Rumah Tradisional Adat Madura

artikel tentang: Rumah Tradisional Adat Madura

judul artikel: Tanean Lanjeng, Rumah Adat Masyarakat Madura

 

 

Madura adalah pulau bersuhu panas yang terkenal dengan garamnya, dimana banyak sekali dijumpai keunikan-keunikan yang beragam.

Masyarakat Madura di kenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi tali kekerabatan. Simbol-simbol yang mendukung hal ini, bisa di lihat dari rumah adat yang sebagian besar masih terpelihara dengan rapi di berbagai pelosok di Madura, seperti yang terdapat di desa pamaroh kecamatan kadur pamekasan Madura.

Halaman panjang atau yang terkenal dengan sebutan Tanian Lanjang adalah bukti kekerabatan masyarakat Madura. Tanian Lanjeng terbentuk karena sejumlah rumah di tata berjejeran dengan rumah induk yang berada di tengah-tengah.Rumah induk ini biasanya, di tandai dengan jengger ayam di atapnya. Rumah induk, ditempati orang tertua pada keluarga tersebut. Orang tertua ini kemudian di sebut kepala somah. Ibarat raja kecil, kepala somahlah yang menguasai semua kebijakan keluarga, terutama menyangkut masalah perkawinan.

Rumah adat Madura, hanya memiliki satu pintu di depan. Hal ini dimaksudkan, agar pemilik rumah, dapat mengontrol aktifitas keluar masuk keluarga. Pintu ini dihiasi ukiran-ukiran asli Madura, dengan warna hijau dan merah, lambang kesetiaan dan perjuangan.

Sebuah lukisan bunga, juga tampak menghiasi dinding depan rumah. Lukisan ini, menggambarkan keharmonisan keluarga, sebuah impian rumah masa depan yang bahagia.

Di samping kanan dan kiri rumah induk, di bangun rumah untuk anak-anaknya. Anak tertua, menempati rumah sebelah kanan. Sedangkan yantg lain, menempati rumah sebelah kiri. Biasanya, rumah induk, di tandai dengan hiasan 2 cengger ayam yang ada di atas atap, dengan posisi berhadapan, mirip batu nisan sebuah makam. Hiasan ini mengingatkan penghuni rumah pada kematian, yang pasti di jalani oleh setiap mahluk hidup. Di bagian dalam rumah, berdiri 4 buah pilar penyanggah yang tampak kokoh. Pilar-pilar ini, terhubung satu dengan lainnya, sehingga membentuk sebuah bujur sangkar. Pilar-pilar ini, kemudian di sebut dengan pilar pasarean.

Sejumlah perabotan keluarga, juga masih tampak terpelihara di bagian dalam rumah ini. Di antaranya, sebuah bayang besar, terbuat dari kayu jati dengan ujung sebelah kiri lebih tinggi, yang berfungsi mengganjal kepala, agar bisa ber-isitirhat, melepas kepenatan tubuh.

Tampak pula sebuah tombak tradisional Madura yang masih terpelihara dengan baik. Tombak ini merupakan senjata tradisionil Madura, dalam mempertahankan ke utuhan keluarga.

Setiap rumah data, di lengkapi dengan sebuah surau. Surau ini, disamping berfungsi sebgai tempat sholat, juga menjadi tempat bagi Kepala Somah, untuk memantau orang-orang yang keluar masuk halamannya. Orang Madura menyebut surau ini dengan langgar.

Atap surau adat, menggunakan daun ilalang yang membentang memayungi penghuninya dari air hujan dan sengatan matahari.

 

 

sumber artikel: http://www.berita86.com/

 

Tahapan Acara Lamaran di Pulau Madura

artikel tentang: Tahapan Acara Lamaran di Pulau Madura

judul artikel: Lalamaran ( Prosesi Lamaran Adat Sumenep )

 

 

 

Sumenep mewakili Madura sebelah timur telah mengenal tradisi sastra lisan dan tulis sejak abad ke-15. Salah satu tradisi yang dibukukan ini ialah tradisi “Lalamaran”.
“Lalamaran” berasal dari kata “lamar” yang berarti meminang (melamar anak gadis). Lalamaran yang dmaksudkan di sini adalah serangkaian kegiatan dari pihak keluarga pria yang melamar seorang gadis, anak pihak keluarga yang lain.
Lalamaran masih banyak dijumpai di berbagai desa di wilayah Sumenep, tetapi yang dideskripsikan ini adalah lalamaran di desa Lebak, yang terletak ± 40 km ke arah Utara kota Sumenep (berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan).
Sebelum memasuki acara pokok yaitu melamar gadis, biasanya melalui tahapan-tahapan yang tidak dapat diabaikan sebagai berikut :
  • Ngin-angin, kegiatan awal melakukan informasi tentang jatidiri si gadis. kegiatan pengamatan ini biasanya dilakukan oleh kerabat sang gadis.
  • Arabas pagar, setelah kegiatan awal terlampaui, yakni informasi bahwa si gadis belum bertunangan, pihak keluarga pelamar menggunakan jasa orang lain untuk menyampaikan pesan rencana lamaran.
  • Lalamaran, yakni kegiatan pihak lelaki pelamar meminang si gadis ke orang tuanya. Acara lalamaran ini biasanya dapat dilangsungkan dengan lancar, sebab sudah dilakukan pendekatan terlebih dahulu di antara kedua belah pihak.
Persiapan Lalamaran :
  • Pihak keluarga pelamar mempersiapkan peralatan yang akan di serahkan ke pihak keluarga gadis yang dilamar. Persiapan yang di maksudkan ialah : tekstis bakat busana penganten wanita, perhiasan, peralatan rias dan lain-lain, yang disebut “panyengset” (Jw. Pengingat/ tanda ikatan).
  • Pihak keluarga gadis mempersiapkan hidangan yang disuguhkan pada waktu upacara lamaran berlangsung, biasanya di hadiri kerabat dekat (sanak-famili)
Tata Cara Upacara :
  • Pihak keluarga pelamar (lelaki) mengundang kerabatnya dan sesepuh yang dipersiapkan untuk melamar di rumah orang tua gadis yang dilamar. Disamping perbekalan “Panyengset” bahan lain yang perlu dipersiapkan ialah : Sirih pinang, yakni daun sirih yang mempunyai makna pengikat, buah pinang bermakna penet (setia) dan gambir-kapur yang bermakna sang gadis telah “rapet” (rapat). tertutup bagi pria lain yang berminat melamar. Pisang susu mempunyai makna simbolis bahwa jejaka yang melamar sudah terburu-buru (Jw. kesusu) untuk melaksanakan perkawinan.
  • Hari pelaksanaan lamaran ditetapkan oleh kedua belah pihak. Pihak pelamar dan keluarganya berpakaian adat menuju ke rumah gadis dengan iringan musik-bunyi-bunyian tradisional. Busana adat yang dimaksudkan ialah senek untuk para sesepuh, anak gadis dengan busana kebaya pendek dengan sarung batik pesisiran.
  • Rombongan tamu pelamar diterima di depan pintu rumah orang tua gadis yang dilamar. Di situ diadakan dialog di antara yakil kedua belah pihak, yang disebut “Panonggul” atau “Pengada”. Dalam dialog tersebut diutarakan maksud kedatangan para tamu (dari pihak pelamar). Acara dilanjutkan dengan tawar-menawar dengan menggunakan sejumlah uang logam yang disimpan di dalam bokor kuningan. Pihak keluarga gadis menyebut nilai uang logam yang di kehendaki. Cara penyerahannya, uang logam di tuangkan ke bokor kuningan yang telah dipersiapkan. Panuangan uang logam biasanya menimbulkan bunyi yang nyaring. Nilai (besarnya bilangan) uang logam amat menentukan status social pihak keluaga gadis.
  • Seusai acara tersebut, rombongan pelamar dipersilahkan memasuki ruang tamu rumah orang tua gadis. Dialog utama di antara kedua belah pihak ialah menetapkan hari, tanggal, bulan dan tahun perkawinan pasangan calon penganten. Pada waktu itu pula diadakan acara perkenalan para sesepuh, orang tua dan kerabat dari dua belah pihak. Dengan demikian pihak gadis dan jejaka saling mengenal kerabat calon mertuanya masing-masing.
  • Akhir upacara adalah silaturrahmi antara kedua belah pihak keluarga. Seusai acara tersebut, pihak keluarga pelamar memohon diri (pamit), diiringi musik tradisional saronen.

