Pesona Batik Madura

Dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) di Madura, sebenarnya semua kabupaten mempunyai pengrajin batik dengan ciri khasnya. Tetapi yang paling intensif dalam pemasaran, dan juga jumlah pengrajin yang cukup banyak ada di dua kabupaten yaitu Bangkalan dan Pamekasan.

Dan, setiap kabupaten mempunyai ciri khas masing-masing. Secara sekilas, batik Bangkalan lebih berwarna gelap dengan pewarnaan alami, desainnyapun cenderung konservatif dan klasik seperti desain lama, corak lebih kasar tetapi detail dan penuh, sedang untuk batik Pamekasan, lebih berani memilih warna-warna yang keluar dari ‘pakem’ seperti orange, hijau menyala, ungu, kuning dan warna pop lainnya. Untuk desain juga, batik Pamekasan lebih berani dan bervariasi dan desainnyapun sangat beragam. Pada batik Pamekasan, biasanya juga diisi dengan ‘serat kayu’ atau istilahnya mo’ ramo’ (akar-akaran) pada bagian yang kosong.

   

Gambar sebelah kiri, batik motif Bangkalan, sebelah kanan, batik motif Pamekasan.

Kalau dibandingkan dengan batik lainnya di nusantara, batik Madura akan kelihatan berbeda. Batik Madura sangat berani dalam warna, kontras dan beradu antar warna, desain tidak monoton dan asimetris, penggambaran desain juga naif dan tidak halus. Desain dan warna Itulah yang menjadikan ciri khas batik Madura yang sekarang ramai diburu.

Harga untuk batik Madura sangat bervariasi, mulai dari kisaran Rp 40 ribuan sampai jutaan, tergantung dari kerumitan desain dan teknik pembatikannya (kalau bahan dapat dipastikan, batik mahal akan memakai bahan yang baik tentunya). Survei ke beberapa tempat penjualan di Bangkalan dan Pamekasan, dengan kisaran harga Rp. 100.000,- kita sudah dapat membawa pulang batik dengan motif dan kwalitas yang bagus untuk dapat kita pakai sehari-hari.

Gambar: Batik Tanjung Bumi Gentongan, motif ‘get oget’..

Batik yang mahal dengan harga jutaan biasanya juga membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya, memakai pewarna yang alami (seperti saga dan mengkudu), dibatik dengan 2 kali proses pembatikan untuk luar dan dalam (sehingga tidak ada luar dalam) dan ditempat tertentu seperti Tanjung Bumi Bangkalan, dilakukan perendaman dalam gentong untuk membuat warna lebih awet dan semakin ‘muncul’ apabila dicuci. Teknik gentongan ada di Tanjung Bumi Bangkalan, dan dikenal dengan batik gentongan.

Jangan ragu-ragu untuk banyak bertanya kepada penjual batik Madura. Biasanya mereka akan menjawab dengan sebenarnya mana batik tulis, batik cap ataupun tekstil motif batik. Bahkan sekarang ada batik tulis dan cap. Misalnya, untuk sebagian latar seperti sulur-sulurnya yang memakan porsi sebagian besar area kain memakai batik cap, dan pengrajin menambahkan bunga-bunganya dengan tulis. Batik kombinasi cap-tulis ini yang sekarang beredar (walau tidak banyak), dan penjual tetap menamainya batik tulis. Untuk itu, tanyailah dengan detail, apalagi khusus pemburu batik untuk koleksi agar tidak tertipu.

Gambar: Kalau tidak teliti, batik diatas bisa batik cap-tulis, sebagian besar isian adalah cap, dan batik tulisnya hanya pada gambar bunganya saja.

Untuk membedakan batik tulis dengan batik cap-tulis, bagi yang teliti bisa dilihat dari coraknya, batik cap pasti ada sambungan, dan batik cap juga monoton dan simetris. Batik cap biasanya sudah ada jahitan pada tepian kainnya, sedangkan untuk batik yang murni tulis, tidak ada jahitan pada tepi kainnya.

Nah, sekarang dimana tempat di Madura yang banyak menjual batik-batik tersebut? Beberapa tempat akan saya tulis dibawah, terutama yang masih berupa pasar tradisional, karena harganya yang relatif lebih murah daripada kita berbelanja di toko atau butik batik Madura yang sekarang menjamur terutama setelah adanya jembatan Suramadu. Ditempat-tempat itu kita akan mendapatkan banyak pilihan motif batik Madura dari berbagai kabupaten. Meskipun kita berbelanja batik di Bangkalan misalnya, kita juga bisa mendapatkan batik dari kabupaten lainnya di Madura. Inilah beberapa tempat itu:

Bangkalan

Bangkalan merupakan tempat yang paling dekat dengan Surabaya, setelah menyeberang Suramadu, kita akan memasuki kabupaten Bangkalan. Karenanya, Bangkalan menjadi tempat yang paling berkembang dengan banyaknya pengunjung setelah Suramadu dibuka. Ada banyak tempat kuliner, toko souvenir dan oleh-oleh khas Madura, juga banyak toko batik yang buka di Bangkalan. Saya hanya menuliskan tempat jualan batik yang masih tradisional, seperti berikut:

   

Gambar: Pasar Ki Lemah Duwur

Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan. Letaknya ada di ring road kota Bangkalan, setelah Hypermart Bangkalan Plaza kalau dari arah Surabaya. Kalau dari jembatan Suramadu, kita menuju ke arah kota Bangkalan, dan kurang lebih 6 KM dari simpang Suramadu, sebelum masuk ke kota Bangkalan ada lampu merah simpang Junok, belok kiri yaitu Jalan Halim Perdanakusuma, dan tidak jauh dari simpang Junok kurang lebih 3 KM setelahnya, kita akan menjumpai pasar Ki Lemah Duwur.

Ada banyak pedagang batik madura di pasar itu, dan ada beberapa toko yang besar dan mempunyai koleksi yang lengkap. Harga sangat bervariasi, mulai dari Rp. 40.000,- sampai sekitar 2 jutaan. Jangan ragu untuk banyak bertanya kepada pedagang dipasar tersebut, mereka cukup ramah dan menerangkan asal kabupaten dari batik tersebut, juga mereka membedakan mana yang tulis, cap, dan tekstil motif batik, juga yang cap – tulis.

   

Gambar: Toko di Tanjung Bumi

Tanjung Bumi Bangkalan. Kalau kita langsung ke Tanjung Bumi Bangkalan, kita bisa langsung ke para pengrajin-nya. Tanjung Bumi merupakan kecamatan di Kabupaten Bangkalan, terletak 46 km ke arah utara kota Bangkalan. Dari arah Suramadu, kalau kita menuju ke Pasar Ki Lemah Duwur, di simpang Junok kita belok kiri, maka untuk menuju ke Tanjung Bumi, di simpang junok, kita lurus terus, dan setelah Rumah Sakit Umum Daerah Bangkalan, ada simpang tiga, belok kanan, dan ikuti jalan besar yang ada. Terus, ikuti jalan besar tersebut, kemudian kita akan bertemu simpang tiga berikutnya lalu belok kanan. Itulah jalan poros menuju kecamatan Tanjung Bumi. Sebelum sampai ke Tanjung Bumi, kita akan melewati kecamatan Arosbaya, Klampis, Sepulu dan baru Tanjung Bumi.

Para penjual batik di Tanjung Bumi tersebar di sekitar pasar Tanjung Bumi. Pada saat masuk ke kecamatan Tanjung Bumi, ada toko batik ‘Sumber Arafat’ yang lumayan besar, dan setelahnya ada beberapa toko yang tersebar baik besar dan kecil. Biasanya pengrajin batik-nya juga ada dibelakang toko tersebut. Ada juga yang seperti rumah biasa. Sebelah Polsek Tanjung Bumi ada jalan dimana beberapa rumah pengrajin batik sekaligus penjual bertempat tinggal. Pada gerbang jalan tersebut tertulis ‘Kampung Batik Desa Paseseh’, dan masuki gang tersebut, kita akan disambut dengan banyak rumah tempat pengrajin batik dan sekaligus showroom dari batik hasil kerajinan mereka.

Kampung Batik 2     Kampung Batik 1

Berkunjung langsung ke Tanjung Bumi kita akan dapat memastikan keaslian dari batik tulis tersebut, disamping kita juga bisa melihat langsung proses pembuatan batik. Kalau dari segi harga, beda tipis dengan yang dijual di Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan.

   

Gambar monumen Arek Lancor dan mural yang menghiasi salah satu sudut kota Pamekasan.

Pamekasan

Diantara kota lainnya, Pamekasan merupakan kabupaten yang paling intensif memasarkan batik, dan ingin mengidentikkan kotanya dengan sebutan kota batik. Pamekasan Kota Batik, itu slogan yang diusung. Dan agar gelar itu pantas disandang, Pamekasan memberikan beberapa ruang khusus untuk pedagang batik berjualan. Gapura dan mural bernuansa batik-pun banyak kita jumpai di Pamekasan, menjadikan kotanya terlihat indah dipandang.

Inilah dua tempat yang disediakan oleh pemda Pamekasan sebagai tempat transaksi batik tradisional.

   

Gambar Galeri batik dan suasana ruang dalamnya

Galeri Batik. Berlokasi di Jalan Jokotole Pamekasan. Untuk menuju ke Jalan Jokotole, apabila anda memasuki kota Pamekasan, dipusat kotanya berdiri monumen Arek Lancor yang merupakan landmark kota Pamekasan, putari monumen tersebut dengan mengambil ke arah kanan, kemudian didepan tower PDAM, belok kanan lagi dan langsung ambil kiri, terus, dan setelah lampu merah perempatan, persis setelah jembatan, disebelah kiri, berdiri gedung Perpustakaan Umum Pamekasan, Galeri Batik berada diarea yang sama dengan Perpustakaan Umum tersebut. Terpampang sign board ‘Galeri Batik’. Gedung dua lantai tersebut dikhususkan untuk para pedagang batik, yang menempati lantai dasar dan lantai dua.

Harganya cukup bersaing. Disamping menjual kain batik, pakaian yang siap pakaipun juga banyak dijajakan. Untuk baju misalnya, dengan minimal Rp. 60 ribu kita sudah mendapatkan baju siap pakai dengan kwalitas yang lumayanlah, kalau ingin lebih bagus, yah lebih mahal lagi dong, hehehehe…

   

Gambar Sentra Batik Pamekasan

Sentra Batik Tradisional Pasar 17 Agustus. Berlokasi di Jalan Pamekasan. Kalau dari arah monumen arek lancor, kita mengambil ke arah kiri, melewati Pasar Sore Pamekasan, kemudian kita akan melewati lurus lampu merah pegadaian, setelahnya, didepan SMK Negeri Pamekasan, ada pertigaan, kita ambil ke kanan, lurus, memasuki Jalan Pintu Gerbang dan setelah sekitar 4 km, disebelah kiri ada pasar dan didepannya ada gerbang dengan tulisan Sentra Batik .

Pada hari-hari biasa ada puluhan pedagang batik yang membuka toko disitu, tetapi pada hari pasaran batik, yaitu hari Kamis dan Minggu, tempat ini akan jauh lebih ramai lagi, dimana pengrajin batik juga banyak yang langsung berjualan. Harga sedikit lebih murah, tetapi pandai-pandailah menawar untuk tempat tradisional seperti ini.

Untuk Sampang, tidak ada pasar khusus bagi pedagang batik, beberapa pedagang batik berpencar membuka toko sendiri, itupun tidak terlalu banyak. Sedangkan di Sumenep, ada pasar khusus untuk berdagang batik, yang akan kami buat tulisannya setelah berkunjung kesana, yah doakan aja ada kesempatan untuk mengunjunginya…

Pesona Tempat Wisata Di bangkalan Madura

Berikut Tempat Tempat Obyek Wisata Di Pulau Madura

1. Bangkalan :

    Makam Pasarean Syaichona Kholil (Selalu ramai dikunjungi wisatawan dari luar Pulau Madura)

    Aer Mata Ibu di Arosbaya (Makam Para Raja Ratusan Tahun Silam)

    Pantai Siring Kemuning ( di Kecamatan Tanjung Bumi )

    Pantai Rongkang ( di Kecamatan Kwanyar Barat )

    Pantai Sembilangan ( dengan mercusuar peninggalan belanda )

    Sentra Kerajinan Batik Madura di Tanjung Bumi (sudah terkenal hingga ke Luar Negeri dan seringnya diekspor)

    Sumber Mata Air Kolla Langgundih ( tetap Tawar meski di dekat laut, dan tidak pernah kering meski di puncak Kemarau)

    Taman Rekreasi Kota ( dengan Danau plus Perahu Motornya dan Kolam tempat Mancing sepuasnya )

    Bukit Geger (wisata alam dan hutan, terdapat 5 goa bersejarah, situs kuno)

2. Sampang :

    Pantai Camplong ( di pinggiran Jalan Raya Utama Sampang, lengkap dengan Hotel, Rumah makan dan Kolam Renangnya )

    Pantai Nipah ( masih tetap perawan dan jarang di explore oleh manusia, banyak dihuni oleh sekawanan Kera )

    Air Terjun Toroan ( mengucurkan air langsung ke pantai Laut Jawa, masih perawan )

    Makam Ratu Ebu di Madegan

    Waduk Klampis di Kecamatan Kedundung

3. Pamekasan :

    Api Abadi atau Api Tak kunjung Padam, Lebih menarik saat Malam dengan bara Apinya ( pernah menjadi tempat pengambilan API PON (Pekan Olaharaga Nasional) tahun 1992 )

    Makam para Raja dan Ulama ( makam Keramat Pasarean Batu Ampar )

    Pantai Talang Siring, dengan potensi hasil lautnya berupa ikan teri, petis, dan rumput laut yang menjanjikan ( Masih Perawan Tuh, ” Ada Yang Mau Berinvestasi disana ? ” )

    Pantai Jumiang ( ini juga masih Perawan, belum ada Perusahaan Pengembang yang menjamahnya, ” Anda Mau jadi pengembangannya ? ” )

    Goa Gentong ( terdapat lembah Ngarai di luarnya; STALAGTIT dan STALAGMIT di dalam Goa nya )

    Arena Pancing di Pelabuhan Branta ( Tlanakan )

    Bumi Perkemahan dan Agro Wisata di Perbukitan Waru Timur (pagentanan)

    Keindahan Monumen Arek Lancor Di malam hari (terletak di pusat kota/Alun-alun Kota Pamekasan)

    Vihara Avalokitesvara, Vihara Terbesar Kedua di Pulau Jawa (terletak di Kecamatan Galis, berdekatan dengan pantai Talang Siring)
    Agro Wisata di Desa Klampar

4. Sumenep :

    Musium Keraton Sumenep (satu-satunya Keraton dengan bukti sejarah paling lengkap dan terawat baik, asli dan tanpa polesan, mengalahkan keraton jogja dan solo )

    Pantai Lombang ( Dihiasi dengan deretan Pohon Cemara Udangnya, hanya terdapat di indonesia dan cina)

    Pantai Slopeng ( selalu ramai dengan wisatawan yang mandi pada hamparan pantai dengan pasir putihnya )

    Makam Para Raja Asta Tinggi ( Makam Para Raja ratusan tahun silam ) dan Asta Yusuf Talango

    Keindahan dan Kemegahan Bangunan Masjid Agung Sumenep yang dibangun tahun 1763 (setelah pembangunan keraton sumenep)

    Island Resort ( wisata kepulauan dengan deretan pulau nan indahnya sejak dari pulau kangean, sapudi, raas, puteran, gili labak, mamburit, genteng, gili iyang, pulau raja, dll)

    wisata pulau juga terkenal dengan Ayam Bekisar dengan warna-warni nan eksotik (hasil penyilangan ayam hutan dengan ayam kampung) dan ukiran kayu Jati buat buah tangan.

    Taman Wisata Pulau Mamburit ( bagi wisatawan yang hobi Menyelam dan menikmati keindahan alam bawah Laut, selain itu digunakan untuk wind surfing berskala nasional dan Internasional)

    Panorama Taman Laut Pulau Gili Labak, terletak antara Pulau Gili Genting dan Pulau Puteran ( biasa digunakan untuk olahraga Bahari, Selam Dasar ( Snorkling/ diving ), dan Selam Profesional ( scuba diving )

Wisata Kerapan Sapi dan Sapi Sonok
Untuk melihat Kerapan Sapi tidak bisa tiap saat. biasanya untuk Lomba Karapan Sapi tingkat Kawedanan/ kecamatan diadakan bulan Agustus-September.
untuk tingkat Kabupaten diadakan pada bulan September-Oktober. Untuk Tingkat Pembantu Gubernur/ Se-Pulau Madura (memperebutkan Piala Presiden RI, yang biasanya disebut “Kerapan Sapi Gubeng” ) bertepatan dengan Bulan Oktober-Nopember.

Selain itu, acara Acara Kerapan Sapi juga bisa bersifat insidental, tergantung permintaan Empunya Yang punya Hajatan.

Untuk Lomba Sapi Sonok, biasanya hanya untuk mengawali acara Lomba Karapan Sapi dan acara-acara

Adat Perkawinan Orang Madura

Sistem kekerabatan dalam masyarakat Orang Madura sudah tertata baik dan penggunaan istilah dalam keluarga misalnya sudah jelas , antara orangtua, anak serta lainnya yang menyangkut keturunan , seperti nenek, kakek ,paman, bibi , keponakan , ipar, dan lainnya.

Pemisahan tersebut sudah demikian jelasnya sebingga dalam perkawinan misalnya tidak terjadi hal-hal di luar budaya kemanusiaan . Dalam kaitan ini etnik Madura telah mengatur dan membudayakan beberapa hal yang sebenarnya juga dimiliki etnik-etnik lain yang sudah beradap. Dt antara aturan-aturan tersebut dapat klta lihat pada Adat Perkawinan.

Bagi etnik Madura perkawinan merupakan perbuatan yang dimulyakan . Bagi Orang Madura menikahkan anak perempuannya merupakan sesuatu yang memberi “gengsi. Menurut paham “Madura Lama“ makin cepat anak perempuannya menikah makin cepat pula gengsi itu diperolehnya.

Karena itu pada masa lalu banyak dari anak perempuan Madura yang dinikahkan di bawah umur. Tentu saja keadaan seperti itu sangat merepotkan Kantor Pencatat nikah sebab di situ ada aturan tertentu yang membolehkan seseorang melakukan pernikahan , sebut saja bahwa pernikahan bisa dilakukan dalam usia tertentu baik bagi Si Laki-laki maupun Si Perempuan, pasti sekali anak di bawah umur tidak diperkenankan menikah.

Hal ini sudab dipertegas dalam Undang-Undang Perkawinan kita bahwa usia boleb menikah bagi laki-laki paling sedikit berusia 20 tahun dan 16 tahun bagi Si Perempuan.  Perkawinan di Madura pada umumnya melalui proses pertunangan , namun dalam hal perkawinan ini ada hal yang sangat dihindari yaitu pernikahan yang dinamakan :

1.    Robbhu bhata ( Bbs Indonesia : batu bata roboh ) merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki bersaudara menikahi dua perempuan yang bersaudara pula.

2.    Salep tarjha ( Bahasa Indonesia : saling menendang, menyilang ). Pernikahan “Salep tarjha ” ini merupakan pernikahan dari dua orang laki-laki dan perempuan bersaudara menikah dengan dua orang laki-laki juga bersaudara.

3.    Mapak Balli (bertemu wali ). Pernikahan ini dinamakan demikian karena ayah dari kedua mempelai bersaudara. ltulah tiga bentuk pernikahan yang sedapat mungkin dihindari oleh Orang Madura.

Tradisi Tunangan Diarak Keliling Desa Dengan Kuda Hias di Bulan Asyuro

Tradisi bertunangan bagi warga Desa Jangkong, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur sangat berbeda dengan daerah lain. Bila lamaran tunangan atau hajatan lainnya tepat pada Bulan Asyuro, maka harus mendatangkan kuda lebih dari 27 ekor dan diarak keliling desa setempat.

“Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan. Jika punya hajat atau bertunangan pada Bulan Asyuro, harus mendatangkan kuda hias minimal 27 ekor. Jika tidak, akan ada masalah dikemudian hari,” kata Nayatullah Bin Superrang, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Diakui, memang jarang warga yang menggelar hajatan atau melamar gadis pada saat Bulan Asyuro, karena prosesinya membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Bahkan, bila membutuhkan kuda dalam jumlah banyak, harus mendatangkan dari luar Sumenep, semisal dari Bangkalan dan Sampang.

Kuda-kuda yang dihias itu ditunggangi oleh orang yang mempunyai hajat atau yang bertunangan beserta anak-anak dari keluarga besarnya dengan menggunakan “Pangantan Jamang” yakni bagian kepala di pasang sebuah mahkota yang di buat dari rangkaian daun nangka, dan roncean bunga melati.

Aksesoris pengantin agar tampil menarik adalah rumbaian dari roncean daun melati (to’oran dhaun malate) yang digantungkan di leher, serta dilengkapi pula sumping daun kamboja, gelang kaki dan beberapa pelengkap bawaan yang di bawa oleh pengiring.

Musik tradisional berupa saronen juga dihadirkan, sehingga acara tersebut menarik perhatian dan menjadi tontotan gratis warga setempat. Uang saweran pun mengalir saat diarak keliling desa kepada pemilik kuda-kuda hias tersebut. Bahkan, sebagai bentuk kebahagiaan, tak jarang diantara keluarga yang mempunyai hajat, berjoget dengan seorang perempuan cantik yang menggunakan pakaian adat Madura.(htn)

Nikmatnya Wisata Kuliner Ayam Brewok Sakera Khas Sumenep

Makanan ini memang beda dengan makanan ayam pada umumnya. Dalam penyajiannya selalu ada rempah-rempah digoreng kering yang ditabur diatas potongan ayam kampung.

Kuliner yang satu ini bikin ketagihan bagi penikmat makanan khas Sumenep, Madura, Jawa Timur. Namanya, “Ayam Brewok Sakera”.
Terasa renyah, empuk dan rendah kolesterol. Bumbu diatas potongan ayam itulah yang disebut “Brewok”. Pengambilan nama Sakera lebih identik dengan identitas budaya Madura.

Pemilik Rumah Makan “Ayam Brewok Sakera” Nur Putria Kadarsih mengungkapkan, pemilihan nama Ayam Brewok Sakera karena ingin ada sesuatu yang berbeda.

