (bawahan kebaya tempo dahulu).

Dari sisi penyimpanan, agar awet serta harum di beri pandan (orang Solo menyebutnya rangkaian dari pemberian kanji sampai dengan di beri pandan di sebut ratus). Kanji tadi dipakai agar tak kusut. Jadi terhindar dari panas setrika.(Hartono

pusat oleh-oleh dan cinderamata khas Sumenep

Asal usul Nama dan Berdirinya Kabupaten Sumenep
Sumenep adalah nama salah satu Kabupaten diujung paling timur Pulau Madura, yang konon katanya merupakan Kadipaten berpangaruh atas lahirnya Kerajaan Majapahit dahulu. Berdirinya Kabupaten ini tak luput dari peran tokoh zaman kerajaan yang bijaksana dan pintar yakni “Arya Wiraraja”.
Dalam tulisan kali ini, Warta Giligenting mencoba mengingatkan akan sejarah Sumenep dilihat dari asal usul nama “Sumenep”.
Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur telah meresmikan pusat oleh-oleh dan cinderamata khas Sumenep, Senin (19/1/2015).

Ada 141 macam produk kerajinan yang disajikan, baik daratan maupun yang berasal dari kepulauan.

Lokasinya ada di pusat kota Sumenep, tepatnya di Gedung Ki Hajar Dewantara Sumenep, Jalan Trunojoyo, nomor 141.

“Untuk sementara, gedung ini (Ki Hajar Dewantara, red) kita gunakan untuk pusat oleh-oleh khas Sumenep,” terang Bupati Sumenep A Busyro Karim.

Ia berjanji, pada tahun 2015 akan membangun gedung lain yang lebih layak sebagai pusat oleh-oleh. “Produk lokal Sumenep itu sudah banyak dan sudah bagus untuk dijual kepasaran. Makanya, sekecil apapun kita harus memulai,” katanya.

Pada pembukaan pusat oleh-oleh yang diberi nama “Wiraraja” ditandai dengan penggguntingan rangkaian melati oleh Ketua TP PKK Sumenep Nurfitriana Busyro Karim.

Ada 141 macam produk yang disajikan, semisal kain batik, kaos, camelan, minuman legen tanpa pengawet, buah-buahan dan aksesoris serta kerajinan produk unggulan lainnya

 

Tempat Wisata Menakjubkan Di Pulau Garam Madura

Mulai Beroperasinya Jembatan Suramadu beberapa tahun lalu, berpengaruh dengan meningkatnya jumlah Wisatawan yang berkunjung ke Madura. Para wisatawan tersebut memadati sejumlah objek wisata yang sudah terkenal di Madura. Seperti Pantai Slopeng, Pantai Lombang dan sejumlah lokasi lainya yang tersebar di Seluruh Madura.

Tapi disisi lain banyak wisatawan yang mengeluh tidak banyaknya lokasi wisata yang dapt di kunjungi di Pulau Madura. Padahal Sebenarnya banyak lokasi objek wisata yang dapat menjadi alternatif wisata di Pulau Madura. Umumnya lokasi objek wisata tersebut belum di kenal banyak orang kareana letaknya sedikt tersembunyi dan jauh dari pemukiman warga.

Berikut ini empat objek Wisata yang tersembunyi di Madura:

Air Terjun Kokop, Bangkalan

Lokasinya cukup terpencil berada di Desa Durjan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan. Walaupun letaknya terpencil namun Air Terjun ini menyajikan keindahan yang luar biasa, dengan tinggi sekitar 10 meter dari permukaan tanah. Anda akan di manjakan dengan keasrian alam sekitar Air Terjun yang masih alami.

Sayangnya akses menuju Air Terjun ini sulit dijangkau jika menggunakan kendaraan, wisatawan harus berjalan kaki beberapa kilometer sebeum mencapai lokasi, sleian itu anda harus menempuh jalan diantara pematang sawah.

Air Terjun Bungliyas, Pamekasan

Masyarakat sekitar menjulukinya, Air terjun yang berada di perbatasan 3 desa yakni Desa Kertegenah Tengah, Kertagenah Dajah dan Bungbaruh di Kecamatan Kadur ini mengalir dari ketinggian sekitar 7 meter yang berasal dari sungai yang mengalir di atas bukit Bungliyas.

Untuk menuju Air Terjun Bungliyas, para wisatawan harus menumpuh perjalanan sektiar 25 km arah timur Kota Pamekasan. Untuk menuju ke lokasi ini tidaklah sulit. Kondisi jalan cukup mulus dan bisa dilalui kendaraan roda dua dan mobil, bahkan mobil bisa diparkir di lokasi yang agak dekat.

Pantai Badur, Sumenep Madura

Wisata Pantai Badur Kecamatan Batuputih, Sumenep, yang berjerak 30 km dari jantung kota Sumenep ke utara membutuhkan pembangunan infra struktur dari pemerintah daerah.

Pantai Badur yang memiliki Goa dan pertemuan air tawar dengan air laut menjadi ciri khas tersendiri. Pohon cemara udang disepanjang pantai dan pasir putih yang bersih membuat pengunjung betah berlama-lama.

Gili Labak, Sumenep

Gili Labak merupakan salah satu objek wisata di Madura yang mulai bersinar setelah beragam media nasional merekam keindahan Pulau yang terletak sebelah timur Kota Sumenep ini.

Keindahan Pulau Gili Labak, Desa Kombang Kecamatan Talango Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sulit ditemui di daerah lain. Untuk sampai ke pulau tersebut, para pengunjung perlu menyeberang terlebih dahulu ke pulau Poteran Kecamatan Talango melalui pelabuhan Kalianget, Sumenep.

Dari pelabuhan Kalianget, bisa naik kapal tongkang dengan jarak tempuh sekitar 20 menit, kemudian sesampainya di Kecamatan Talango, langsung menuju Desa Kombang dengan jarak tempuh sekitar 40 menit. (deny)

Keindahan Pulau Giligenting Di Kab. Sumenep

foto Ian Paperline

Karena walaupun giligenting hanya merupakan kepulauan kecil namun masyarakatnya aman, tentram, dan sejahtera, walaupun sebagian masyarakatnya harus merantau ke kota untuk membuka usaha disana demi membangun kehidupan yang lebih baik. Terbukti dengan bangunan bangunan atau rumah rumah penduduk yang sudah permanen, sedangkan dulunya hanya rumah rumah bambu, atau dalam istilah bahasa madura giligenting roma tabing. 
Di ujung timur Pulau Giligenting, tepatnya di Desa Gedugan, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur terdapat pantai yang masih belum tersentuh tangan-tangan jahil manusia. Indahnya panorama alam yang asri dan menyenangkan serta keunikannya, terletak di pucuk bukit.

Sebuah pantai dengan kekhasan dan keunikannya di alam bebas sangat menjanjikan untuk dinikmati siapapun yang berkunjung ketempat itu. Pengunjung akan disuguhi dengan bebatuan yang unik di bibir pantai, hamparan pasir yang putih dan kesejukan alamnya serta terdapat kuburan zaman penjajahan belanda, sehingga menarik pengunjung  untuk berfoto ria, melepas kepenatan dari aktifitas sehari-hari.

Pengunjung juga akan diajak keliling pantai menaiki perahu menikmati alunan arus ombak yang bersahabat sambil lalu memancing bagi penghobi mancing. Untuk sampai di pucuk Pantai Kahuripan, pengunjung akan melalui jalanan yang di penuhi dengan pepohonan di kanan kiri, sehingga tidak akan terasa panas dalam perjalanan serta mudahnya akses menuju pantai.

Bagi anda yang ingin berlibur untuk menikmati keindahan alam Pantai Kahuripan, dapat ditempuh dari Pelabuhan Tanjung, Saronggi, Sumenep. Dari pelabuhan rakyat ini akan dibawa oleh perahu layar motor dengan jarak tempuh 45 menit dalam kondisi cuaca normal.(Rahman/htn

Mengenal Karakteristik Sapi Madura

Sapi Madura adalah salah satu sapi potong lokal yang asli Indonesia, pada awalnya banyak didapatkan di Pulau Madura, namun sekarang sudah menyebar ke seluruh Jawa Timur.

Sapi Madura pada mulanya terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu, yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak.

Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (Anonimus, 1987). Karakteristik sapi Madura sudah sangat seragam, yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas ; bertanduk khas dan jantannya bergumba.

Ciri-ciri umum fisik Sapi Madura 
  1. Baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata. 
  2. Paha belakang berwarna putih. 
  3. Kaki depan berwarna merah muda. 
  4. Tanduk pendek beragam. 
  5. Pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm. 
  6. Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil. Secara umum, Sapi
Beberapa Keunggulan Sapi Madura

 

  • Mudah dipelihara. 
  • Mudah berkembangbiak dimana saja.
  • Tahan terhadap berbagai penyakit. 
  • Tahan terhadap pakan kualitas rendah. 
Dengan kelebihan-kelebihan tersebut , Sapi Madura banyak diminati oleh para peternak bahkan para peneliti dari Negara lain. Sudah banyak Sapi Madura dikirim ke daerah lain, apabila tidak diperhitungkan dengan baik, bisa jadi populasi Sapi Madura di pulau Madura akan terkuras serta mengancam kemurnian ras-nya. Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura, memang mempunyai tempat yang khusus. Jasanya terhadap para petani tidak dapat dipandang sebelah mata. Tanah pertanian yang tandus tetap dapat ditanami dengan bantuan Sapi. Alat transportasi yang sulit didapat dipedalaman Madura juga dapat teratasi dengan tenaga sapi yang di padukan dengan pedati, yang di sebut dengan “Sapi Pajikaran”.
 
 
Bukan hanya mempunyai tempat khusus di kehidupan para petani di Madura, Sapi Madura juga membawa pengaruh terhadap tradisi budaya yang memberikan efek positip terhadap kelestarian Sapi Madura ini. Sapi Madura berjenis kelamin jantan, dimanfaatkan sebagai “Sapi Kerapan”, sebagai bagian dari budaya tradisi pertanian ,yang nantinya menjadi salah satu aset pariwisata yang penting di tanah Madura

Wisata Kuliner ” Bebek Songkem ” Khas Sampang

Berkunjung ke suatu tempat akan terasa kurang lengkap apabila tidak mencicipi kuliner khas ditempat tersebut. Begitu pula halnya jika anda berkunjung ke Kabupaten Sampang salah satu dari empat kabupaten yang ada di Madura. “Bebek Songkem” sudah mulai di kenal sebagai makanan khas Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Bebek yang dimasak dengan cara di kukus sudah akrab dengan lidah masyarakat setempat, bahkan orang luar Madura mulai banyak menyukai masakan yang satu ini.

Proses pengukusan memang perlu orang yang terampil. Sebab, cara meramu rempah perlu memahami takaran bumbu, sehingga sesuai dengan rasa semua kebutuhan para pecinta kuliner. Bila cara memasaknya benar, membuat daging terasa empuk dan lezat. Bahkan, menghilangkan kadar kolesterol dan lemak.

Para pengusaha kuliner bebek songkem di Kabupaten Sampang sudah merata dan tidak di dominasi oleh masyarakat Desa Taddan, Kecamatan Camplong yang menjadi embrio munculnya makanan bebek songkem ini.

Harganya juga bervariasi. Tergantung pada pesanan para pecinta kuliner. Ada yang disajikan dengan utuh, yakni satu menu bebek besar dipatok Rp 100.000 (Seratus ribu rupiah) sampai Rp 120.000 (seratus dua puluh ribu rupiah) dan cukup untuk empat orang.

Sedangkan menu bebek yang di potong-potong berkisar Rp 80.000 (Delapan pulu ribu rupiah) sampai Rp 100.000 (Seratus ribu rupiah) dan cukup untuk dua orang.

Berbagai rasa disajikan oleh para pengusaha kuliner. Anda tinggal pesan yang sangat pedas, atau sekedar ada cabainya.

Untuk mendapatkan bebek songkem tidaklah sulit. Hampir disudut-sudut kota Sampang sudah tersedia, semisal di Jalan Agus salim (Tanglok), Jalan Trunojoyo, Jalan Rajawali, Jalan Khasyim As’ari, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Wakhed Hasyim. Selamat menikmati Bebek Songkem, Kuliner Khas Sampang.