 

 

sumber artikel: http://quenbiever.blogspot.com

Keindahan Pantai Rongkang di Pulau Madura

artikel tentang: Keindahan Pantai Rongkang di Pulau Madura

judul artikel: Pantai Rongkang Bangkalan Madura

 

 

 

Pantai Ini Terletak Di Desa Kwanyar Barat Kecamatan Kwanyar Kabupaten Bangkalan, kira-kira 35 km di selatan kota Bangkalan.

Kabupaten Bangkalan merupan sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung paling barat Pulau Madura; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Sampang di timur serta Selat Madura di selatan dan barat.

Pelabuhan Kamal merupakan pintu gerbang Madura dari Jawa, dimana terdapat layanan kapal ferry yang menghubungkan Madura dengan Surabaya (Pelabuhan Ujung). Saat ini pengunjung mungkin telah tahu kalau dibangun Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang merupakan jembatan terpanjang dan terbesar di Indonesia.

Bangkalan merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya serta tercakup dalam lingkup Gerbangkertosusila. Kabupaten Bangkalan terdiri atas delapan belas kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Bangkalan

Banyak keistimewaan di pantai rongkang ini, diantaranya berjejernya bebatuan di sepanjang pantai dan juga bukit berundak-undak yang tingginya sekitar dua puluh hingga dua puluh lima meter di atas permukaan laut.

Pada waktu senja dan malam hari, terlihat kilauan sinar dari lampu kapal-kapal yang berlayar di selat madura jadi pemandangan yang sangat menarik dan pantulan sinar-sinar lampu di permukaan air yang memantul dari arah kota Surabaya menambah keindahan di sekitar pantai yang membuat hati merasa takjub.

Pantai ini mempunyai karakteristik Pantai yang di Kelilingi bebatuan cadas dan untuk sampai ke bibir pantai pengunjung harus menuruni bebatuan cadas ini dari perbukitan yang terbilang curam. Jadi para wisarawan atau pengunjung harus berhati-hati dalam menyusuri pantai ini. Para pengunjung bisa bermain-main di sekitar pantai dengan melihat pemandangan Pantai Rongkang yang sangat eksotis ini.

Tradisi Unik Pernikahan di Madura

artikel tentang: Tradisi Unik Pernikahan di Madura

judul artikel: Secuil Cerita Tentang Pernikahan di Madura

 

 

Banyak aneka kebudayaan dan tradisi yang tersebar di seluruh penjuru nusantara, yang masing-masing daerahnya punya ciri khas tersendiri.

Indonesia sungguh merupakan negeri yang besar dan kaya dengan segala macam tradisi dan kebudayaan. Salah satunya adalah tradisi dalam pesta pernikahan di sebuah desa di ujung timur Pulau Madura tepatnya Desa Pinggirpapas Kabupaten Sumenep. Dalam menyambut dan merayakan pesta pernikahan di desa ini ada beberapa hal yang berbeda dengan daerah lain di Madura.

Ada dua sebutan dalam acara hajatan pernikahan di desa Pinggirpapas, yang pertama adalah hajatan yang dikemas dengan nama “Salamettan Kabin” (Selamatan Pernikahan) dan yang kedua adalah pesta pernikahan yang dikemas dengan nama atau sebutan “Karja”(Pesta Pernikahan). Umumnya “Salamettan Kabin” dilakukan oleh mereka yang memang dari sisi ekonomi kurang mampu, namun ada juga orang yang dari segi finansial memadai namun enggan melaksanakan hajatan pernikahan dengan besar-besaran, tentunya dengan berbagai macam alasan sehingga lebih memilih melaksanakan dengan cara sederhana “Salamettan Kabin” (selamatan pernikahan). Kemudian ada juga beberapa warga ketika sudah melaksanakan “Salametta Kabin” (Selamatan pernikahan) beberapa bulan kemudian mereka juga melaksanakan “Karja” (Pesta Pernikahan).

Biasanya dalam hajatan pernikahan “Salamettan Kabin” rangkaian acaranya dilaksanakan pada pagi hari. Dan dalam acara tersebut dilaksanakan akad nikah serta pembacaan Sholawat Nabi yang ditutup dengan do’a. Undanganpun biasanya hanya dihadiri ratusan orang dan tidak menerima tanda restu dalam bentuk amplop atau apapun, dalam bahasa masyarakat setempat disebut “Tak Ngala’ Tolong” (Tidak menerima sumbangan berupa apapun). Ketika pulang para undangan ini membawa plastik kresek yang berisi Nasi dan beberapa makanan, warga menyebutnya “Berkat”.

Sementara jika melangsungkan hajatan pernikahan dalam bentuk “Karja” (Pesta Pernikahan) prosesnya lumayan panjang dan melelahkan. Betapa tidak, persiapan yang sangat matang dibutuhkan mengingat acara itu biasanya dihadiri oleh ribuan undangan. Ada beberapa tahapan dengan segala macam sebutan mulai persiapan hingga acara berlangsung.

Pertama adalah “Ngin-tangngin”(Begadang semalam suntuk). Ngin-tangngin biasanya dilakukan sepuluh hari, seminggu, atau lima hari sebelum hari pesta pernikanan berlangsung, hal ini tergantung keinginan shohibul hajat (tuan rumah). Dalam acara ngin-tangngin biasanya diisi dengan duduk bersila bersama layaknya orang dalam acara pertemuan atau pengajian sambil mengobrol dan juga sambil memutar video kesenian seperti kerawitan dan sinden atau video ludruk . Menjelang larut malam formasi mulai berubah, warga yang berusia lanjut tetap duduk bersila atau bahkan mundur lebih dulu untuk istirahat. Sementara yang masih tergolong usia muda mulai dengan membuat lingkaran dan duduk santai sambil bermain catur atau kartu untuk menghilangkan rasa kantuk, tak ada taruhan dalam bentuk uang dalam permainan ini tetapi bermain hanya untuk mengusir kantuk.

Kedua adalah “Reng-tareng” (mendirikan dapur sementara) untuk keperluan pesta. Reng-tareng biasanya dibuat dari rancangan bambu dan ditutup dengan terpal. Proses ini dilakukan empat hari sebelum acara.

Ketiga adalah “ Tattarop”( mendirikan terop/tenda). Ini dilakukan biasanya tiga hari menjelang pesta pernikahan. Dihari ini kesibukan sangat nampak sekali, mulai dari pemasangan terop, sound system dan berbagai peralatan pesta.

Ke empat adalah “Nyambelli” (Penyembelian hewan sapi). Sapi biasanya didatangkan satu hari sebelum disembelih atau sore hari ketika proses pendirian terop. Proses penyembelian sendiri biasanya dilakukan pada dini hari dan tepat di depan rumah shohibul hajat (tuan rumah). Pagi harinya mulailah ibu-ibu sibuk memotong daging untuk sajian pesta esok hari. Sementara ibu-ibu yang lain sibuk dengan persiapan makanan dan suguhan lainnya.

Kelima adalah “Daddina” ( hari pesta pernikahan ). Desa Pinggirpapas memang mempunyai kebiasaan yang berbeda dari desa lainnya. Jika di desa lain undangan datang sepanjang hari tapi tidak begitu dengan di Pinggirpapas. Undangan paling padat adalah dipagi hari sekitar jam 07.00 WIB s/d 09.00 WIB. Memang dalam undangan biasanya dicantumkan Jam : Sehari, namun kebiasaan masyarakat setempat selalu saja undangan membludak di pagi hari dan bahkan membuat panitian kewalahan, kecuali tamu atau undangan yang dari tempat lain yang memang datang dan menghadiri acara itu hingga sore hari. Dalam pesta ini bisanya dihibur oleh Kesenian Sinden dan Kerawitan atau belakangan ada beberapa yang digantikan dengan orgen tunggal. Masakan khusus untuk hidangan pesta dikenal dengan sebutan “Supra” yaitu hidangan yang disajikan untuk 10 orang dengan format melingkar, nasi dalam 1 nampan besar, 1 piring makanan ringan sejenis agar-agar atau ada juga dengan buah pisang, 2 mangkok kuah gulai, 2 mangkok air untuk membasuh tangan dan dikelilingi 10 piring yang sudah berisi ikan dan lauk serta 10 air gelas dan tissu yang biasanya terbuat dari koran atau buku bekas. Kata “Supra” ini seringkali dipakai oleh warga untk menghadiri undangan. Sehingga jika seseorang yang mengajak teman atau tetangga untuk menghadiri pesta pernikahan sering mengajak dengan berkata “Ayok Asupra’a

Yang terakhir adalah “Matoron Tattarop” (menurunkan terop) atau ada juga yang bilang “Li-mabeli” (mengembalikan peralatan). Ini dilakukan sore hari setelah acara atau keesokan harinya tergantung seberapa banyak dan ramai undangan yang hadir.