“Awal didengar orang pasti ingin tahu Ayam Brewok Sakera. Rasanya memang berbeda dan sudah banyak konsumen, baik yang datang langsung maupun yang pesan saat ada acara rapat kantor swasta maupun pemerintahan,” katanya senang.

Rumah makan Ayam Brewok yang beralamat di Jalan Letnan Merta Nomor 16, Karangduak, Sumenep ini tidak hanya menyediakan menu Ayam Brewok, namun ada Lele Brewok, Bebek Brewok, dan Telur Brewok. “Semuanya memang menggunakan brewok. Dan ini menjadi ciri khas disini,” ujarnya.

Dalam satu porsinya, Ayam Brewok hanya dipatok Rp 15.000 (Lima belas ribu rupiah.(htn)

Tempat – Tempat Wisata Di Kab. Bangkalan

Bangkalan merupakan salahsatu dari sekian banyaknya kabupaten yang berada di provinsi Jawa Timur. Bangkalan terletak di ujung paling barat Pulau Madura yakni tepatnya disebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa dan disebelah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Sampang dan diselatan berbatasan dengan Selat Madura .
Jika anda sedang mencari lokasi seputar tempat wisata yang ada di bangkalan,dibawah ini adalah beberapa tempat wisata Bangkalan yang mungkin bisa anda jadikan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu liburan anda bersama keluarga.
Pantai Rongkang 
Pantai Rongkang Bangkalan ini merupakian sebuah objek wisata berupa pantai yang terletak di Kwanyar, 10 km dari Dari jembatan Suramadu ke arah Timur menuju Kwanyar. Terdapat bukit berundak bertinggian 20 – 25 mdpl, dengan lampu-lampu kapal pada malam hari.
Pantai Sambilangan 
Pantai Sambilangan ini merupakan sebuah objek wisata berupa pantai dengan hamparan pasir putih yang terletak di Desa Sambilangan, sekitar 7 km dari Kota Bangkalan. Di tempat inilah terdapat Mercusuar yang dibuat pada jaman Belanda itu.
Pantai Siring Kemuning 
Pantai Siring Kemuning ini merupakan sebuah objek wisata bertajuk pantai yang tidak kalah indahnya jika dibanddingkan dengan objek wisata pantai yang ada dikota Bangkalan.Yang mana pantai ini terletak di Desa Mecajah, Kecamatan Tanjung Bumi, dengan pasir putih, tempat bermain anak-anak, sekitar 45 Km arah Utara Kota Bangkalan.
Kuburan Aermata (Air Mata)
Wisata bersejarah Kuburan Aermata (Air Mata) ini terletak di Desa Buduran, Arosbaya, 11 km utara Kota Bangkalan, yang merupakan makam Raja-Raja Madura. Makam ini bertingkat-tingkat seperti kebanyakan kompleks makam raja-raja.
Museum Cakraningrat
Wisata sejarah Museum Cakraningrat ini lokasinya berada di Jl. Soekarno Hatta, sekitar 1.5 km dari pusat Kota Bangkalan, yang menyimpan benda-benda pusaka dan budaya peninggalan Kerajaan Madura Barat.
Batik Tanjung Bumi Bangkalan
Objek wisata Batik Tanjung Bumi Bangkalan ini terletak di Tanjung Bumi yang merupakan sentra batik, letaknya 50 km sebelah utara Bangkalan, dengan motif batik tulis pesisir yang menggunakan warna-warna tajam berani.
Makam Sultan Abdul Kadirun
Wisata sejarah Makam Sultan Abdul Kadirun ini letaknya berada di Jl. Sultan Abdul Kadirun, di belakang Masjid Agung Kota Bangkalan. Raden Abdul Kadirun adalah Sultan Bangkalan II, menggantikan Panembahan Adipati Tjakraningrat I.
Makam Muhammad Syaikhona Kholil
Wisata sejarah Makam Muhammad Syaikhona Kholil adalah sebuah makam seorang ulama besar Madura, salah satu guru dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Ia juga mewariskan perahu yang kabarnya masih dirawat dengan baik.
Mercusuar
Objek wisata Mercusuar ini terletak di Ujung Piring, Kecamatan Socah, sekitar 7 km dari Bangkalan, tinggi 78 m, diresmikan Z.W Williem II pada 1879, untuk memandu kapal yang masuk ke Tanjung Perak.
Bukit Geger
Objek wisata Bukit Geger ini terletak di Desa Geger, Geger, 30 Km dari Bangkalan. Ada patung kuno, hutan Akasia, Mahogani, Jati, Lembah Palenggiyan, Situs Pelanggiran, Goa Petapan, Goa Potre, dan lain lain

Mengenal Pakaian Adat Tradisional Madura

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa

Nama pakaian

  • Bagian atas : Baju Pesa’an.
  • Bagian bawah : Celana Gomboran.

Perlengkapan pakaian :

 Bagian kepala :

  • Odheng santapan, bahan kain batik biasa, motif telaga Biru atau Storjoan, Warna merah soga. Ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. seperti pada umumnya ikat kepala yang Bentuk berbentuk segitiga.
  • Odheng tapoghan, bahan kain batik biasa, motif bunga atau lidah api. warna merah soga, ukuran sesuai dengan lingkar kepala si pemakai. Bentuk : seperti pada umumnya ikut kepala yang berbentuk segitiga, hanya di bagian atas kepala tidak tertutup.

Pakaian bagian atas :

  • Baju Pesa’an Bahan kain cina (dahulu) kain Lasteng tiu, atau Tetoron (sekarang), motif  polos Warna hitam, ukuran serba longgar tidak pas badan, ukuran pinggang dan pipa celana lebar, menyerupai sarung bila dibentangkan, panjang celana sampai mata kaki. Adapun ciri khas dari celana Gomboran ini pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti pada umumnya celana panjang bia­sa tetapi tidak memakai kolor.
  • Sarong Bahan : sarong Samarinda memakai bahan sutra sedang sarong plekat terbuat dari katun. Motif : ke-2 sarong bermotif kotak-kotak besar ± 5 cm, warna sarong samarinda berwarna menyolok mema­kai benang emas, sedang sarong plekat berwarna dasar putih dengan kotak-kotak berwarna biru atau hijau, ukuran seperti pada umumnya sarong yang lain. Bentuk : seperti pada umumnya sarong yang lain.
  • Ikat pinggang sabbuk katemang Raja atau sabbuk katemang kalep, bahan kulit sapi, motif polos, warna coklat atau hitam, ukuran seperti pada umumnya ikat pinggang yang lain, bentuk lebar ada kantung di depannya untuk menyimpan uang.