Mengenal Pulau Madura Dan Wisata Kuliner Nya

Kuliner Jawa Timur sangatlah unik, apakah anda tahu sebagian besar Kuliner dari Jawa Timur berasal dari Pulau Madura. Apa saja wisata kuliner dari Madura ini, silahkan disimak.

Mengenal Madura dan Masakannya

Sejak adanya jembatan Suramadu, pulau Madura semakin terbuka dan aktifitas pergerakan antara Surabaya dan Madura semakin ramai. Datang ke Madura yang sebelumnya harus ditempuh dalam waktu minimal 45 menit dengan ferry, sekarang hanya dibutuhkan 5 menit melintas di jembatan Suramadu. Masyarakat luarpun semakin mengenal Madura yang memang spesifik dari segi bahasa, adat istiadat, budaya dan juga masakannya. Masakannyapun, disetiap kabupaten yang ada di Madura mempunyai perbedaan. Madura mempunyai 4 kabupaten yaitu, dari arah barat ke timur, Bangkalan – Sampang – Pamekasan dan Sumenep.

Yang sudah sangat terkenal mengenai masakan Madura, sudah pasti Sate dan Soto Madura. Untuk Soto, disetiap kabupaten juga mempunyai ciri khas. Kabupaten Bangkalan, soto-nya biasanya adalah Soto Daging dan Jerohan. Di Sampang, hampir sama dengan Bangkalan, cuman sepengetahuan saya, Soto tidak terlalu dikenal di Sampang. Untuk Pamekasan dan Sumenep, biasanya adalah Soto Ayam.

Masakan Madura lain yang mulai dikenal adalah Bebek dan Bubur Kacang Ijo. Bisa dikatakan bahwa sebagian besar penjual nasi Bebek yang ada di Surabaya kebanyakan berasal dari Madura. Sedangkan untuk Bubur Kacang Ijo Madura, yang anehnya, saya lebih banyak menjumpai penjual makanan ini di daerah Jabotabek.

Kadang, semacam ada ‘perbatasan’ masakan. Masakan Kaldu yang banyak dijumpai di Pamekasan dan Sumenep, tetapi saya belum pernah menjumpainya di Bangkalan. Sedangkan masakan Bebek yang banyak terdapat di Bangkalan dan Sampang, bisa dikatakan jarang ada di Pamekasan dan Sumenep.

Warung atau RM yang saya tampilkan didalam blog ini hanya yang benar-benar authentic masakan Madura. Di Madura, sekarang sudah mulai banyak Rumah Makan dengan masakan yang umum seperti Rawon, Nasi Pecel, Nasi Campur (Jawa), Masakan Padang, Masakan China yang juga mudah dijumpai di daerah lain. Untuk Rumah Makan yang seperti itu, walaupun rasanya bikin ngiler setengah mati, tidak saya tampilkan.

Masakan Madura Pamekasan

Kabupaten Pamekasan, sejarahnya merupakan ‘ibukota’ Pulau Madura. Dulu pada waktu masih ada pemerintahan koordinatif karesidenan, kantor karesidenan Madura terletak di Pamekasan. Kota Pamekasan sendiri berjarak kurang lebih 80 KM dari jembatan Suramadu, sehingga dapat dicapai kurang lebih dalam waktu 1.5 jam.

Mencari tempat makan yang maknyus di Pamekasan relatif mudah. Pemkab Pamekasan berinisiatif menandai sejumlah tempat makan yang mempunyai kekhasan daerah dan (memang) relatif enak dengan papan bertuliskan ‘Wisata Kuliner – Pamekasan Kabupaten Batik’. Tempat makan yang telah ditandai tersebut telah saya coba dan memang enak dan khas. Yang paling penting kalo wisata kuliner di Madura, kantong juga tidak bakalan kempes, harga makanan relative murah.

Penelusuran wisata kuliner Pamekasan, dimulai dari pintu masuk perbatasan Sampang – Pamekasan, yaitu Tlanakan, nih dia:

RM Arwana    RM Citra

RM Arwana dan RM Citra

Terletak kurang lebih 2 KM dari pintu gerbang masuk Kabupaten Pamekasan, tepatnya di Desa Ambat Kecamatan Tlanakan. Letak 2 (dua) RM ini berdekatan dan macam jualannyapun relatif sama. Kalau saya sarankan RM Arwana lebih variatif, enak dan memang lebih banyak pengunjungnya. Menu yang ditawarkan beragam dan beberapa yang khas Madura adalah: Nasi Jagung, Telur Bumbu Tesola (tesola, singkatan dari pettes ola, artinya ‘petis yang udah diolah’), Kenduy Dadar (kenduy artinya teri, dadar teri) dan lainnya. Berbagai jenis ikan juga banyak, mulai dari Kakap, Cumi, Udang, Tenggiri, Kepiting dan lainnya. RM ini terletak di tepi laut, dan jenis ikan-nya sangat beragam. Diluar ikan juga ada Ayam dan Gulai Kambing. Harga juga relatif murah, dijamin tidak bikin kantong bolong.

Soto Patemon 

Rujak Patemon 

Warung Rujak Patemon terletak di Jalan Trunojoyo Gang Kelurahan No 115. Kalau dari arah Surabaya, pada waktu sudah masuk kota Pamekasan, terletak tak jauh setelah lampu merah kedua, di sebelah kanan jalan.

Warung Rujak Patemon hanya menyajikan 3 (tiga) menu makanan utama saja. Rujak, Bubur Rujak Madura (tersedia hanya waktu bulan Ramadlan) dan Soto Sumenep. Untuk Rujak dan Bubur Rujak Madura, keduanya adalah khas Pamekasan. Rujak Pamekasan memakai petis coklat sehingga bumbu rujaknya berwarna putih, beda dengan Rujak Bangkalan yang memakai petis warna hitam (udang) sehingga bumbu berwarna coklat pekat.

Selain bumbunya, yang khas dari Rujak Pamekasan adalah cingur dan kripik singkong-nya yang diulek jadi satu dengan sayuran lainnya.