Demikianlah sedikit cerita dari pelaksanaan Pesta Pernikahan di Desa Pinggirpapas Kab.Sumenep. Tentu hal ini tidak sama dengan pelaksanaan pesta pernikahan di daerah lain. Namun bagaimanapun juga perbedaan dalam melaksanakan pesta pernikahan ini semoga tidak menghilangkan atau mengurangi tujuan utama dari pernikahan itu sendiri yaitu membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, apalagi dalam agama pernikanan itu sendiri adalah merupakan sebuah ibadah.

 

Tradisi Selamatan Naik Haji Ala Masyarakat Madura

artikel tentang: Tradisi Selamatan Naik Haji Ala Masyarakat Madura

judul artikel: Inilah Tradisi Warga Madura Sebelum dan Sesudah Berhaji

 

 

 

Ibadah haji merupakan hal yang paling diutamakan oleh kebanyakan masyarakat madura, tak sedikit dari mereka yang berduyun-duyun pergi kesana. Menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan Madinah, bagi masyarakat Madura, Jawa Timur, umumnya tidak cukup hanya bermodalkan ongkos naik haji saja. Tetapi harus menyiapkan biaya lainnya yang lebih besar dari ongkos naik haji. Sebab, di Madura ada berbagai macam tradisi yang dilakukan sebelum berangkat haji.

Tradisi itu dilakukan tiga kali, yakni sebelum berangkat, saat haji dan setelah tiba dari naik haji. Sebelum berangkat haji, calon jemaah haji biasanya menggelar pesta atau selamatan dengan mengundang semua sanak famili, tetangga, dan ulama dalam sebuah doa bersama. Kegiatan itu tujuannya sebagai tanda syukur bahwa tidak semua orang, baik yang memiliki harta lebih, kesehatan dan waktu, bisa menunaikan ibadah haji.

“Orang bisa berangkat haji itu harus disyukuri. Sebagai tanda syukur, digelar doa bersama dengan mengundang famili, ulama, dan para tetangga,” ungkap Zainullah, warga Desa Tentenan Timur, Kecamatan, Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jumat (27/9/2013).

Biaya selamatan sebelum keberangkatan bisa menghabiskan jutaan rupiah. Hal ini tergantung jumlah udangan yang disebar calon jemaah haji. Kebiasaan orang Madura, udangan selamatan haji di atas 500 orang. Semua sanak famili yang ada di luar daerahnya dundang.

Saat jemaah berangkat haji, diantar oleh ratusan orang dari famili dan tetangga ke tempat dimana jemaah dilepas oleh pemerintah setempat. Ini sifatnya sukarela. Yang mau ikut hanya bermodalkan kendaraan roda empat saja. Keluarga jemaah haji hanya menyiapkan makan sebelum berangkat, dan saat menunggu keberangkatan calon haji.

Ketika seorang calon haji sudah meninggalkan rumah, salah satu anggota keluarganya menabur uang recehan dan kertas pecahan sampai Rp 5.000. Biaya yang dikeluarkan untuk keberangkatan jemaah ini, juga menghabiskan biaya jutaan rupiah.

Selama jemaah berada di Makkah, pihak keluarga yang ditinggalkan di rumahnya menggelar doa bersama dengan membaca Al Quran dan shalawat setiap malam. Warga yang datang bisa mencapai 50 lebih, bahkan sampai ratusan. Sehabis menggelar doa bersama, mereka diberi makan atau kue serta minuman. Kegiatan seperti berlangsung sampai 40 hari atau sampai yang sang haji pulang.

Saat datang dari menunaikan haji, jemaah dijemput dengan meriah. Puluhan kendaraan roda empat dan ratusan kendaraan roda dua mengiringi kedatangan jemaah. Bagi pemilik kendaraan roda empat, hanya diberi makan saja sebelum berangkat menjemput dan setelah tiba di rumah jemaah. Sementara untuk roda dua, selain diberi makan sebelum menjemput dan saat datang dari penjemputan, mereka juga diberi ganti bensin.

Biaya selama kedatangan jemaah ini juga menghabiskan jutaan rupiah. Selama 40 hari, jemaah haji yang sudah selesai menunaikan ibadah dengan baik dan sempurna di Makkah dan Madinah, didatangi oleh sanak kerabat, tetangga, para kenalan dan ulama.

Mereka datang untuk meminta doa keberkahan dari ibadaha haji. Diyakini masyarakat Madura, jemaah haji selama 40 hari dari kedatangannya dari Makkah dan Madinah, do’anya lekas dikabulkan Allah.

“Bagi warga yang datang ziarah ke keluarga haji, diberi makan dan minum serta mereka diberi suvenir khas Timur Tengah, seperti dupa, sajadah, tasbih, minyak wangi, kerudung, baju, songkok haji, sorban dan berbagai sofner lainnya,” ungkap Zainul, yang pernah melayani dua empat saudaranya yang sudah pernah ibadah haji.

Bagi jemaah haji sendiri, sebelum pulang ke rumahnya, masih belanja oleh-oleh khas dari Arab Saudi. Oleh-oleh itu disesuaikan dengan orang yang akan diberi. Kalau hanya warga biasa, cukup diberi dupa atau kemenyan saja atau ditambah dengan tasbih.

Para kerabat dekat mendapat sajadah, baju, surban atau songkok haji. Sementara itu kalangan ulama mendapat oleh-oleh berupa surban, sajadah, baju, minyak wangi dan lainnya.

Setelah 40 hari dari kedatangan haji, digelar selamatan lagi dengan mengundang sanak kerabat dan tetangga. Namun jumlah undangannya lebih sedikit, antara 40 sampai 60 orang saja. Acara ini untuk mengucapkan syukur karena dia sudah bisa menjalankan rukun Islam kelima itu.

“Jika dikalkulasi semua, biaya sebelum berangkat, selama di Makkah dan Madinah, saat datang hingga 40 hari setelah kedatangannya, bisa dua kali lipat dari ongkos haji,” pungkas Zainul.


Jajanan Khas Pulau Madura, Pecong

artikel tentang: Jajanan Khas Pulau Madura, Pecong

judul artikel: Pecong, Jajanan Manis Khas Pamekasan

 

 

Sebenarnya Indonesia itu sangat kaya, apalagi jika menyangkut urusan makanan yang beraneka ragam tersebar diseluruh penjuru nusantara mulai sabang hingga merauke.

Saat membaca judul mungkin Anda akan bertanya-tanya. Pecong? apaan tuch? Memang namanya sangat menggambarkan sesuatu yang berbau madura. Sebelum saya melanjutkan tentang “pecong”, saya ingin menyampaikan cerita dari orang tua jaman dahulu tentang madura dan makanannya.

Ayah saya pernah bercerita, konon madura pada zaman dahulu sangat terbelakang dalam masalah ekonomi. Meskipun mayoritas masyarakat madura pada waktu itu hidup bertani, namun untuk makan sehari-hari saja susah. Itulah sebabnya nasi jagung dan buje cabbih (sambal cabe dan garam) menjadi ciri khas masyarakat Madura. Nasi putih pada waktu itu adalah makanan mewah yang hanya dapat dinikmati oleh orang kaya.

Jajanan madura zaman dulu masih sederhana dan tidak secanggih sekarang, umumnya bahan utama untuk membuat jajan adalah singkong. mulai dari keripik tette, pastel, kelepon, pecong dan lain sebagainya. Jajanan tersebut sudah umum ditemui jika Anda berkunjung ke Madura. Jajanan tersebut mudah di beli di pasar-pasar tradisional dengan harga yang sangat miring. Pecong adalah oleh-oleh wajib yang selalu diberikan oleh Ibu saya jika pergi ke pasar.