Senjata terbagi atas beberapa jenis :

  • Gelati cap garupu/ mata buatan Jerman. Bahan : besi baja Motif : polos Wama : warna besi baja. Ukuran : vang terpanjang 40 cm. Bentuk : seperti pisau dapur, pada umumnya hanya ujungnya runcing.
  • Piol adalah Gobang yang kecil Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : pas dengan badan. Bentuk : seperti pisau dapur pada umumnya.
  • Are/Sabit atau clurit, merupakan senjata kelas menengah Bahan : besi baja Motif : polos Warna : warna besi baja. Ukuran : beratnya rata-rata 450 gr. Bentuk : seperti sabit atau clurit pada umumnya. Are/sabit terbagi atas beberapa kelas.
  • Takabuan terbuat dari besi tempaan bermutu terbuat dari besi bekas keris sehingga pamornya tampak. motif  polos, warna besi, ukuran paruhnya pas lengkung perut, bentuk  melengkung seperti bulan sabit, namun agak lebar di bagian tengah dan tebal di punggungnya. Mata pisaunya (paruhnya) lebar dan kemudian mengecil ke arah ujungnya (ujungnya berbentuk lancip). Takabuan biasanya tidak bersarung kecuali yang berukuran kecil. Hanya bagian paruhnya yang ditutupi oleh sarung yang terbuat dari kulit atau rotan (Madura : Selotong).
  • Lancor ayam/bulu ayam atau Kembang toroy/kembang turi, bahan, loyang biasa hasil tempaan pandai besi, se­dang gagangnya terbuat dari kayu sawo, motif polos , warna paruhnya berwarna besi dan gagangnya ber­warna coklat, bentuk melengkung seperti ekor ayam jago, bagian paruhnya sempit, makin ke ujung makin runcing, ga­gangnya bulat panjang seperti bentuk Takabuan dan biasanya diberi paksei tembus agar lebih kuat, namun ada juga pakseinya yang tidak besi baja polos
  • Gobang Bahan besi baja, motif  pada umumnya tembus, warna besi, ukuran  lebih besar dari piol, bentuk : seperti pisau dapur.
  • Calo Montor merupakan senjata kelas berat, bahan besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan (racun). Motif polos, warna hitam (warna besi), bentuk seperti are tapi mempunyai gagang kayu yang panjang. Calo Montor, macamnya antara Lain 🙁1.) Amparan/Labasan Bahan Besi bekas keris yang ditempa dan diberi warangan. warna besi. Motif polos Ukuran beratnya rata-rata 11 ons. Bentuk seperti Calo Montor tetapi paruhnyamenghadap ke luar. (2.) Clonot Bahan motif polos Warna warna hitam besi Bentuk sama seperti Calo Montor tetapi paruh­nya menghadap ke dalam.

Pakaian Resmi Pria Remaja,  Rakyat Biasa.Alas kaki : Terompah bahan  kulit sapi,  ukuran  sesuai dengan ukuran kaki si pemakai, bentuk terbuka tetapi di bagian ujung depan dan belakang terdapat suatu tali sebagai penjapit yang terbuat dari bahan sama. Fungsi alat penjepit ini untuk pengikat antara ibu jari dengan jari yang lain.

Cara memakai pakaian: mula-mula dikenakan celana Gomboran. Caranya setelah ke dua kaki masuk ke kaki celana, kemudian bagian atas celana dilipat ke kiri lalu ke kanan. Setelah itu dilipat ke arah perut dan digu- lung dari atas seperti halnya memakai sarong, sampai panjang ce­lana menjadi 3/4. Sebagai penguat celana memakai sabbuk Katemang Raja (bagi orang kaya) atau sabbuk katcmang kalep. Ke- mudian untuk bagian atasnya dipakai baju kaos. tetapi kadang- kadang ada yang tidak. Setelah itu baru dikenakan baju Pesa’an. Lalu mengenakan odheng santapan atau odheng Tapoghan. Ada- pun cara mengenakan odheng Tapoghan •

Setelah tepi dilipat maka puncak kain diletakkan terbalik (bagian yang lebar berada di bawali). Puncak kain tersebut di taruh di sebelah kiri atau kanan kepala. Jika si pemakai berjalan maka puncak kain yang lebar itu bila tertiup angin akan menepuk (Madura : Napok) si pemakai odheng Tapo- ghan. Sedang jika memakai odheng Santapen, di bagian atas kepala terbuka sedikit sehingga rambutnya kelihatan. Selain memakai baju Pesa’an dan celana Gomboran, ada juga yang melengkapinya dengan sarong. Bila orang itu mampu, ia memakai sarong Samarinda dan orang biasa memakai sarong plekat. Adapun cara memakainya bila sarong disampirkan di bahu namanya eka sandang dan bila di lilitkan di pinggang namanya eka samhung.

Fungsi pakaian

Pakaian dapat berfungsi praktis bila dilihat dari bentuknya yang serba sederhana, bebas dan ringkas. Pakaian ini tidak hanya dapat dipakai untuk ke acara remo (resmi) tetapi juga dapat dipergunakan di rumah. Fungsi lainnya lagi adalah estetis. Apabila dilihat warnanya, warna merah-putih pada kaosnya kontras dengan warna baju pesa’an yang berwarna hitam. Selain ke dua fungsi itu, masih ada fungsi yang lain, yaitu fungsi khusus. Fungsi ini merupakan cermin dari nilai budaya lokal Madura khususnya untuk rakyat biasa.

Fungsi Sarong

Selain sebagai perlengkapan ibadah (sholat), dapat pula digu- nakan sebagai hiasan baju dengan sara disampirkan di bahu.

Arti simbolis :

Kaos lorek merah-putih mempunyai arti bahwa manusia berasal dari Bopo-Biyung (bapak-ibu). Selain itu warna merah dan putih dengan garis yang tegas melambangkan kegagahan, dari jiwa dan semangat berjuang yang gigih. Berjuang dalam melawan musuh maupun mencari naf- kah.

Warna pakaiannya yang hitam mempunyai arti simbolis sesuatu yang murni. Theori di sini berarti dalam segala tindakan orang Madura tidak ragu-ragu, menunjukkan suatu ketegasan hidup. Apa yang diperbuat sudah diper- hitungkan secara matang

Indah nya Menikmati Wisata Kuliner dan Berburu Souvenir Di Pasar Bangkalan

Pasar Wisata Bangkalan merupakan salah satu tempat wisata belanja yang banyak diminati oleh para wisatawan yang berlibur ke Madura. Pulau di dekat Surabaya ini memang menjadi tujuan wisata yang menarik bagi para wisatawan. Wisatawan yang berlibur ke sana biasanya akan membeli berbagai macam oleh – oleh khas Madura dan mencicipi sajian kuliner khas daerah tersebut.

Tidak dipungkiri bahwa wisata belanja memang seolah – olah telah menjadi suatu agenda wajib saat seseorang sedang berlibur ke suatu tempat. Rasanya kurang lengkap jika berwisata tetapi tidak membeli sesuatu yang khas dari daerah tersebut. Demikian halnya ketika Anda sedang berlibur ke Madura.

Jika Anda sedang berkunjung ke Madura, tidak lengkap rasanya jika tidak menyambangi Pasar Wisata di sana. Pasar wisata tersebut terletak di area Pasar Ki Lemah Duwur Bangkalan atau tepatnya berada di Jl Halim Perdana Kusuma Bangkalan. Sesuai dengan namanya, pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk berburu aneka souvenir khas Madura. Berbagai macam pilihan souvenir dapat Anda temukan di pasar ini.

Kehadiran pasar wisata ini memang sangat membantu para pecinta hasil kerajinan batik tulis Madura untuk membeli kain batik khas Madura dan aneka souvenir sebagai oleh – oleh untuk dibawa pulang. Dengan adanya pasar ini, wisatawan tidak perlu repot – repot untuk mencari batik dan kerajinan khas Madura di tempat lain.

Pasar wisata ini tidak hanya menjual berbagai macam souvenir khas Madura, tetapi di sana Anda juga dapat menemukan aneka macam makanan khas Madura yang menarik untuk dicicpi.

Pasar Wisata Bangkalan di Madura ini merupakan salah satu sumber pemasukan untuk pemerintah Kabupaten Bangkalan. Keputusan untuk menjadikan pasar wisata yang berada di pasar tradisional KLD (Ki Lemah Duwur) sebagai tempat wisata belanja bagi para wisatawan merupakan sebuah kebijakan yang tepat yang telah dilakukan oleh RKH Fuad Amin, mantan Bupati Bangkalan.