Kalau Rujak Madura dimana bahan-bahannya setelah diulek kemudian dimasukkan juga lontong, sedangkan Bubur Rujak Madura, adalah bubur dengan topping rujak Madura. Yang saya ingat dari Bubur Rujak Madura ini adalah bulan puasa, karena dikeluarga saya, biasanya berbuka puasa dengan Bubur Rujak Madura.

Harganya murah, hanya Rp. 5.000,- per porsi.

Warung Kaldu

Warung KalduKaldu adalah makanan khas Madura khususnya daerah Sumenep, Pamekasan dan sebagian Sampang. Pengertian Kaldu biasanya adalah air rebusan dari ayam maupun daging saja. Sedangkan pengertian Kaldu disini sudah merupakan sajian makan komplit siap santap sama halnya seperti Rawon atau Soto. Yang dijadikan kaldu adalah kikil, ataupun kokot (bahasa Madura untuk kaki sapi). Kemudian dimasukkan juga kacang hijau, dan lontong. Beberapa teman saya yang berasal dari luar daerah maupun yang expatriate China juga jadi pelanggan tetap Warung Kaldu ini. Bagi petualang rasa, masakan ini memang benar-benar pantas untuk dicoba, really authentic cuisine!

Warung Kaldu ini terletak di Jalan Pintu Gerbang Pamekasan. Dari arah Surabaya, masuk kota Pamekasan, lurus sampai ke tugu Arek Lancor, yang merupakan landmark kota Pamekasan. Setelah melewati Masjid Agung Pamekasan, kemudian belok kiri, lurus dan pada saat lampu merah kedua, belok kanan. Warung ini terletak sekitar 100 M setelahnya.

  

Depot Nasi Jamila

Makan di Depot Nasi Jamila ini tidak seperti makan di Depot, Warung atau Rumah Makan. Mendatangi depot nasi ini seperti bertamu ke sebuah rumah saja. Di depot nasi ini tidak tersedia meja dan kursi makan serta perlengkapan seperti Sendok, Garpu, Kecap, Tisu ataupun Tusuk Gigi. Tetapi hanya kursi tamu dan meja tamu saja. Apabila ada pembeli datang, maka dipersilahkan, dan pelayan sekaligus pemilik warung ini akan masuk ke dapurnya, menghilang, dan kemudian datang dengan sejumlah piring nasi campur sesuai pesanan.

Depot ini terletak di Jalan KH Agussalim No 40. Dari arah ‘Arek Lancor’, setelah melewati Mesjid Agung Pamekasan, kemudian belok kanan melintasi gedung Ex Karesidenan Madura, lalu belok kiri. Setelah belok kiri, pas di pertigaan, di sebelah kiri terdapat tulisan ‘Depot Nasi Jamila’, dekat Bakso Goyang Lidah. Setelah itu, dibelakang Bakso Goyang Lidah, sedikit masuk kedalam, terdapat rumah khas Madura dengan cat warna kuning, pasti orang tidak akan menyangka kalau itu adalah Depot Nasi.

Hanya ada satu menu tunggal di Depot Nasi Jamila ini, yaitu Nasi Campur (sering disebut juga Nasi Jajan/Nasek Jejen). Nasi Campur Madura adalah nasi dengan lauk telur bumbu, dendeng dimasak kering, hati dan daging dengan bumbu seperti opor. Gak ketinggalan adalah sambal keringnya yang pedas dan semacam ‘srundeng’ yang terbuat dari gorengan kacang hijau. Yang enak dari nasi campur Madura adalah bumbunya, setiap lauknya mempunyai bumbu yang berbeda dan membuatnya kaya rasa. Harga untuk seporsi Nasi Campur ini adalah Rp. 10.000,-. Harga yang pantas untuk kepuasan rasa.

Lesehan Juko’ Tonoh

Pemkab Pamekasan memasukkan RM ini, termasuk salah satu ‘Wisata Kuliner’, kalo saya nilai sih tidak ada yang istimewa dari RM ini, maksudnya tidak ada masakan yang otentik Madura. Lesehan Juko’ Tonoh artinya Lesehan Ikan Bakar dalam bahasa Madura. Menu yang disajikan sama seperti RM ikan bakar lainnya. Pecel lele, Cumi, Udang dan semuanya dibakar. Dari segi rasa lumayan, gak ada salahnya dicoba. Salah satu keunggulannya karena tempatnya yang strategis, cukup luas dan enak dibuat nongkrong. Letaknya ada di Jl P Trunojoyo, dilapangan ex stasiun Kereta Api.

   

Toko Kue Selera

Toko Kue Selera terletak di Jl Diponegoro No 115. Kalau dari arah Surabaya, Jl Diponegoro terletak setelah belok kiri dari Masjid Jamik Pamekasan. Dan toko kue ini terletak disebelah kiri jalan.

Rasanya memang enak, dengan harga yang sangat terjangkau dimulai dari harga Rp 1.000,-. Sebagian besar adalah kue basah. Beberapa kue tradisional Madura yang dijual adalah Mentu (dari bubur yang kemudian dilapisi dengan cincangan sayur dan daging ditengah dan toppingnya) dan juga Ruggeg (atau martabak kering, sama seperti roti cane, tetapi kering, dimakan dengan diolesi madu atau tepung gula), sementara kue tradisional lainnya hampir merata juga sama diseluruh nusantara seperti lemper, kue lumpur, pastel, agar-agar jagung dan lainnya. Dengan tempat yang sederhana, kebersihan dari Toko Kue Selera ini tetap terjaga.

  

Soto Ayam Keppo

Sang empunya bercerita bahwa telah 26 tahun ia menekuni warung soto ayamnya ini. Nama yang disandang pertama adalah Warung Sido Muncul, yang diberikan oleh Kapolsek Galis (tempat warung ini berada) pada awal pendiriannya, katanya sih emang tempat ini jadi tempat nongkrong para polisi Polsek setempat. Sedangkan berubah Soto Keppo, merujuk pada desa tempat warung ini Keppo. Sekitar 10 km luar kota Pamekasan menuju arah Sumenep.

Walaupun terkenal dengan sebutan Soto Keppo, pada board petunjuk nama dari tempat ini adalah Warung SMU (Soto Madura Uassli). Soto Keppo adalah Soto Ayam Kampung. Ada irisan kentang, tambahan toge goreng, potongan-potongan ote-ote, irisan-irisan ayam dan terakhir ditambahkan sedikit mentega.

Benar-benar Soto yang berbeda, sangat berbeda dengan Soto Lamongan, Soto Betawi, Coto Makassar bahkan mungkin dengan Soto madura yang anda kenal. Soto Madura yang banyak dijual di luar Madura biasanya adalah Soto Madura Bangkalan, yang menggunakan Jerohan dan Daging.

 

 

 

 

Depot Hijau

Tak jauh dari Sot Ayam Keppo, hanya sekitar 3 KM ke arah timur menuju Sumenep tempat Depot Hijau ini berlokasi. Suasananya nyaman karena berada di tepi laut dan dekat dengan pantai Talang Siring (yang semakin tidak terawat, hehehe). Di pantai terebut banyak kita lihat jermal-jermal penangkap ikan yang lagi disandarkan. Suasananya hening, dengan semilir angin pantai, sangat damai.

Menu andalan dari Depot ini adalah ikan asap. Ada pilihan Kakap, Tenggiri ataupun Laosan. Menu lainnya seperti biasa sangatlah umum, ada ayam panggang ataupun Soto Ayam Madura. Cobalah ikan asap Laosan, rasanya enak, ikannya segar. Disajikan dengan sambal khas madura ‘ja cabbi‘, alias cabe rawit dengan garam saja. Ada satu hal yang harus dipersiapkan apabila pesan ikan asap disini, harus sabar!! Saya hitung ada sekitar 30 menit kita harus menunggu. Tapi untuk menu lainnya, terbilang cepat disajikan.

Sembari kita menunggu, kita bisa beli camilan khas Madura. Kue satu (orang Madura menyebutnya ‘Seladdru’) yang terbuat dari kacang ijo, enak banget dan fresh from the oven, karena toko ini sendiri yang membuatnya. Ato ada juga Kue ‘Serpot‘ (Bahasa Madura, kue yang terbuat dari tepung larut). Pilihan lain adalah Rengginang Lorjuk, Aneka Kripik baik mentah maupun matang. Kacang Mete, Oto’, dan kacang tanah goreng plus lorju. Harganya relatif murah dan tempatnya bersih.

Asal – Usul Asa Juruan Di Kec. Batuputih ” Sumenep “

Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan terkenal sebagai slah satu daerah tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih. Dari sisi geografis, keca matan Bayuputih terletak di dataran tinggi. Dari pu sat kota Sumenep berjarak ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak adalah kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak bisa dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehi dupan. Ternyata kalau dipandang dari faktor ekono mi di sekfor lain masih ada ladang garapan yong lebih menjanjikan jika benar-benar dimaksimalkan daripada pertanian yang kurang ‘ menguntungkan, Potensi ekonomi tersebut adalah objek wisata religi yang berada di dusun Jurak Lao’ Desa Juruan Daya Kecamatan Batuputih, tepatnya 5 km ke arah timur kantor kecamatan Batuputih. Letaknya yang tinggi membuat para pengunjung betah bertamasya rohani walaupun seharian karena selalu dihibur oleh sepoi ongin dari pohon-pohon besar di sekitar areal buju’ Jaruwon serta pedagang makanan kecil yang setiap saat setia menunggui para pengunjung. di lo kasi asta. Setiap pengunjung yang datang dijadikan kesempatan untuk meraup riski dengan menjajakan beberapa macam jajanan ataupun mainan. Bahkan ada beberapa orang yang sengaja menetap untuk sekadar berjualan di buju’ Jaruwon,
Asta atau makam Raden Fatah yang biasa di sebut “Asa Juruan” di Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur identik dengan tempat pesugihan.

Para pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Madura maupun dari tapal kuda di Jawa Timur oreintasinya ingin mendapatkan berkah dan ridla dari Allah, sehingga kondisi ekonominya semakin baik.

Bukti jika hajat mereka banyak yang dikabulkan oleh Allah, tidak sedikit diantara mereka yang membawa hewan ternak berupa sapi atau dalam bentuk uang puluhan juta seharga sapi sebagai tanda syukur.

Sapi tersebut diberikan pada pengelola atau penjaga asta tersebut. Tempo dulu, warga ramai berkunjung pada hari Jumat dan Selasa. Namun, dalam perkembangannya, setiap hari selalu ada tamu yang berkunjung dari berbagai daerah di Indonesia.

Siapa sebenarnya, makam Waliyullah yang ada di Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur ini
Raden Fatah wafat tahun 1470-an.
Dari penuturan warga setempat, lokasi asta dulunya hutan belantara. Asta tersebut ditemukan karena di daerah itu sering terjadi peristiwa mistik, Salah satunya ada penunggang kuda yang memba wa beras ternyata berubah menjadi garam, Sebab ketika itu ditanyakan oleh beberapa warga. Pe nunggang kuda itu bilang kalau yang dibawa adalah garam, Dari itulah muncul keinginan masyarakat setempat untuk.mengetahui penyebab yang timbul oleh adanya beberapa keanehan yang sering kali terjadi di daerah tersebut, Langkah yang dilakukan nya adalah melakukan ritual suci berupa tahlilan serta musik khas Madura saronen yang ditampil kan semalam suntuk. Warga datang berbondong-bondong ke lokasi ritual itu (salameddan ; Madura) dengan membawa berbagai macam sesaji berupa hasil panen, buah-buahan dan makanan pokok ser ta binatang ternakpun tak luput dibawa ke lokasi. Dari adanya selamatan itu datanglah ilham kepada salah satu pemuka agama bahwa di daerah itu , terdapat jasad seorang waliyullah yang meninggal saat bertapa dan minta dikuburkan di daerah terse but. Setelah pembangunan asta rampung, masih saja ada peristiwa mistik yang terjadi dituturkon oleh penjago asta bahwa setiap malam Jum’at legi (manis; Madura) di dalam asta terdengar ramai se kali seperti ada orang yang menabuh tiang-tiang penyanggah, Di dalam asta menurutnya, pada saat sedang ramai bujuk Jaruwan sedang berperang dengan buju’ Totale yang terletak di desa Lapa Daya Kecamatan Dungkek. Yang lebih aneh lagi, pohon jati yang dulu berada persis di depan buju’ Jaruwan ketika mau ditebang (1994) mengeluarkan darah serta di dalam pohon itu terdapat beberapa benda pusaka seperti keris dan tombak.
Raden Fatah (Pangeran Siding Margo) sendiri bukan asli Batuputih, melainkan seorang musofir asal Jawa Tengah. Dalam pengembaraan sucinya beliau meninggal tepatnya di goa pertapaan. Goa tersebut dinamakan goa pertapa (patapon ; Madu ra) karena raden Fatah meninggal saat sedang bertapa di goa itu. Lokasi goanya berada di atas pegunungon 150 m ke arah timur bujuk Jaruwan, Sebenarnya goa itu terlihat sempit akan tetapi dari beberapa orang yang pernah bertapa, kalau diteri ma akan menjodi lebar dan bisa tembus ke daerah lain seperti ke goa Badur (Batuputih), Pancor (Ba tang-Batang), goa Pajuddan (Guluk-Guluk) dan gunung Agung (Bali).
Di kaki pegunungan itu terdapat sumur tua namanya sumur Bulengan. Menurut cerita, sumur itu memancarkan air hanya dengan ditancapkan tombak di atasnya. Dulu, sumur tersebut menjadi tempat pemandian Raden Fatah sampai sekarang sumur itu masih terawat dengan baik bahkan dari desa-desa sebelah
mengangkut air dari sumur Bulengan. Sekitar 350 m ke aroh selatan dari sumur Bulengan ada se buah sumber air yang juga tempat permandian Raden Fatah ketika habis menggarap sawah. Ma syarakat setempat menyebutnya sumber Kappu wan. Karena dulu sumber air itu disumbat dengan Gong (Tappuwan ; Madura). Untuk menyumbat pusat semburon sumber air yang mengalir terlalu besar. Dikhawatirkan mengakibatkan banjir di daerah tersebut. Sekarang sumber Kappuwan masih terpelihara keasliannya, Lokasinya berada di desa Juruan Look tepat di belakng Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al-Wathan.
Itulah sekilas silsilah Raden Fatah (pangeron Siding Margo) beserta peninggalannya. Semoga kita semua sebagai generasi penerus diberi kesada ran untuk melestarikan khasanah kebuda yaan Indonesia, khususnya di Madura (Sumenep). Dan sebagai warga negara yang berbudaya, kita ditun tut , untuk menghargai sejarah, Kita ada kare na sejarah dan sejarah tetap lestari karena kita menun jung tinggi nilai-nilai sejarah. Bung Karno pernah berucap “Jangan sampai melupakan sejarah” (JASMERAH).
Semoga pitutur ini dapat dipetik hikmahnya. Diangkatnya buju’ Jaruwon sebagai salah satu objek wisata religi di Kecamatan Batuputih, diharapkan dapat mengangkat martabat Sumenep untuk menarik minat wisatawan baik asing atupun domestik. Amin ….

Makanan – Makanan Tradisional Madura

Siapa yang pernah ke madura pasti banyak yang tahu kalau masakan madura terkenal akan keunikannya dan pasti enak, mantap, maknyus deh.

Berikut Daftar Masakan Tradisional Madura

Tahu Campur

Tahu campur adalah makanan yang tak terpisahkan dengan petis udang, sebagai bumbunya. Petis udang dioleskan di piring, lalu diberi kuah sedikit untuk mengencerkan. Kemudian di atasnya diberi irisan tahu tipis-tipis, mi kuning, kecambah, irisan perkedel singkong, dan tak lupa untuk memperindah bentuk diberi taburan selada. Semua dicampur menjadi satu.
Untuk lauk pada tahu campur diberi potongan daging lamur, atau urat kaki sapi. Daging ini sebelumnya sudah direndam lama di dalam kuah. Inilah yang terkadang bikin kuah terasa sedap, agak berminyak, dan kuat aromanya.
Sajian itu belum lengkap, jika tanpa kerupuk udang dan sambal pedas yang menggoda. Semakin membuat orang yang menikmatinya semakin ketagihan dalam setiap sendokannya. Apalagi makanan ini, paling pas dinikmati pada sore hari selagi bersantai.

Rujak Cingur

Rujak cingur memang makanan khas Jawa Timur. Disebut Rujak Cingur, sebab salah satu bahan pelengkapnya memang Cingur. Anda sudah tahu apa itu Cingur? Ya, Cingur adalah bagian dari mulut atau moncong sapi. Tepatnya daerah sekitar hidung, bibir dan dagu sapi.
Beberapa penjual Rujak Cingur bahkan kerap memajang bagian Cingur secara utuh, lengkap dengan dua lobang hidung sapinya, agar pembeli bisa melihat bahwa cingur yang mereka gunakan adalah asli, bukan bagian kulit, atau kaki sapi.
Pelengkap lain dari Rujak Cingur adalah sayuran seperti kangkung, kecambah, kacang panjang, krai (sejenis ketimun) yang semuanya direbus.
Ada pula yang melengkapi Rujak Cingur dengan nanas, ketimun, tempe goreng, tahu goreng, juga bengkoang.
Bumbu atau saus yang dibubuhkan di atas berbagai bahan tadi terdiri atas, kacang goreng, cabai rawit, pisang klutuk muda (untuk memberi rasa sepet yang khas) dan tidak lupa adalah petis udang.
Ini yang membuat tampilan bumbu Rujak Cingur menjadi hitam dan mengeluarkan aroma khas yang harum. Semua bahan tersebut akan dihaluskan dengan cobek besar khas penjual rujak.
Lantas, pelengkap lainnya dari rujak tentu adalah krupuk. Dan siap sudah Rujak Cingur untuk Anda santap.
Harga per porsinya berkisar antara Rp. 10.000 sampai Rp. 50.000, tergantung tempat dimana Anda membelinya. Namun harga tersebut sepadan dengan sensasi rasa khas yang pasti tidak akan Anda lupakan.