Dalam tulisan ini saya ingin memperkenalkan jajanan khas Pamekasan dengan Cita rasa manis, namanya adalah Pecong. Nama jajanan ini mungkin terasa asing bagi Anda, tidak seperti sate maupun soto yang memang makanan khas Madura yang terkenal ke seluruh penjuru negeri. Informasi tentang pecong juga sangat jarang ditemui di internet. Padahal saking nikmatnya jajanan tradisional ini sampai susah diungkapkan dengan kata-kata. Itulah sebabnya saya mengangkat tulisan tentang Pecong ini dengan harapan pembaca dapat tertarik menikmati cita rasa manis seperti yang sering saya nikmati.

“Pecong adalah makanan tradisional yang terdiri dari apem, cennil, jungkong, ketan hitam dan kolpang yang ditaburi kelapa muda yang diparut kemudian di siram gula merah cair”. Pecong disajikan dengan menggunakan daun pisang, dan uniknya tusuk lidi digunakan untuk menusuk pecong sebagai pengganti garpu. Saat pertama melihatnya saya yakin Anda akan tergiur untuk menikmatinya. Saya juga yakin Anda akan ketagihan untuk mencicipinya lagi jika sudah pernah menikmatinya.

Anda dapat dengan mudah mendapatkan Pecong sebagai sarapan pagi yang nikmat di pasar-pasar tradisional Pamekasan seperti Pasar Kolpajung, Pasar Blumbungan dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan juga sangat terjangkau alias harga rakyat. Saat tulisan ini dibuat harganya berkisar antara Rp.500,- sampai Rp.2000,- per porsi. Semoga menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin berwisata kuliner di Madura terutama di Pamekasan. Mari majukan kuliner lokal madura.

Kebiasaan Masyarakat Madura Menjelang Lebaran

artikel tentang: Kebiasaan Masyarakat Madura Menjelang Lebaran

judul artikel: Tradisi Petolekoran, Ribuan Warga Pulau Gili Ketapang Berbelanja Lebaran

 

 

Madura selalu mempunyai tradisi yang sangat melekat dalam masyarakatnya, salah satunya tradisi menjelang lebaran. Ribuan warga pulau Gili Ketapang kabupaten Probolinggo, Jawa Timur serentak meninggalkan pulau mereka menuju pusat kota untuk berbelanja kebutuhan hari raya Idul Fitri. Kebiasaan berbelanja ribuan warga pulau Gili ini dikenal dengan tradisi Petolekoran atau hari ke 27 pada bulan Ramadhan.

Di hari ke 27 bulan Ramadhan kalender Hijriyah, ribuan warga pulau Gili Ketapang meninggalkan pulau mereka menggunakan sedikitnya 50 perahu penumpang menuju pusat kota Probolinggo untuk memenuhi hasrat berbelanja kebutuhan hari raya Idul Fitri.

Kebiasaan berbelanja secara serentak menjelang lebaran warga nelayan ini dikenal dengan tradisi Petolekoran. Nama tersebut diambil dari waktu pelaksanaannya yang dilakukan setiap tanggal 27 Ramadhan atau Petolekor dalam bahasa Madura.

Berbelanja besar-besaran warga pulau Gili Ketapang tersebut berlangsung sejak pagi hingga hingga sore hari. Hampir semua penduduk pulau yang dikenal dengan hamparan pasir putih itu menuju sejumlah area pertokoan dan swalayan di pusat kota.

Kegiatan belanja kebutuhan lebaran ribuan warga ini bisa  ditemui setiap tahunnya di kota Probolinggo. Mengingat tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama, dilakukan secara turun temurun oleh penduduk pulau Gili Ketapang.

Tradisi Maulid Nabi di Masyarakat Madura

artikel tentang: Tradisi Maulid Nabi di Masyarakat Madura

judul artikel: Tradisi Maulid Nabi di Madura

 

 

Orang Madura memang senang memelihara tradisi turun temurun dari nenek moyang terdahulu. Termasuk ketika bulan maulid nabi tiba, pastinya banyak kebiasaan unik dari masyarakat untuk menyambut bulan maulid.

Beberapa hari ke belakang, akan sering terdengar shalawat barzanji dikumandangkan. Suara-suara itu datang dari masjid, mushalla, madrasah atau bahkan dari rumah-rumah penduduk. Ya, masyarakat Madura memiliki tradisi maulidan yang cukup kental. Hampir sebulan penuh mereka berganti-ganti dari satu rumah ke rumah lainnya, merayakan kelahiran Nabi tersebut.

Pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, masyarakat akan berduyun-duyun datang ke masjid untuk merayakan Maulid Agung. Maulid Agung adalah tanggal pas kelahiran Nabi. Di luar Maulid Agung ini, orang masih merayakannya di rumah mereka masing-masing. Tentu tidak semua, hanya mereka yang memiliki kemampuan dan kemauan.

Saat Maulid Agung, para perempuan biasanya datang ke masjid atau mushalla dengan menyunggi talam yang di atasnya berisi tumpeng. Di sekeliling tumpeng tersebut dipenuhi beragam buah yang ditusuk dengan lidi dan dilekatkan kepada tumpeng. Buah-buah itu misalnya salak, apel, anggur, rambutan, jeruk, dan lainnya. Namun, belakangan tradisi ini mulai berubah. Yang mengelilingi tumpeng bukan lagi ragam buah-buahan, melainkan uang dan makanan instan lainnya. Keindahan tumpeng berbalut buah warna-warni mulai hilang dari pandangan.

Pada saat pembacaan barzanji, tumpeng-tumpeng tersebut dijajarkan di tengah orang-orang yang melingkar untuk didoakan. Setelah selesai, tumpeng-tumpeng itu kemudian dibelah-belah dan dimakan bersama-sama. Para perempuan biasanya tidak ikut membaca barzanji, mereka hanya menyiapkan makanan untuk kaum laki-laki.

Bagi sebagian masyarakat Madura, tradisi maulidan memiliki nilai tersendiri, selain untuk merayakan kelahiran baginda Nabi. Mereka berkeyakinan bahwa tradisi tersebut juga dapat menambah rezeki dengan ritual tambahan tertentu. Menurut mereka, orang yang membawa uang dan dipegang saat pembacaan barzanji, uang tersebut akan dapat memanggil rezeki lainnya asalkan tidak dibelanjakan. Karena itu, mereka biasanya membungkus uang tersebut dengan isolasi agar tidak bercampur dengan uang lainnya.

Keyakinan semacam itu akan sulit dilogikakan. Dan mereka memang tidak butuh logika untuk meyakininya. Allahumma shalli ‘ala Muhammad!

Sejarah Munculnya Kyai Madura

artikel tentang: Sejarah Munculnya Kyai Madura

judul artikel: Sejarah Kyai Madura

 

 

Banyak Ulama-ulama besar yang sangat terkenal bermunculan di Pulau Madura, salah satu yang paling fenomenal sampai sekarang yaitu KH. Syekh Kholil. Saya membaca catatan Syekh Kholil dalam kitab “Hasyiyah Al-Bajuri” tulisan tangan beliau yang ada pada Kiai Thoha Kholili Jangkibuan, di situ tertulis pernyataan berbahasa Arab yang artinya: “Aku membaca (mengaji) kitab ini pada tahun 1274 H pada …”. Nama guru ngaji beliau tidak jelas karena tulisannya rusak seperti terkena basah.

Kemudian, dalam catatan Kiai Kholili Jangkibuan, tertulis bahwa Syekh Kholil menikah dengan Nyai Assek binti Ludrapati pada tahun 1278. Maka kita bisa memastikan bahwa kepulangan Syekh kholil dari Makkah adalah antara tahun 1274 dan 1278 (+ 1857-1861).

Sepulang dari Makkah, Syekh Kholil tidak langsung mengajar, beliau baru mulai berpikir bagaimana caranya agar dapat mengajarkan ilmunya pada masyarakat. Beliau masih tinggal bersama kakak beliau, Nyai Maryam, di Keramat. Sambil mencaripeluang untuk mengamalkan ilmunya, Syekh Kholil mengisi waktu dengan bekerja di kantor pejabat Adipati Bangkalan. Selain untuk mencari nafkah, sepertinya beliau juga bermaksud untuk mencari banyak teman dan kenalan, karena hanya dengan begitulah beliau dapat bergaul.