Kehadiran pasar ini mampu meningkatkan penghasilan daerah. Apalagi dengan adanya jembatan Suramadu, jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Madura, terutama ke Kabupaten Bangkan semakin banyak. Hal itu sangat dirasakan oleh para pedagang yang berjualan di pasar ini.

Jika selama ini Anda menganggap bahwa kain batik tulis hanya dapat dijumpai di Cirebon, Pekalongan, Solo dan Jogja, Anda juga dapat menemukan kain batik yang tidak kalah unik dan cantik di pasar wisata ini. Berbagai macam pilihan kain batik dengan berbagai corak dan harga dapat Anda jumpai saat berkunjung ke pasar ini.

Di Pasar Wisata Bangkalan deretan penjual batik menawarkan barang dagangannya dengan ramah. Batik 0 batik khas Madura cenderung memiliki warna yang cerah dan memiliki corak yang berbeda dari daerah lain. Jika ingin membeli batik di sana, jangan lupa untuk menawar supaya harganya menjadi lebih murah

Monumen Kabupaten Pamekasan ” Arek Lancor ”

Kabupaten ketiga setelah Bangkalan dan Sampang, kita akan sampai di Pamekasan.

Kalau di Jakarta, ada Monas sebagai landmark kota. Paris punya menara Eiffel yang legendaris, patung Liberty menjadi simbol New York. Pamekasan punya monumen Arek Lancor. Penasaran?

Monumen Arek Lancor adalah monumen perjuangan yang merupakan tugu peringatan kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Monumen itu berbentuk lima Celurit yang berdiri tegak di pusat kota Pamekasan dan di apit oleh pusat ibadah dua agama terbesar didunia, yaitu Masjid Agung Asy Syuhada’?(Masjid Jami’) yang merupakan tempat ibadah umat Muslim di Pamekasan dan Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul yang merupakan pusat ibadah umat Kristen terbesar di Pamekasan. Secara Geografis, Masjid Jami’ tersebut terletak di sebelah barat Arek Lancor, sedangkan di sebelah timur berdiri tegak Gereja umat Kristen. Kedua umat tersebut hidup berdampingan dengan damai tanpa ada konflik baik dalam kehidupan keseharian termasuk juga dalam peribadatannya. Toleransi itu sangat indah!

Arek Lancor? menjulang di tengah taman yang melingkar sebagai pusat kota pemekasan. Taman itu dilengkapi dengan jalan yang membentuk lafadz Allah. Sebenarnya Arek Lancor merupakan bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi celurit. Lima kobaran itu berbentuk kobaran api yang saling berhadapan dan terdapat ujungruncing yang mengarah keatas. Arek Lancor merupakan suatu lambang yang mewakili seluruh pribadi masyarakat Pamekasan dan merupakan senjata masyarakat Madura pada umumnya, tidak sebatas digunakan masyarakat Pamekasan.

berrianam_zpsc7f6e823

Masyarakat Madura mengenal celurit pada abad ke-8 M. abad ini adalah abad penindasan pemerintah Belanda terhadap masyarakat jawa timur termasuk juga Madura. Pemerintah belanda memaksa penduduk madura untuk bekerja di sawahnya yang dibelinya secara paksa dan memukul bahkan menganiaya yang berani membantah perintah belanda hingga akhirnya lahir seorang tokoh Madura yang gagah berani melawan penindasan tersebut yaitu “Pak Sakera”.

Ini tokoh legendaris masyarakat Madura yang memunyai jasa besar dalam memberantas penindasan dan membela yang lemah. Sakera sebagai orang yang berani, ia dengan tegas dan tanpa ragu membunuh antek-antek Belanda yang menindas masyarakat lemah. Sedangkan senjata yang digunakannya ialah Celurit. Saat itu lah arek lancor menjadi senjata perjuangan untuk membasmi ketidakadilan serta penindasan. Sejak saat itulah masyarakat yang awalnya tidak berani melawan sifat Belanda dzalim, masyarakat mulai berkobar untuk meghadapi penjajah dengan gagah dan berani dengan menggunakan Celurit. Gerakan masyarakat celurit ini lah yang mampu membuat Belanda kwalahan menganinya.

Sumber : Plat-

Pesona Wisata Bahari Bawah Laut ” Pulau Mamburit ” Sumenep

Judul Artikel : Pulau Mamburit ” Sumenep “

Bagi Anda Yang Memiliki rencana mau liburan ke Pulau Mamburit – Kangean – Sumenep Madura, Yang Salah-satu pulau kecil di Sumenep adalah mamburit. Pulau ini memiliki pemandangan laut yang sangat indah. Selain itu , air lautnya sangat jernih dihiasi terumbu karang dan pasir putih. Untuk sampai ke pulau Mamburit , hanya membutuhkan waktu sekitar 20 Menit dari pelabuhan batu guluk, pulau Kangean . Pulau Mamburit adalah salah-satu dusun, dari desa mamburit, kecamatan arjasa pulau kangean Sumenep . Pulau ini merupakan salah satu diantara 126 pulau yang dimiliki Sumenep yang dikelilingi tiga pulau kecil tanpa penghuni.

Pulau ini, dihuni sekitar 150 kepala keluarga, yang mayoritas hidup dari hasil laut. Air pantai yang jernih dan terumbu karang serta pasir putihnya, membuat pulau mamburit memiliki potensi besar untuk dijadikan objek wisata bahari.

Bupati Sumenep mengakui, pulau mamburit memang memiliki potensi wisata yang luar biasa, namun untuk mengembangkannya, masih terkendala oleh sarana transportasi. Pemerintah kabupaten Sumenep saat ini tengah menjalin kerjasama dengan sejumlah kabupaten yang jaraknya beredekatan, untuk membangun pelabuhan.

Garam Menjadi Bagian Dari Budaya Madura

Garam sangat dibutuhkan oleh manusia. Bagi tubuh manusia, garam merupakan salah satu unsur yang essensial. Karena itu, sejak manusia mengenal garam, maka garam tidak bisa dipisahkan dari konsumsi manusia. Garam ada yang dibuat dari air laut, seperti di negara kita. Pada lokasi tertentu yang air lautnya memiliki kepekatan tinggi, masyarakat mengolahnya menjadi garam dengan sistem penguapan ( solar evaporation). Sementara itu pada beberapa negara lain, garam diperoleh dengan cara menambangnya.

kadarisman sastrodiwirdjo

Pada perkembangan berikutnya, ternyata garam tidak hanya dibutuhkan unutuk dikonsumsi, melainkan juga untuk industry. Banyak industry yang membutuhkan garam, seperti industry pangan, farmasi, pengasinan, industry kulit, dan yang tidak banyak diketahui orang, adalah pengeboran minyak. Untuk pengeboran minyak ini dibutuhkan garam dengan jumlah besar dengan kualitas prima.

Di negara Indonesia sentra usaha garam menyebar. Mulai dari aceh, Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara sampai ke wilayah timur Indonesia, banyak ditemui sentra-sentra usaha garam. Luas area seluruhnya sekitar 19.664 Ha. Sekitar 63% dari areal itu ada di Jawa Timur.

Sementara itu, luas arel penggaraman di Madura, sekitar 11.695 Ha. Berarti Madura memiliki areal penggaraman yang terluas diseluruh Indonesia. Karena itulah mengapa sejak dulu kala Madura dikenal sebagai pulau garam.