Nasi Tumpang

Nasi tumpang adalah masakan asli daerah Kediri. Nasi tumpang adalah nasi yang menggunakan kuah berupa sambal tumpang.Sambal tumpang sendiri merupakan sambal yang dibuat dengan bahan baku tempe yang sudah basi (tempe bosok) dan dimasak dengan ayam serta kadang-kadang rambak (kulit sapi). Cara penyajiannya sama persis dengan nasi pecel yang sudah populer.
Tidak semua tempe bisa digunakan. Hanya daerah tertentu yang dapat menghasilkan tempe yang dapat basi sesuai dengan yang diinginkan. Tempe daerah Malang juga tidak bisa digunakan sebagai bahan sambel tumpang, karena tidak bisa basi sesuai dengan kriteria sambal tumpang. Kalaupun dipaksakan dibuat bahan, maka rasanya tidak dapat sesedap aslinya.
Nasi tumpang populer di daerah Kediri dan sekitarnya dan digunakan sebagai menu sarapan pagi, dijual di warung-warung makan di pagi hari yang hanya menjual nasi pecel dan nasi tumpang. Di pusat kota Kediri, tepatnya di Jalan Dhoho, setiap malam di atas pukul 21.00 WIB, setelah pertokoan tutup, seluruh trotoar di jalan itu menjadi warung lesehan nasi pecel dan nasi tumpang. Mirip dengan lesehan gudeg di jalan Malioboro Jogjakarta.

Rawon

Rawon atau nasi rawon (karena selalu disajikan dengan nasi) adalah menu berupa sup daging dengan bumbu khas karena mengandung kluwek. Rawon, meskipun dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur (seperti Surabaya), dikenal pula oleh masyarakat Jawa Tengah sebelah timur (daerah Surakarta).
Daging untuk rawon umumnya adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil. Bumbu supnya sangat khas Indonesia, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, dan lengkuas (laos), ketumbar, serai, kunir, cabai, kluwek, garam, serta minyak nabati. Semua bahan ini (kecuali serai dan lengkuas) dihaluskan, lalu ditumis sampai harum. Campuran bumbu ini kemudian dimasukkan dalam kaldu rebusan daging bersama-sama dengan daging. Warna gelap khas rawon berasal dari kluwek.
Rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge kecil, daun bawang, kerupuk, dan sambal.

Soto Lamongan

Soto Lamongan makanan khas dari Jawa Timur yang sering anda lihat di pelosok kampung, shopping mall besar , Pujasera, Depot , dan di dalam pasar. Soto adalah makanan rakyat terutama di Surabaya, biasanya orang menyajikan diwaktu siang dan malam. untuk marketnya dari kalangan bawah sampai menenga atas, harganya di antara Rp 6000,- sampai Rp 18.000,00 tergantung tempat dan lokasihnya.
Soto adalah sup ( warnanya kuning )

Lontong Balap

Selain rujak cingur, lontong balap merupakan ikon kuliner Surabaya. Asal mula nama lontong balap bermula ketika makanan ini masih dijual dalam gentong-gentong yang cukup berat. Hal ini membuat penjual harus berjalan cepat-cepat sehingga terkesan balapan. Makanan ini terdiri dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap dan sambal. Tidak ketinggalan juga sambal petis.

Tahu Tek

Tahu tek terdiri atas tahu goreng, kentang goreng, tauge, irisan ketimun dan kerupuk.Tahu dan kentang goreng dipotong kecil-kecil kemudian diberi bumbu yang terbuat dari petis, air, kacang tanah, cabe dan bawang putih.
Makanan khas Surabaya ini dinamakan tahu tek karena gunting yang digunakan untuk memotong tahu, kentang, telur berbunyi tek..tek..tek. Biasanya penjual tahu tek ‘berkeliaran’ pada malam hari.
Bahannya dari daging ayam, kaki, dan jeroan ( Hati dan Rempela ). Bumbunya: Kunir, Jinten , Ketumbar , Laos , Bawang Merah , Bawang Putih , Sere, Daun Purut , Kemiri , merica, kecap asin, micin, dan garam, jangan lupa pula ditambahkan ikan bandeng yang direbus bersama bumbu tersebut sampai hancur(durinya disingkirkan terlebih dahulu).
Untuk pelengkapnya Suun , Telor, Sladri , Poyah ( Krupuk Udang dan bawang putih goreng) , lombok (cabe,kemiri,garam). cara menyajikan dengan nasi putih. Di Kecamatan Sukodadi terdapat warung Soto Lamongan yang sangat lezat “Soto Ayam Desa”. Tepatnya di pertelon Sukodadi arah menuju “Wisata Bahari Lamongan”, “Makam Sunan Giri” & “Gua Maharani”.

Gado Gado

Gado-gado adalah salah satu makanan yang berasal dari Jawa Timur yang berupa sayur-sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu, dengan bumbu kacang atau saus dari kacang tanah yang dihaluskan disertai irisan telur dan di atasnya ditaburkan bawang goreng. Sedikit emping goreng atau kerupuk (ada juga yang memakai kerupuk udang) juga ditambahkan.
Gado-gado dapat dimakan begitu saja seperti salad dengan bumbu/saus kacang, tapi juga dapat dimakan beserta nasi putih atau kadang-kadang juga disajikan dengan lontong.

Sate Madura

Sate Madura adalah sate khas Pulau Madura, Jawa Timur. Sate Madura biasanya terbuat dari ayam. Madura selain terkenal sebagai pulau garam, juga terkenal dengan satenya. Sate madura sudah terkenal di seluruh Nusantara, Sate Madura dapat ditemukan hampir di semua daerah khususnya di kota besar seperti Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Konon di Madura sendiri sate susah dicari. Tetapi selain ayam sebagai bahan utama sate juga ada yang menggunakan kambing yang ditandai dengan digantungnya bagian kaki belakang si kambing di rombong sang penjual sate. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Memanggangnya dengan api dari batok kelapa yang dihanguskan lebih dulu yang disebut dengan arang batok kelapa. Rasanya gurih tapi dipantangkan kepada mereka yang berkolesterol tinggi dan yang pengidap asam urat akut.
Sate Madura umumnya adalah sate ayam yang diberi sambal berupa saus kacang. Namun di Madura sendiri kadangkala yang dipakai bukanlah saus kacang namun saus atau sambal kemiri. Selain itu seringkali arang pembakaran sate ini sering ditaburi dengan jeruk limau.