Di kantor pejabat Adipati Bangkalan itu, Syekh Kholil diterima sebagai penjaga dan kebagian jaga malam. Maka setiap bertugas malam, Syekh Kholil selalu membawa kitab, beliau rajin membaca di sela-sela tugas beliau. Akhirnya beliaupun oleh para pegawai Adipati dikenal ahli membaca kitab, sehingga berita itupun sampai pada Kanjeng Adipati. Kebetulan, leluhur Adipati sebenarnya adalahorang-orang alim, mereka memang keturunan Syarifah Ambami Ratu Ibu yang bersambung nasab pada Sunan Giri. Maka tidak aneh kalau di rumah Adipati banyak terdapat kitab-kitab berbahasa Arab warisan leluhur, walaupun Adipati sendiri tidak dapat mebaca kitab berbahasa Arab. Adipatipun mengizinkan Syekh Kholil untuk membaca kitab-kitab itu di perpustakaan beliau. Syekh Kholil merasa girang bukan main, karena pada zaman itu tidak mudah untuk mendapatkan kitab, apalagi sebanyak itu.

Setelah yakin bahwa Syekh Kholil betul-betul ahli dalam ilmu keislaman dan bahasa Arab, maka Kanjeng Adipati mengganti tugas Syekh Kholil, dari tugas menjaga kantor berubah tugas mengajar keluarga Adipati. Pucuk dicinta ulampun tiba, demikianlah yang dirasa oleh Syekh Kholil, beliaupun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengembangkan ilmunya dengan mengajar keluarga bangsawan. Beliaupun telah memiliki profesi baru sebagai pengajar ilmu agama.

Sejak saat itu, Syekh Kholil memiliki tempat yang terhormat di hati Kanjeng Adipati dan keluarga bangsawan lainnya. Mereka mulai menghormati dan mencintai beliau sebagai ulama. Maka tertariklah seorang kerabat Adipati untuk bermenantukan Syekh Kholil, yaitu Raden Ludrapati yang memiliki anak gadis bernama Nyai Assek. Setelah proses pendekatan, maka diputuskanlah sebuah kesepakatan untuk menikahkan Syekh Kholil dengan Nyai Assek. Pernikahanpun berlangsung pada tanggal 30 Rajab 1278 H (+1861 M).

Setelah menikah dengan Nyai Assek, Syekh Kholil mendapatkan hadiah dari sang mertua, Ludrapati, berupa sebidang tanah di desa Jangkibuan. Beliaupun membangun rumah dan pesantren di tanah itu. Beliau mulai menerima santri sambil masih mengajar di keraton Adipati. Tidak ada riwayat tentang sampai kapan Syekh Kholil mengajar di keraton Adipati, namun yang pasti, Pesantren Jangkibuan semakin hari semakin ramai, banyak santri berdatangan dari berbagai penjuru, baik dari sekitar Bangkalan maupun daerah lain di Madura dan Jawa.

Syekh Kholil mengukir prestasi dengan cepat, nama beliau cepat dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat pesantren, baik di Madura maupun di Jawa. Cepatnya nama beliau terkenal membuat banyak teman mondok beliau tidak percaya. Diantara mereka ada seseorang yang pernah berteman dengan beliau sewaktu mondok di Cangaan, orang ini tidak percaya bahwa Kholil yang ia kenal telah menjadi ulama besar.

Ketika ia mendengar bahwa Syekh Kholil itu adalah Kholil temannya di Cangaan, maka iapun berkata: “Masa, sih, dia Kholil yang dulu suka main kelereng dengan saya itu?!”. Karena penasaran, orang itupun datang ke Bangkalan. Setibanya di bangkalan, orang itu bertanya pada seseorang, “mana rumah Syekh Kholil?”. Orang yang ditanya menunjukkan arah rumah Syekh Kholil, namun ternyata orang Jawa itu justru melihat banyak binatang buas di tempat yang ditunjuk itu. Iapun kembali menemui orang yang ditanya tadi, tapitetap saja ia menunjuk tempat yang sama. Demikian sampai tiga kali.

“Tapi tempat itu bukan rumah, kok, pak. Di situ saya lihat banyak binatang buasnya.”

“Ah, masa? Baiklah, mari saya antar.”

Setelah ketiga kalinya, orang Jawa itupun diantar dan begitu tiba di tempat ternyata ia melihat sebuah rumah yang dikerumuni binatang buas, bersamaan dengan itu keluarlah Syekh Kholil dan binatang-binatang itupun langsung pergi. Melihat yang keluar adalah benar-benar Kholil yang ia kenal, maka orang Jawa itupun langsung mencium tangan Syekh Kholil dan meminta maaf. Sejak saat itu, orang Jawa yang dulunya berteman dengan Syekh Kholil di Cangaan itupun kemudian berguru pada Syekh Kholil.

Keindahan Panorama Pantai Camplong di Pulau Madura

artikel tentang: Keindahan Panorama Pantai Camplong di Pulau Madura

judul artikel: Tau Gak Tentang Keindahan Pantai Camplong di Madura

 

 

Banyak sisi keindahan panorama alam yang di suguhkan oleh Pulau Madura, salah satunya pantai camplong.

Pantai Camplong adalah salah satu kawasan wisata yang berlokasi di Madura. Pantai ini berada di desa Dharma Camplong, kecamatan Camplong, sekitar 9 kilometer dari pusat kota Madura.

Pengelolaan pantai Camplong sudah dilakukan cukup baik oleh pemerintah setempat. Di sana terdapat sarana pendukung bagi para wisatawan, seperti tempat penginapan, hotel, restaurant, cafe, warung makan, pasar wisata, tempat parkir, tempat ibadah, dan fasilitas lainnya.

Salah satu atraksi yang bisa kita lihat di pantai ini adalah atraksi “Wisata Semalam di Pantai Camplong”. Atraksi ini adalah pertunjukan seni dan hiburan rakyat, Kerapan Sapi Pantai, Wisata Budaya Rokat Tase, dan pertunjukan Sapi Sono.

Pantai Camplong memiliki pasir putih yang landai di sepanjang pantainya, dan dilengkapi dengan taman dan pohon cemara di sekitarnya. Biasanya pantai ini ramai oleh pengunjung pada weekend dan di sore hari. Pemandangan sunset adalah yang selalu ditunggu-tunggu oleh para wisatawan di sana karena menambah keindahan pantai tersebut.

Para pengunjung bisanya melakukan banyak hal di sekitar pantai, seperti bermain pasir, mandi di pinggir pantai, dan bermain di sekitar pantai Camplong. Keindahan alam di sana masih terbilang cukup alami dan cukup terjaga. Para pengunjung biasanya menikmati pemandangan di pantai Camplong sambil merasakan kesegaran kelapa muda yang dijual oleh pedagang di sekitar pantai.

Sekian dulu info menarik tentang keindahan pantai Camplong di Madura. Semoga artikel dari tim Sok Tau ini bisa memberikan manfaat buat kamu. Jangan lupa untuk like dan membagi informasi ini pada teman-teman kamu ya..

Menyingkap Keindahan Panorama Alam di Sumenep

artikel tentang: Menyingkap Keindahan Panorama Alam di Sumenep

judul artikel: Tempat Wisata Di Sumenep, Kota di Ujung Madura

 

 

Pulau Madura menyimpan banyak sekali kekayaan alam serta keindahan panoramanya yang patut diacungkan jempol. Temasuk salah satunya kota sumenep yang suasana alamnya masih dijaga.

Kabupaten Sumenep merupakan daerah paling ujung timur Pulau Madura, beragam potensi daerah terdapat di kabupaten yang memiliki jargon “The Heart Of Madura” ini. Mulai dari pesona alamnya yang unik hingga beragam pesona wisata religi dan dan wisata budaya.

Berikut beberapa Tempat Wisata di Sumenep:

  • Museum Keraton Sumenep

Sumenep merupakan satu-satunya daerah di Madura yang masih memiliki peninggalan Keraton dengan bukti sejarah paling lengkap dan terawat dengan baik, asli dan tanpa polesan. Tidak jauh berbeda dengan keraton Jogja dan Solo

  • Pantai Lombang

Pantai Lombang merupakan salah satu objek wisata pantai andalan Kabupaten Sumenep, selain keindahan pasir putihnya yang membentang luas, Pantai Lombang juga dihiasi dengan deretan pohon cemara udangnya, yang hanya terdapat di Sumenep dan Cina.

  • Pantai Slopeng

Pantai Slopeng merupakan salah satu tempat wisata di Sumenep yang menyajikan pemandangan pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan bukti pasir yang membentang hingga 3 km.

  • Masjid Jamik Sumenep

Masjid Jamik atau juga dikenal sebagai Masjid Agung Sumenep ini merupakan sebuah objek wisata religi, sekaligus destinasi budaya yang kerap di kunjungi para peziarah. Keunikan Masjid Agung Sumenep yang dibangun tahun 1763, terletak pada corak Arsitek yang menggabungkan Arsitek Jawa, Madura, Eropa dan Cina. Sebab Masjid ini di Bangun oleh Arsitek dari Cina. Dan masjid ini termasuk Masjid Tertua Di Indonesia.

  • Makam Para Raja Asta Tinggi

Makam Para Raja dan Sultan Sumenep yang masih berdiri kokoh, dan berada dalam sejumlah kompleks pemakaman. Dibangun diatas sebuah bukit 2 Km sebelah barat kota Sumenep. Menurut Legenda masyarakat Makam Pangeran Dipenogoro yang hilang juga terdapat di Asta Tinggi, sayang keberadaanya tidak dapat dipastikan.

  • Asta Yusuf

Merupakan makam dari Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Al Hasan, berada di Pulau Talango, 11 Km arah Timur Kota Sumenep. Menurut legenda masyarakat setempat lokasi makam tersebut awalnya ditemukan oleh Sultan Abdurrahman, salah Seorang Raja Sumenep. Masyarakat percaya makan Asta Yusuf merupakan makam salah satu keturunan Rasulullah yang menyebarkan agama Islam di Indonesia.

  • Wisata Kepulauan

Wisata kepulauan dengan deretan pulau nan indahnya sejak dari pulau kangean, sapudi, raas, puteran, gili labak, mamburit, genteng, gili iyang, pulau raja, dll. Wisata di daerah pulau Sumenep juga terkenal dengan Ayam Bekisar dengan warna-warni nan eksotik (hasil penyilangan ayam hutan dengan ayam kampung) dan ukiran kayu Jati buat buah tangan.
Berikut ini lokasi wisata kepulauan di Wilayah Kepulauan Sumenep:

    • Taman Wisata Pulau Mamburit

Bagi wisatawan yang hobi Menyelam dan menikmati keindahan alam bawah Laut, selain itu digunakan untuk wind surfing berskala nasional dan Internasional.

    • Taman Laut Pulau Gili Labak

Terletak antara Pulau Gili Genting dan Pulau Puteran, pulau ini cocok untuk olahraga Bahari, Selam Dasar ( Snorkling/ diving ), dan Selam Profesional (scuba diving).

Kerrapan Sapi Budaya Asli Pulau Madura

artikel tentang: Kerrapan Sapi Budaya Asli Pulau Madura

judul artikel: Karapan Sapi, Pacuan Sapi ala Madura

 

 

 

Kerapan Sapi pasti sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang Indonesia. Karapan Sapi merupakan budaya asli dari tanah Madura yang sudah dikenal sejak abad ke-14 M. Pada zaman dahulu sapi merupakan satu-satunya alat Transportasi tercepat yang ada di Madura dan banyak digunakan oleh masyarakat , Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.

Karapan Sapi merupakan budaya asli dari tanah Madura yang sudah dikenal sejak abad ke-14 M. Pada zaman dahulu sapi merupakan satu-satunya alat Transportasi tercepat yang ada di Madura dan banyak digunakan oleh masyarakat , khususnya masyarakat elite atau kerajaan. Karapan Sapi ini merupakan salah satu contoh budaya dan hiburan bagi masyarakat Madura yang telah turun temurun dilaksanakan.
Karapan Sapi sebuah istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura,Jawa Timur.

Macam-macam Karapan Sapi

  1. Kerrap Keni (Karapan kecil) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kecamatan saja dengan jarak tempuh sekitar 110 meter. Pemenangnya berhak untuk mengikuti even karapan yang levelnya lebih tinggi lagi.
  2. Kerrap Rajah (Karapan besar) merupakan karapan sapi yang levelnya se-tingkat Kabupaten saja dan pesertanya adalah dari para juara Kerrap Keni dengan jarak tempuh sejauh 120 meter.
  3. Kerrap Karesidenan (Gubeng) merupakan karapan sapi yang levelnya tingkat karesidenan yang diikuti oleh juara-juara dari empat kabupaten di Madura. Tempatnya adalah di Bakorwil Madura yaitu di kabupaten Pamekasan dan tepatnya pada hari Minggu yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim karapan.
  4. Kerrap Onjangan (Karapan undangan) merupakan karapan sapi khusus yang pesertanya berasal dari undangan suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Karapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu atau peringatan syukuran dan sejenisnya.
  5. Kerrap Jar-ajaran (Karapan latihan) merupakan karapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi kerap sebelum turun ke even yang sebenarnya.

Persiapan dan ritual

Sebelum dimulai alat-alat yang harus disiapkan diantaranya : kaleles, pangonong, tali pengikat, joki/sais, cambuk, kalung, selendang, air, ember (tempat jamu) serta saronen (alat musik tiup madura) dengan jumlah sembilan orang menggunakan pakaian adat Madura. Sebelum lomba dimulai, sapi-sapi ini akan di warm up atau pemanasan terlebih dahulu dengan mengelilingi lapangan yang diiringi oleh saronen, gendang, kelenong dan sebagainya sambil ngijung dan menari (penari remaja).

Beberapa menit sebelum dimulai, sapi kerrap tersebut dimandikan kemudian di olesi dengan spiritus yang sudah dicampur balsem dan jahe yang sudah ditumbuk halus. Selain itu sapi juga diberi minuman seperti obat kuat ,ramuan dan jamu rahasia lainnya agar sapi-sapi ini bisa berlari kencang dan kuat. Kaki-kakinya pun dipijat supaya tidak tegang saat perlombaan.

Selain sapi kerrap, pemilik sapi juga melakukan ritual khusus untuk menjaga sang sapi agar bisa memenangkan lomba. Karena pemilik sapi berkeyakinan dengan ritual tersebut dapat membebaskan sapi dari serangan gaib pihak lawannya sehingga perlombaan dapat dilakukan dengan kekuatan sebenarnya. Namun ada juga yang beranggapan ritual pemilik sapi juga dapat menambah kekuatan dari sapinya.

Anehnya para pemilik sapi ini merasa bahwa hadiah yang dimenangkan nanti bukanlah tujuan utamanya. Melainkan kepuasaan dan gengsi yang didapat apabila memenangkan perlombaan karapan sapi ini. Selain itu juga bisa meningkatkan nilai jual sapi yang menjadi juara karapan sapi ini.

Selain sapi yang merupakan faktor utama untuk memenangkan karapan sapi, joki/sais yang biasa disebut tukang tongko juga sangat penting posisinya. Selain bertugas mengarahkan lari sapi-sapi jantan yang melaju kencang, joki juga harus bisa memegang kendali dari garis start, menapakkan dan menyelipkan kaki diantara kayu (kaleles) yang ditarik oleh sapi itu sendiri. Keterampilan lainnya adalah kemampuannya untuk melepas tali kekang dan meraih kayu yang melintang pada kepala sapi apabila telah tiba pada garis finish. Hal ini dimaksudkan agar sapi dapat berhenti dan tidak lagi berlari dengan liar.

Pasar Tanjung Bumi Cerminan Masyarakat Madura

artikel tentang: Pasar Tanjung Bumi Cerminan Masyarakat Madura

judul artikel: Pasar Tanjungbumi, Cermin Kehidupan Masyarakat Madura

 

 

Banyak berbagai macam budaya dan seni yang dapat ditemui di Pulau Madura, salah satunya di pasaran, yang banyak penjual dan pembeli yang sedang berinteraksi satu sama lain.

Jika ingin menyelami kehidupan masyarakat di tempat kita berwisata, cara paling mudah adalah pergi ke pasar tradisionalnya. Interaksi dan beberapa jualan yang ada di situ dapat menjadi cermin kehidupan masyarakat sekitar. Tak jarang kita menemukan barang-barang yang langka.

Bagi Anda yang sedang berwisata di Madura, bolehlah mampir ke Pasar Tanjungbumi, Pamekasan, Madura. Meski terkadang di luar tampak lengang, aktivitas tetap berdenyut di dalam pasar. Letaknya yang di pinggir pantai membuat mereka yang suka masakan olahan laut seperti memperoleh harta karun. Hasil tangkapan nelayan membanjiri pasar ini di pagi hari.

Salah satu produk yang menarik di pasar ini adalah sabun tradisional Madura. Mereknya “Babon”. Meski di dekat pasar ada tiga toko swalayan besar berjejer, namun dijamin Anda tak akan menemukan sabun itu. Buku Bedah Pasar Suramaduma menyebutkan bahwa khasiat sabun ini bagi orang kebanyakan sangat banyak. Sementara jika dipakai untuk orang meninggal akan membawa aura enak dipandang.

Pasar Tanjungbumi juga menyediakan aneka batik khas Madura. Bahkan di beberapa rumah sekitar pasar kita dapat melihat proses membatiknya. Jangan ragu untuk menawar. Yang penting membeli dengan santai, seolah-olah tak butuh.

Produk lain yang dapat Anda temukan di pasar ini adalah produk-produk kewanitaan dan pendongkrak performa seks yang sudah melegenda. Jamu sari rapet, jamu empot-empot, jamu tongkat madura, dan bahkan ada jamu untuk sapi.

Nikmati pula kuliner khas Madura di Pasar Tanjungbumi.

Spesifikasi Masyarakat di Pulau Madura

artikel tentang: Spesifikasi Masyarakat di Pulau Madura

judul artikel: Sejarah Masyarakat Madura

 

 

Nama madura memang sudah dikenal dimana-mana, bahkan orang-orang Madura sudah tersebar di seluruh belahan dunia. Karena terkenal suka bekerja dan ulet, mereka banyak yang sudah mencicipi kehidupan di luar negeri.

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.

Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri. Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh”. Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.

Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan- kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan). Banyak persepsi masyarakat luar memberikan beberapa penilaian tentang Madura dan masyarakatnya, yaitu:

Pertama, rakyat Madura dinilai mempunyai watak keras, tidak mau mengalah. Penulis tidak tahu secara pasti apa yang mempengaruhi sampai mereka berstatement seperti itu, apa mungkin ada pihak- pihak yang tidak senang terhadap rakyat Madura sehingga ia membesar-besarkan berita yang sebenarnya berita tersebut tidaklah seperti yang ia pahami, dan ia sampaikan, atau berasal dari orang luar Madura yang kebetulan pada saat berkunjung ke Madura menemukan kejadian yang mereka anggap keras, seperti Clurit, dan Carok, atau malah berasal dari rakyat Madura yang tidak paham akan makna budaya Madura terutama Clurit sehingga ia menceritakan, dan menjelaskannya dengan penjelasan yang kurang tepat bahkan salah yang pada akhirnya Clurit identik dengan Carok sehingga Carok secara tidak langsung dianggap menjadi bagian dari budaya Madura. Pandangan ini – Clurit, dan Carok adalah kultur Madura – merupakan pandangan yang sudah tidak

asing lagi didengar dari ungkapan-ungkapan mereka ketika mendengar kata Madura, dan sudah tertanam dengan kuat dalam memori mereka bahwasanya Madura adalah wilayah berdarah yang penuh kekerasan, semua masalah hanya diselesaikan dengan kekerasan, dan pertumpahan darah.

Kedua, SDM rendah, pandangan mereka terhadap permasalahan ini tidak separah anggapan- anggapan terhadap tindakan-tindakan kekerasan yang pernah dilakukan rakyat Madura, ketika perspektif mereka terhadap clurit, dan carok sangat mendominasi mereka – bahkan hampir semua – memori mereka, namun dalam masalah ini masih bisa dibagi menjadi dua bagian, pertama yang menganggap rakyat Madura rendah, dan yang menganggap SDM Madura unggul. Yang menganggap SDM rakyat Madura rendah biasanya dari kalangan yang kurang memperhatikan secara langsung kualitas rakyat Madura, hal ini biasanya banyak terjadi diluar dunia lembaga pendidikan yang tidak berinteraksi langsung dengan rakyat Madura (siswa, atau mahasisiwa madura), atau bisa dikatakan orang-orang yang terpengaruhi oleh data-data jumlah lembaga yang dianggap menjadi ukuran kualitas SDM suatu wilayah tertentu, dalam hal ini biasa dilakukan oleh pemerintah, dan instansi formal lainnya, dan orang yang memandang Madura dari kejauhan, seperti masyarat biasa. Sedikitnya lembaga pendidikan yang ada di Madura, dan terbatasnya universitas berkualits menjadi alasan terkuat untuk mengatakan rakyat Madura adalah rakyat yang awam, tidak mengenal pendidikan, tidak berkompetensi dalam bidang keilmuan, buta teknologi, dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari Madura, sehingga muncullah sifat meremehkan terhadap rakyat Madura. Mereka beranggapan bahwa lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus merupakan pusat pembentukan SDM yang berkualitas, jadi bagaimana mungkin SDM bisa berkualitas jika tempat pemproduksinya terbatas (tidak memadai).

Ketiga, kemiskinan yang tidak tertangani. Berdasarkan hasil penelitian, yang tertera dalam buku- buku dan dipeta dunia sekalipun, bahkan realita yang ada, juga menyatakan bahwa pendapatan Madura bisa dikatakan hanyalah pertanian, karena mayoritas dan bahkan hampir keseluruhan rakyat Madura bercocok tanam, diantara yang sangat dibanggakan adalah tembakau, padi, jagung, kacang ijo, dan tanaman- tanaman kecil lainnya. Nah dari kondisi ini bisa ditebak, dan bisa digambarkan suasana perekonomian dimadura. Dan berdasar penelitian pemerintah tentang kondisi perekonomian disana, mereka menyebutkan bahwa pengangguran dimadura sedang merajalela. Sedikitnya lapangan pekerjaan, minimnyanya kreatifitas rakyat Madura menjadikan pengangguran berserakan diberbagai tempat, yang berakibatkan angka kemiskinan yang terus bertambah dari waktu kewaktu. Sempitnya pemikiran rakyat Madura yang menganggap bahwa PNS merupakan profesi yang sangat dan paling menjanjikan juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh/berperan dalam kemerosotan perekonomian dimadura. Padahal jika dicermati masih banyak pekerjaan yang jauh lebih menjanjikan terhadap makmurnya perekonomian disana, misalkan kreativitas diri – kerajinan khas Madura – batik Madura, dan kerajinan lainnya, dan perdagangan (bisnis) juga jauh lebih menguntungkan dari pada PNS. Dari beberapa analisis tadi, hasil musyawarah pemerintah menyebutkan bahwa permasalahan ini hanya bisa ditangani dengan mengadakan perindustrialisasi dikawasan Madura. Ketika perindustrian dibuka para investor akan berbondong-bondong menanamkan modal dimadura, namun masih ada beberapa kecemasan yang ada, dikuatirkan adalah adanya kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, jika demikian meskipun perindustrian di Madura berkembang dengan pesat, tapi bisa saja rakyat Madura tidak  mempunyai peran sedikitpuan, dan bahkan bisa saja mereka dijadikan budak para investor asing diwilayah sendiri, sehingga yang terjadi bukan ada perbaikan perbaikan perekonomian disana, malah yang ada hanyalah perbudakan, dan pemerasan terhadap rakyat Madura.

Keempat, berwajah paspasan, berpenampilan kolot, dan jadul. Entah darimana dan apa yang membuat beberapa orang di luar madura beranggapan demikian, tapi bisa jadi akibat dari rakyat Madura yang mereka kenal langsung mungkin rata-rata bercirikan seperti itu, sehingga muncullah perspektif yang sesuai dengan realita yang mereka dapatkan. Hal ini bisa dikatakan subyektifitas yang popular di masyarakat di luar Madura. Terlepas dari pandangan persepsi yang terkesan subyektif di atas adalah wajar-wajar saja, karena memang, kadang orang luar Madura kurang arif memberikan penilaian obyektif tentang streotif orang Madura yang sesungguhnya. Khasanah keunikan Madura juga merambah pada nilai – nilai budaya, yang mana hal tersebut perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: “Manossa coma dharma”, ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman”, menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam.” Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhuba’ a e budi”, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. “Asel ta’ adhina asal”, mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. “Lakonna lakone, kennengngana kennengnge” sama halnya dengan ungkapan “The right man in the right place”. “Pae” jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu”, nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Karkar colpe’”, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.

Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentukdan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Bahasan mengenai masyarakat Madura tidak akan lepas pada perkembangan sejarah masa lalu Madura di saat mendalami akar jaman sebelum dan sesudah masa kolonial Belanda.

Sesuai dengan geografi traditional (*Study Prof. DR. Kuntowijoyo) Madura adalah nama yang digunakan untuk sebuah kerajaan, yang kemudian bernama Bangkalan, di wilayah barat pulau utama Madura. Nama Madura ini oleh Belanda pada tahun 1857 dipergunakan untuk menggambarkan keseluruhan pulau yang mereka tetapkan sebagai keresidenan Madura, dengan ibu kota Pamekasan, dan dua asisten keresidenan di Bangkalan dan Sumenep.

Dalam upaya kolonial Belanda untuk menyusutkan kerajaan kerajaan pribumi sampai akhirnya untuk menghapuskan keberadaan kerajaan pribumi, pada tahun 1885 Belanda membagi Madura dalam 4 afdeeling dan 4 kabupaten. Dimana afdeeling dikepalai oleh asisten residen sedangkan kabupaten dikepalai oleh bupati. Pada pertengahan abad XIX pulau Madura banyak memiliki hutan-hutan, oro-ora dan rawa. Pada saat itu masyarakat Madura telah mengolah dengan cara ladang kering atau dikenal dengan istilah tegai, yang pada saat itu bukan hal yang lazim di terapkan. Saat itu di Indonesia masih mengenal 2 ekologi yaitu sawah dan ladang.

Suatu hal di Madura sukar untuk dilacak. Pamanfaatan tanah di Madura mengenal 4 tipe yaitu sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegai, dan sawah rawa. Untuk wilayah Madura utara dan selatan kondisi tanah di dominasi oleh susunan batu kapur dan endapan kapur. Kurangnya air dan jenis tanah ini merupakan rintangan besar bagi pertanian di Madura, dimana pertanian yang ada hanya mengandalkan air bawah tanah dan curah hujan. Perencanaan irigasi sebagai salah satu solusi masalah tersebut telah di pikirkan dalam administrasi regional 1884. Hal terbukti dengan adanya laporan resmi tahun 1928, keseluruhan tanah yang telah teririgasi sejumlah 13.111 bau, dengan sebagian besar wilayah barat dan selatan Madura.

Alam telah memaksa masyarakat Madura memilih jenis bibit padi yang mempunyai masa pertumbuhan singkat. Walaupun mereka kesulitan, orang Madura lebih intensif dalam pengolahan tanah dibanding rata rata orang jawa, hal ini terlihat dari tabel hasil panen padi rata-rata per bau, yang menarik pemanfaatan lahan dengan ladang kering (tegai) merupakan studi kasus tersendiri yang menarik perhatian peneliti asing sampai saat ini. Pada abad yang sama juga terjadi penebangan hutan besar- besaran, terutama hutan jati. Mengakibatkan banyak tanah yang tak terpakai dan banyak ditumbuhi alang- alang atau menjadi gundul. Proses  penebangan hutan Dengan luasan yang jauh lebih kecil daripada jawa hasil panen yang mereka capai cukup dominan bila dibandingkan dengan Jawa. Tidak hanya padi, secara data sejarah belanda, Madura memegang andil besar dalam produksi jagung.

Intensitas ini bukan berarti menjadikan masyarakat madura makmur. Bagi orang Madura, pemanfaatan bahan makanan pokok tergantung pada tanaman lain juga. Tanaman lain yang memberikan keuntungan bagi orang Madura dalam perdagangan diantaranya asam jawa, kapuk, dan pohon mangga. Walaupun demikian pertumbuhan tembakau di Madura cenderung meningkat, hal ini dikarenakan kemampuan tanaman tembakau beradaptasi terhadap variasi tanah dan kondisi air. Walaupun secara kuantitas meningkat tetapi secara kualitas sedikit mengecewakan karena tidak ada kesamaan standard masing-masing produsen untuk memperoleh nilai mutu yang seragam.

Keris Buatan Pulau Madura

artikel tentang: Keris Buatan Pulau Madura

judul artikel: Aeng Tong Tong, Desa Pengrajin Keris di Madura

 

 

Banyak keris yang dihasilkan dari pulau madura, keris asal madura ini memang tak kalah saing dengan keris daerah lain. Apalagi jika menyangkut masalah cara pembuatan keris yang begitu unik dan menarik.

Desa Aeng Tong Tong adalah satu-satunya daerah penghasil dan pembuat keris yang terdapat di Pulau Madura yang sampai bertahan dari Jaman Kerajaan Sumenep sampai sekarang, Desa Aeng Tong Tong sendiri terletak di sebelah barat laut Kecamatan Saronggi dan masih masuk kawasan Kecamatan Saronggi.
Mungkin anda belum familiar terhadap nama Desa Aeng Tong Tong bahkan di Sumenep dan Madura sekalipun belum terkenal tetapi anehnya Desa Aeng Tong Tong terkenal di luar negeri sebagai tempat untuk menemukan keris terbaik.
Desa Aeng Tong Tong dalam bahasa Madura yaitu mempunyai arti “aeng” itu adalah air sementara “tong –tong” itu adalah dibawa dengan cara dijinjing. Mungkin anda masih sedikit penasaran mengapa diberi nama demikian, alasannya karena letak geografis Desa Aeng Tong Tong yang ada di lereng bukit dan berbatu-batu, untuk mendapatkan air saja warga Desa Aeng Tong Tong bergantung pada 1 mata air yang terletak di bagian barat Desa Aeng Tong Tong.
Desa Aeng Tong Tong sendiri menurut sejarah adalah tempat, dimana para Raja-Raja di Keraton Sumenep mempercayakan kepada penduduk setempat untuk membuat keris, maka secara tidak langsung satu persatu penduduk desa aeng tong tong menjadi Mpu (Sebutan bagi orang yang membuat keris)
Konon pula keahlian itu merupakan hasil warisan dari Pangeran Bukabu, beliau merupakan para Guru Raja-Raja yang ada di Sumenep, secara tidak langsung pembuatan keris berlangsung sampai sekarang setelah sekian abad tetapi tetap bertahan sampai sekarang.
Pada masa penjajahan Belanda, banyak keris-keris dari Aeng Tong Tong dibawah ke Belanda sebagai oleh-oleh atau sebagai hadiah kepada para panglima perang sebagai tanda keberanian, sampai saat ini keris-keris Aeng Tong-Tong banyak diekspor ke negeri seberang seperti Brunei.Malaysia bahkan Eropa dan Amerika. Karena nilai seni yang terdapat di keris Aeng Tong Tong mempunyai nilai seni yang luar biasa.
Untuk jenis keris yang dibuat ada 2 macam yaitu untuk hiasan dan untuk keris bertuah, untuk yang hiasan dibuat sederhana saja pamor dan ukirannya atau juga tergantung pesanan, pamor sendiri adalah ukiran yang terdapat dibatang keris biasanya mengkilat karena pamor itu berasal dari batu meteor yang jatuh dari langit dan untuk yang bertuah biasanya mendapat perlakuan khusus yaitu ritual lelaku si Mpu dalam membuat keris dengan berpuasa dan sebagainya selama 3-7 hari tergantung tingkat kesulitan setelah itu baru dibuat dan selama proses pembuatan si Mpu tidak boleh bicara sedikitpun tetapi harus konsentrasi dalam pembuatan keris bertuah tersebut.
Sampai saat ini jumlah penduduk yang membuat keris di Aeng Tong Tong mencapai 90% dan sisanya adalah petani, untuk pesanan tidak pernah sepi disetiap harinya sehingga kalau anda berkunjung kesana pasti mendengar bunyi dentingan besi ditempa dan mesin gerinda berdering yang hamper menghiasi sudut-sudut desa.