SEJARAH GARAM DI MADURA

Menurut Mahfud Effendi dan Yoyok R. Effendi dalam buku Profil Garam Madura (2009), garam diperkenalakan oleh seorang tokoh legendaries bernama Pangeran Anggasuta pada awal abad XVI. Konon tokoh ini muncul ketika ada perang antara kerajaan Klungkung Bali dengan Raja Sumenep. Ketika tentara Bali dalam posisi terdesak, muncullah Anggasuta yang menjadi penengah dan sekaligus menjadi penjamin. Beliau meminta kepada Raja Sumenep, agar pasukan Bali tidak dihancurkan. Permohonan tersebut dikabulkan oleh Raja Sumenep.

Demikianlah, selanjutnya setelah Anggasuta menetap di Girpapas Sumenep, beliau mengajarkan kepada masyarakat cara membuat garam dari air laut, dengan sistem penguapan ( solar evaporation ). Sistem ini berlanjut sampai sekarang. Hal ini dimungkinkan karena kadar air laut di selat Madura memiliki kepekatan yang cukup tinggi. Kemudian garam berkembang di pesisir selatan Sumenep, dan terus merambah ke Pamekasan dan Sampang. Di Pamekasan, pengelolaan garam dilakukan oleh masyarakat pantai selatan yaitu di Kecamatan Pademawu, Galis, dan Tlanakan.

Kebijakan pemerintah mengenai garam berubah-ubah sesuai dengan kepentingan pemerintah pada waktu itu. Pada zaman Hindia Belanda garam dinyatakan sebagai komoditas monopoli, artinya bisa memproduksi garam hanya pemerintah. Di Kalianget Sumenep, Krampon dan Mangunan didirikan pabrik garam bricket.

Bentuknya khas, seperti “kennong” pada gamelan. Disamping itu ada garam curai dan garam halus yang disebut garam meja. Kemudian pada zaman kemerdekaan, pemerintah RI menasionalisasi perusahaan garam, menghapus monopoli, dan rakyat diperkenankan mengelola garam yang disebut “ garam rakyat “.

GARAM DAN BUDAYA MADURA

Mengamati perjalanan panjang sejarah hubungan antara orang Madura dengan garam, maka nampak bahwa hubungan antara keduanya berjalin kelindan. Orang Madura tidak bisa dipisahkna dengan garam, sehingga tepatlah kalau dikatakan bahwa garam merupakan bagian dari budaya Madura. Bukti-bukti tentang hal itu ditemui dalam berbagai ungkapan atau petatah -petitih Madura.

Apabila kita cermati, banyak ungkapan atau peribahasa Madura yang mengaitkan perilaku orang dengan buja (garam). Dalam buku Parebasan dan Saloka Madura kumpulan tulisan Oemar Sastrodiwirjo dijumpai beberapa ungkapan sebagai berikut: Ta’ enning pentae buja (tiak bisa dimintai garamnya) yang menunjuk pada orang pelit. Sedang watak orang yang sulit menerima nasehat yang baik, dikatakan: ta’ nyerrep buja accem asam garam yang biasanya dibuat obat, tidak bisa meresap kedalam tubuh). ta’ nemmo buja e betton (tidak menemukan garam di pelataran) untuk menggambarkan orang yang selalu dianggap sebagai sumber kesalahan. buja ebuwang ka tase’ atau ambujai saghara (membuang garam ke laut) menggambarkan pekerjaan yang sia-sia.

Orang Madura dalam mengatakan kecantikan seorang gadis, menggunakan istilah yang berbeda dengan etnis lain. Kalau etnis lain menyebut ‘hitam manis’, orang Madura menyebutnya Celleng seddha (hitam sedap). Hal lain yang khas dari Madura adalah sambal. Dikalangan orang Madura sambal yang favorit adalah buja cabbhi yaitu garam yang diuleg dengan lombok. Makan menjadi lahap apabila dilengkapi dengan sambal tersebut. Kata buja cabbhi kemudian dipakai sebagai istilah untuk mengukur jumlah uang.

Misalnya kalau kita menanyakan besarnya penghasilan seseorang, dia secara diplomatis akan mengatakan cokop kaangghuy melle buja cabbhi (cukup untuk sekedar membeli sambal garam-lombok). Masih banyak lagi ungkapan Madura yang mengaitkan garam dengan perilaku sehari-hari.

Bukti-bukti diatas kiranya sudah cukup untuk menguatkan kenyataan bahwa garam memang merupakan bagian dari budaya Madura. Implikasi dari hal ini adalah dalam hal pengelolaan garam. Orang lain dalam mengelola garam mungkin saja melihatnya semata-mata dari aspek keuntungan. Kalau untung ditangani, kalau tidak ditinggal. Beda dengan orang Madura yang mengelola garam bukan diukur dari untung rugi.

Alhasil, sampai kapanpun orang Madura akan tetap mengelola garam bukan semata-mata karena sebagai sumber penghasilan, melainkan lebih sebagai bagian dari hidupnya.

*) Pengamat Budaya Madura

Sumenep Meresmikan Monumen Keris

Bupati Sumenep, A. Busyro Kariem saat meresmikan Munomen Keris

Sumenep, 9/11 (Media Madura) – Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kini mempunyai monumen keris, setelah pada Minggu (09/11/14) pagi. Bupati Sumenep, A Buyro Karim, meresmikan monumen keris yang ada di kelurahan Karangduwak, tapatnya di jalan Diponegoro.

Menurut Bupati, pada tahun 2012 lalu, Kementerian telah melakukan penelitian soal keris di Sumenep. Sementara Unesco juga telah mengakui, kalau Sumenep mempunyai pengrajin dan empu keris terbanyak di dunia.

“Data terbaru berkaitan dengan keris, pengrajin keris di Sumenep mencapai 543 yang tersebar di kecamatan Lenteng, Saronggi dan Bluto. Selain itu Sumenep memiliki Empu Keris hingga 675 orang,” tukasnya.

Ia menmbahkan, bahwa keris merupakan karya agung budaya yang sudah mendunia. Maka dari itu, pencanangan kota keris sekaligus menjadi promosi wisata di Sumenep.

“Sehingga, selain memiliki kekayaan dan keindahan yang menjadi potensi Sumenep, Sumenep juga memiliki kebudayaan dan kesenian yang juga luar biasa,” katanya. (FRA/EA/MM)

 

“Pornama e Pinggir Sereng”

Pornama e Pinggir Sereng

Pornama e Pinggir Sereng Menandai berakhirnya pelaksanaan Festival Kesenian Pesisir Utara (FKPU) tahun 2014 (Closing Ceremony), di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, kolaborasi musik tongtong, saronen, karawitan dan topeng serta tari rokat tase’ dengan judul “Pornama e Pinggir Sereng” dipentaskan, Minggu malam (2/11/2014).

Pornama e Pinggir Sereng menceritakan tentang ritus yang lahir di bawah rembulan. Sementara, Wakil Bupati Sumenep, Soengkono Sidik didaulat untuk melaksanakan ritus dari sebuah peristiwa budaya yang mendandai FKPU telah berakhir. Ritus yang dilakukan dengan cara menyiram air dari sebuah kendi (gerabah tempat air) kemudian memukulkan kendi pada perahu yang dibawa penari.

“FKPU yang dilaksanakan di Sumenep semoga menjadi perekat persaudaraan dalam upaya membangun daerah bersama-sama. Ini juga bagian ijtihat untuk mencintai kebudayaan. Tanpa adanya kebersamaan, dirasa sulit untuk menggapai keberhasilan,” kata Soengkono dalam sambutannya.

Menurut dia, Sumenep memiliki banyak potensi wisata, baik alam, tempat bersejarah maupun religi lainnya yang tidak ada di daerah lain. Oleh karenanya, ia juga berharap tidak bosan untuk selalu berkunjung ke Sumenep. “Semoga panjang umur, tahun 2015 kita bisa bertemu kembali pada FKPU di Situbondo,” pungkasnya.

Sementara, salah seorang wisatawan mancanegara, Lukas asal Polandia mengaku senang datang ke Madura, dan sudah banyak menikmati seni dan budaya yang di miliki. “Saya suka dengan kerapan sapi. Saya juga telah menikmati wisata di Sumenep. Terima kasih,” kata Lukas di arena FKPU.(htn)

Penampilan

Pada malam terakhir FKPU di Sumenep, Minggu malam (2/11/2014), ada empat penampilan yang disajikan

Biografi Pahlawan Abdul Halim Perdana Kusuma ” Madura”

Judul Artikel : Tokoh Madura Halim Perdana Kusuma

Dialah Abdul Halim Perdana Kusuma, pria kelahiran Sampang, 18 November 1922 tersebut merupakan salah satu putera terbaik Indonesai yang memiliki keahlian dalam bidang Navigasi dan mengemudikan pesawat. Di masa penjajahan tidak banyak putera Indonesia yang memiliki keahlian menerbangkan pesawat, terlebih lagi saat itu Indonesia belum memiliki Pesawat Terbang. Namun seorang pria asala Madura tercatat menjadi anggota Royal Canadian Air Force dan Royal Air Force.

Dialah Abdul Halim Perdana Kusuma, pria kelahiran Sampang, 18 November 1922 tersebut merupakan salah satu putera terbaik Indonesai yang memiliki keahlian dalam bidang Navigasi dan mengemudikan pesawat.

Berpangkat Wing Commander, Putera Haji Abdul Gani Wongsotaruno seorang Patih Sumenep, tersebut terlibat dalam 44 tugas penerbangan (flight mission) dengan menggunakan pesawat Lancaster atau Liberator. Sebagai navigator tempur selama Perang Dunia II di Eropa dan Asia.

Selepas tugas-tugasnya di Eropa, Halum kembali ke Indonesia, di masa transisi kemerdekaan ini keahlianya dalam navigasi dibuthukan negara dalam membangun kekuatan udara Indonesia yang masih seumur jagung.

Tugas yang diembanya tersebut di jalani dengan sangat baikm bahkan Halim yang juga diberi tugas menjadi instruktur navigasi memberikan pelatihan kepada para penerbang Indonesia dengan segala keterbatasan fasilitas dan pesawat.

halim perdana kusuma madura 300x193 Halim Perdana Kusuma, Pahlawan Asal Madura

Selain menjadi instruktur, Halim juga kerap diberi tugas penting termasuk menjadi Navigator dan ikut terlibat dalam pendirain pangkalan udara Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Sayangnya pria kurus tinggi ini harus meninggalkan ibu pertiwi setelah pesawat Avro Anson VH-BBY (RI-003) jatuh di Pantai Tanjung Hantu Perak-Malaysia. Dan Halim ditemukan meninggal dunia.

Sebagai penghargaan atas jasa dan pengabdiannya terhadap Angkatan Udara maka pimpinan TNI Angkatan Udara menaikan pangkatnya menjadi Laksamana Muda Udara (sekarang Marsekal Muda Udara) Anumerta. Dan pada tahun 1975 Halim Perdana Kusuma mendapat Gelar pahlawan nasional RI dengan SK Presiden No 063/TK/1975.

Sumber : portalmadura.com

Aneka Makanan Khas Madura Yang Perlu Anda Coba !!!

Judul Artikel : Makanan Khas Madura

1. Soto Madura
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
Soto madura ini sangat beda sekali dengan soto jawa atau soto yang biasanya, kenapa? Ciri khasnya terletak pada kuah. Kuah pada soto biasa lainnya biasanya memakai santan. Tapi soto madura daerah sumenep kuahnya tidak memakai santan, tapi kuah yang lumayan jernih menurutku. Bukan hanya itu semua bahannya untuk soto ini haruslah digoreng dulu, bukan bahan mentah atau godokan. Lebih lengkapnya sih proporsi soto ini berupa lontong atau ketupat yang sudah dipotong lalu ditaburi bawang goreng, brambang goreng, cambah goreng, kentang goreng, bawang pri goreng, lalu ditambah kuah kaldu jernih yang bercampur daging ayam atau sapi. Soto ini biasanya dimakan dengan pelengkap kecap manis, sambal, dan jeruk nipis. Hmm yummy. Orang-orang madura suka memasak soto ini ketika merayakan hari raya ketupat atau idul adha. Tapi kalau keluargaku sih buatnya waktu hari raya idul fitri. Hehe. Enaknya gak kalah kog sama soto yang lainnya. 
 
2. Kaldu Daging
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
Kaldu sumenep juga lain dari kaldu-kaldu lainnya karena bahan dasarnya adalah kacang hijau. Unik khan? Iya kacang hijau ini yang biasa dibuat bubur kacang hijau di jawa, di madura penduduk setempat mengolahnya menjadi kaldu yang dicampur dengan daging. Uh enak banget tahuuu. Pasti ketagihan deh. Apalagi dagingnya itu kalau dirasain kaya steak yang di WSS tapi udah diirisin kecil-kecil. Anehnya aku yang gak suka makan kacang hijau seperti bubur atau isinya onde-onde, ternyata aku suka yang namanya kaldu ini. Lebih enak lagi kalau dimakan hangat-hangat, campur kecap, korket (gorengan singkong olahan madura) sama sambel. 
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
3. Apen Manis
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
Apen manis ini bentuknya ya seperti apen biasanya tapi penyajiannya disini berbeda. Apen madura ini disajikan dengan taburan gula aren putih cair yang kental. Apen ini kalau kalian ingin mencoba memakannya bisa mampir ke warung pinggir jalan yang ada di desa parsanga harganya murah banget beberapa bulan yang lalu sepiring kira-kira hanya 2000 isinya 5. Bisa buat pengganjal perut deh. Totemo oishii yo.
 
4. Rujak Madura
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
Rujak ini tidak bau seperti rujak cingur yang ada di jawa. Entah kenapa aku paling gak suka makanan-makanan yang baunya menyengat sekali seperti rujak cingur jawa, dan duren. Rujak madura rahasianya terletak pada petis. Orang madura tidak memakai petis hitam yang digunakan oleh orang jawa. Mereka membuat petis sendiri dari ikan atau udang. Yah namanya aja madura pulau kecil yang dikelilingi laut, tentu saja banyak bahan yang dapat dikelola menjadi sebuah olahan ikan seperti petis, terasi, ataupun garam. Bumbunya untuk membuat rujak madura juga simpel dan mudah yaitu petis satu-dua sendok, gula, garam, kacang goreng, cabe kecil, cuka diulek menjadi satu hingga tercampur rata. Setelahh itu jadi deh tinggal kita campur sama bahan-bahan yang kita suka seperti lontong, sayur, telor. Warnanya sih hampir mirip dengan bumbu pecel tapi rasanya beda bangetlah. Wajib dicoba deh.. baru kamu bisa komentar disini. Pokoknya enakan ini daripada rujak jawa menurutku. hehe
 
5. Sate Madura
 
Masakan Khas Sumenep Madura Paling Enak dan Wajib di Coba
 
Yang namanya sate asalnya dari madura. Ya jelas saja enak, beda dari daerah-daerah lain yang biasanya namanya aja madura. Sate madura itu cenderung tebel dagingnya, luarnya keras, tapi dalamnya lembut banget. Mantaaap, enak dan mudah dikunyah.
 
 
Sumber : Dari Berbagai Sumber