Sejarah Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan salah satu Mursyid Thareqat Naqsyabandiyah Mudzhariyah.

Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan adalah putera dari Al-Habib Ali Al-Hinduan yang dilahirkan pada tanggal 20 Juni 1920 tepatnya di Desa Kepanjen Kabupaten Sumenep Madura. Kemudian enam tahun Setelah Beliau di lahirkan , bertepatan pada tanggal satu Agustus 1926,Beliau terdaftar sebagai siswa dari sebuah Madrasah Ibtida’iyah “Makarimul Akhlaq”. Disana Beliau pertama kali menimba ilmu pengetahuan Agama dalam beberapa tahun. Hal ini sesuai dengan apa yang beliau tulis sendiri dalam buku catatan Beliau

Al-Allamah Al-Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan, adalah tokoh Mursyid yang di lahirkan di pulau Madura. Sebagaimana yang di amati oleh pengamat sejarah , bahwa pulau Madura merupakan tempat yang banyak memiliki nilai sejarah dan para Tokoh legendaris , khususnya para Ulama dan Mursyid Thareqat.

Demikian pula dengan Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan, yang tercatat sebagai salah satu Mursyid Thareqat Naqsyabandiyah Mudzhariyah. Dimana telah banyak orang faham bahwa Thareqat Naqsyabandiyah juga merupakan ajaran yang di akui kebenarannya oleh Jumhur Ulama, sebagaimana Thareqat-Thareqat yang lain, seperti : Alawiyah, Qodiriyah , Tijaniyah , Sammaniyah sebagainya. Sebab itulah Thareqat yang di ajarkan Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan hingga kini masih banyak di ikuti oelh masyarakat Indonesia.

Habib Muhsin merupakan figur yang memiliki penguasaan baik terhadap syariat, lebih-lebih dalam masalah Thariqat. Maka sangat wajar bila Allah SWT, meangakat Beliau di mata manusia, sehingga beraneka ragam bentuk.

Habib Muhsin di hormati bukan hanya atas dasar keilmuan namun juga dasar akhlaq dan penghormatannya terhadap orang lain. Dia senantiasa menghormati seluruh lapisan masyarakat yang ada baik dari tokoh ulama sampai kalangan masyarakat awam.

Misi agung Habib Muhsin mulai berhembus rata di pulau Madura dan membias ke luar pulau Jawa. Langkah panjang dalam penyebaran Thareqat Naqsyabandiyah dapat menjangkau pulau Kalimantan Barat,Kalimantan Tengah , Kalimantan Selatan Sulawesi Selatan.

Pengaruhnya juga terus meluas tidak lagi terbatas pada daerah Madura dan Kalimantan Barat saja. Tetapi juga pada berbagai komunitas pengikutnya yang mengembangkan diri di tempat lain . di antaranya di Banjarmasin dan Ujung Pandang.

Habib Muhsin lahir pada tahun 1921 di Sumenep, Madura , dari pasangan Habib Ali bin salim Al-Hinduan dan Syarifah Zainab binti Muhsin Al-Baiti

Ia menjalani masa kecilnya sebagaimana anak kecil pada umumnya. Tapi ada sisi menarik yang di dapat dari masa kecilnya . Dulu, bila ayahnya menerima tamu , terkadang ia mendengarkan obrolan sang ayah dari balik pintu ruang dalam. Saat ada jawaban atau perkataan Ayahnya kurang tepat , Ia segera mengambil kitab, Kemudian ia mengambil kitab, kemudian di bukanya kitab itu pada halaman yang memuat permasalahan yang di katakan Ayahnya, sebagai “pesan tak langsung “ darinya kepada sang Ayah.
Pada tahun 1937, di usia beliau yang ke 11, Beliau meninggalkan kota kelahirannya pergi menuju kota sampang untuk melanjutkan Studi dan sekaligus mengajar di sebuah madrasah “Imanuddin”.
Satu hal yang juga menarik untuk kita ketahui, bahwa Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan juga mendapat ijazah Thareqat ‘Alawiyah dari Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad secara Ru’yah,