Wisata Kuliner Makanan Khas Bangkalan ” Madura ”

Kalau anda ke Madura sempatkan untuk mampir ke kota Bangkalan , Madura, selain budaya yang terkenal dari pulau ini, banyak juga lho makanan-makanan enak dari pulau garam ini. Sate madura,soto madura,rujak madura. Ya mereka (lho?) adalah makanan-makanan khas dari Madura. Selain menu diatas,banyak sekali makanan terkenal yang sangat nikmat sehingga siapa saja yg menikmatinya akan merasakan nikmatnya surga dunia di dalam mulut agan.
Kabupaten Bangkalan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, Bangkalan ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura dengan berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur serta Selat Madura di selatan dan barat.
Di bangkalan ini mempunyai makanan khas, makanan khas yang tekenal di nusantara salah satunya Sate madura,soto madura,rujak madura. pernahkah anda mencicipinya? kalo belu, nerkunjung saja ke bangkalan,Tulisan selanjutnya adalah yang terkenal sbagai berikut :

1. Topak Ladhe Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal
Makanan ini biasanya disajikan saat hari besar seperti hari raya ketupat, makanan ini kuahnya dari bumbu kelapa parut dan rempah-rempah yang digiling dan lauknya dari daging sapi dengan potongan telor ayam. disajikan dengan ketupat, ditambah sayur markisa atau kacang panjang yang drebus. dengan sedikit bawang goreng dan cabai.

2. Tajin sobih Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal

Tajin sobih ini merupakan jajanan khas mirip dengan bubur, tapi spesial banget. kita bisa menikmani beraneka ragam jenis bubur, ada yang merah-merah, ada yang coklat-coklat, dan ada yang putih-putih. jajanan ini dinamakan Tajin Sobih karena yang jualan kebanyakan berasal dari Desa Sobih, di dekat Bangkalan.

3. Nasi Serpang Bangkalan

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal

Nasi serpang di masak dengan bumbu rempah-rempah khas madura. Nasi Serpang ini adalah masakan paduan dari bahan paduan bahan dari daratan juga lautan. Dari ikan laut sampai dengan daging hewan daratan. racikan smuan itu di antranya Nasi, Pepes ikan tongkol, Kerang dimasak sambal goreng, Soun bumbu kecap, Telor asin masir, Sambal terasi, Krupuk rambak bumbu rujak, Dendeng daging sapi Madura, Kripik paru dan Rempeyek ikan teri dan kacang,

4. Sate Madura

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal

Sate ini biasanya terbuat dari ayam atau kambing. Bumbunya adalah campuran kacang yang ditumbuk halus petis dan sedikit bawang merah. Sate Bumbu sendiri, sepintas tidak jauh berbeda dengan sate-sate lain yang biasanya ada di daerah lain. Namun setiap daerah pasti punya khasnya masing-masing, Sate ayam dan yang lain langsung dipanggang atau hanya dibumbuin kecap untuk sate bumbu, sebelum dibakar daging sapi yang sudah ditusuk, dilumuri atau diolesi oleh bumbu yang terbuat dari rempah dan palawija khusus.

5. Kaldu Kokot

5 Makanan Khas Bangkalan Yang Terkenal

Makanan  ini merupakan makanan sejenis sop dengan bahan utama kacang hijau yang di masak dengan direbus di tambahkan berbagai macam bumbu rempah-rempah khas jawa seperti bawang merah, bawang putih, jahe, pala, dan daun bawang. Makanan ini kuahnya agak kental dengan tambahan potongan kikil kaki sapi, yang suka tulang juga ada yang menyajikannya dengan tulang kaki sapi, kemudian ditambah dengan bumbu dari ulegan kacang dan petis.

Wisata Kuliner Madura ” Nasi Jagung ”

 

makanan masa kecil yang bikin kangen kampung halaman buat saya adalah makan nasi jagung khas Madura. Makanan ini sangat sederhana hanya nasi putih campur jagung diberi lauk ikan asin goreng, lapapan, sayur lodeh, tahu dan tempe goreng serta sambal terasi yang pedas.

Setiap pulang kampung di Kota Jember, Jawa Timur kami selalu makan nasi khas Madura ini.Tapi sensasi rasanya tidak bisa mengalahkan nikmatnya makanan mewah yang ada di Jakarta tempat saya mencari sesuap nasi sekarang. Makan nasi jagung sambil mengenang masa kecil makan di perkebunan kopi

Sudah sejak jaman dahulu, Nasi Jagung terkenal menjadi makanan khas daerah Madura, dan juga Jawa Timur pada umumya.

Hal ini bahkan tercermin dari sebuah lagu yang kini sedang booming sebab sering disenandungkan oleh Sule dan kawan-kawannya dalam acara OVJ di salah satu stasiun televisi swasta, berjudul Iwak Peyek.

Sego Jagung atau Nasi Jagung, memang kerap dikonsumsi dengan berbagai macam lauk, salah satunya adalah peyek, sejenis kerupuk yang terbuat dari tepung beras.

Cara membuat Nasi Jagung sendiri tidak terlalu rumit. Hampir sama dengan memasak nasi pada umumnya, hanya saja, komposisi beras yang digunakan sedikit, sisanya menggunakan jagung yang sudah ditumbuk. Ini dahulu terjadi karena masyarakat terkendala membeli beras, sebab harga beras yang cukup tinggi.

Jagung yang digunakan membuat Nasi Jagung adalah jagung yang sudah dikeringkan, dipipil, dan lantas ditumbuk kasar.

Nasi Jagung biasanya dikonsumsi dengan sayur Urap-urap, ikan asin goreng tepung, sambal terasi, kering tempe, serta tak ketinggalan, peyek teri.

Saat ini, banyak variasi lauk pauk yang melengkapi nasi jagung, hingga membuat gengsi makanan murah meriah ini makin terangkat.

Ada yang melengkapi dengan empal daging, ayam goreng, dan berbagai macam sayuran.

Dengan adanya program “Sehari tanpa nasi” yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini, maka Nasi Jagung bisa jadi alternatif makanan pokok yang murah meriah. Selain juga sehat tentunya.