Penghormatan yang mereka tujukan kepada Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan RA baik secara lisan maupun tulisan. Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan di hormati bukan hanya atas dasar keilmuan namun juga dasar akhlaq dan penghormatannya terhadap orang lain. Beliau senantiasa menghormati seluruh lapisan masyarakat yang ada baik dari tokoh ulama sampai kalangan masyarakat awam. Sungguh ini merupakan contoh dan sikap diri yang baik dari beliau RA, sehingga kita bisa mengambil tauladan dalam hal ini.
Pada usia beliau yang ke 37, tepat pada tahun 1957, Beliau mengunjungi seorang guru Mursyid dari Thareqat Naqsyabandiyah Kholidiyah , Yaitu Prof. Dr. Jalaluddin Bukit Tinggi, di Sumatra untuk mendapatkan pelatihan (khalwat) . Maka dalam waktu yang singkat, Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan dapat menyerap sengan baik segala didikan dari guru Mursyid Kholidiyah tersebut.
Kemudian pada tahun 1959, Beliau membuka Majelis pusat Thareqah Naqsyabandiyah di Sumenep Madura. Inilah awal pernyataan untuk tampil, maka bendera yang beliau terima dari guru-guru Mursyidnya mulai di kibarkan. Misi agung Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan mulai berhembus rata di pulau Madura dan membias ke luar pulau Jawa. Langkah panjang dalam penyebaran Thareqat Naqsyabandiyah dapat menjangkau pulau Kalimantan Barat,Kalimantan Tengah , Kalimantan Selatan Sulawesi Selatan. Di pulau-pulau itulah ,pasak-pasak di tancapkan dan benang emas di rentangkan. Sulaman Ilahiyah yang di percayakan kepada Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al-Hinduan RA mulai di rajut, maka terlihat jelas misi Beliau hanya untuk memproklamirkan dzikrullah sebagai pangkalan dakwahnya.
Dari relung hati Beliau yang terdalam dan karena belaian kasihan Allah kepada Beliau maka terpatri sebuah tekad untuk menghabiskan usianya dalam pengabdian kepada Allah. Usaha dan semangat Beliau membaja menjelma sebuah realita sejarah yang sulit untuk di pungkiri. Perjuangan panjang itu memerlukan pengorbanan, di mana aneka rintangan ibarat gunting-gunting tajam yang siap memotong jalur-jalur beliau.Musuh-musuh mengintai dari persembunyian ,mereka memasang jebak dan ranjau untuk meledakkan risalah Allah yang di pikul oleh Beliau.
Terkadang senyuman tersirat di kedua bibibrnya, sementara hati luka oleh derita. Al-Allamah Al-Habib Muhsin pernah di persalahkan, di fitnah dengan berbagai tuduhan serta kemudian di penjarakan. Kejadian ini telah banyak di dengar dan disaksikan oleh sejumlah orang. Dan salah satu bukti tertulis dalam surat Beliau yang mengisyaratkan tentang penderitaan dan pengalaman Beliau sendiri selama dalam penjara. Diantaranya Beliau menyebutkan, “ Aku telah mendapatkan berbagai pengalaman ruhaniyah yang mana tidak aku dapatkan diluar penjara, hingga terlintas keinginan bagiku untuk tidak keluar dari penjara”.
Adapun sebagian dari pada pengalaman yang Beliau peroleh dalam penjara yakni seringnya ruhaniyah para leluhur Beliau datang mengunjungi dan sekaligus menghibur hati Beliau. Di antara para ruhaniyah tersebut adalah Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib AS, Sayyidah Fatimah Az-Zahra AS dan Baginda Rasulullah SAW. Begitu pula Nabiyullah Yusuf AS yang turut hadir menenangkan jiwa Beliau.

Beliau Al-Allamah Al-Habib Muhsin RA, telah melatih ribuan lidah dan mata hati murid-muridnya untuk berdzikir kepada Allah SWT. karena kecintaan Beliau kepada muridnya, maka dikunjunginya setiap tempat dimana mereka tinggal. Di sana Beliau RA memberikan pengarahan serta pendidikan agar murid-muridnya yang awam dapat mengenal Allah SWT. lidah dan hati mereka yang sebelumnya kaku lagi keras, kini mejadi lincah dan gesit dalam menyebut Asma Allah SWT. Dzikir yang dahulu asing bagi mereka, kini menjadi hiasan di dalam dada-dada mereka. Sebuah hal penting yang perlu kita catat. Bahwa Al-Allamah Al-Habib Muhsin Al- Hinduan menjaga murid-muridnya dengan cinta dan waspada. Tak jarang Beliau RA, menolong hati muridnya yang mulai berkarat untuk segera dibersihkan kembali dengan Tawajjuhnya, hingga mereka merasakan bekas-bekas dzikir yang Beliau hujamkan ke setiap hati dan jiwa.
Maka mereka menangis karena terasa Allah SWT ternyata ada dan hudhur dalam sanubari mereka. Dzikir-dzikir itu menggoyak lapisann-lapisan hijab, mata hati mulai terbelalak . Ribuan rahasia di balik alam maya ini terlihat jelas . Langit terbelah hingga lapis yang ke tujuh, alam di mana para malaikat bermukim dapat di singgahi . Titian sirath yang membentang di datangi . Surga dan Neraka bukan sekedar kata tapi keduanya memang tertera nyata.
Al-Allamah Al-Habib Muhsin telah memberikan sebuah cara bagi murid-muridnya untuk meraih kesucian hati dengan dzikrullah, hingga terpancar sinar ketenangan dan terbukanya perkara di luar alam meteri. Kejadian ini merupakan pemberian Allah kepada beberapa muridnya. Al-Allamah Al-Habib Muhsin juga sempat mengabadikan satu di antara pengalaman-pengalaman pribadinya
3 MEI 1980
DETIK-DETIK TERAKHIR

Desir angin kepedihan dan kesedihan merambah rendah ke permukaan bumi…
Kepakan sayap –sayap burung , ringan membawa tubuhnya yang kecil, namun kicauan mereka memilukan.
Bayang-bayang awan menutup , suramkan sinarnya mentari yang sampai ke bubung atap sebuah rumah sakit di daerah sungai jawi (Pontianak).
Disana, di sepetak ruang gawat darurat, tubuh Guru yang mulia terbaring lemah , tanda-tanda perpisahan di isyaratkan
Walau tangannya tidak melambai sebagai tanda prpisahan , tapi kedua matanya yang indah merapat dalam pejaman rahmat Allah SWT.
Ada yang menduga sang Guru masih belum tiada , karena detak lathifahnya masih nyata.
Sumber : tarannamkelua dan satuislam

(Visited 74 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *