“DAM TONJUNG ” Bangunan Bersejarah Peninggalan Belanda

Judul Artikel : Peninggalan Belanda yang Masih Ada Hingga Sekarang

Pengetahuan dan pemahaman terhadap suatu daerah termasuk asal usulnya sangatlah diperlukan. Demikian halnya dengan penulis ingin rasanya berbagi pengetahuan terutama terhadap generasi muda di Madura pada khususnya, dan semua pembaca pada umumnya sehingga para generasi muda paham dengan akar budayanya sendiri. Terutama sejarah tanah madura. Penulis menyadari sejarah suatu daerah kadang kala terdapat perbedaan –perbedaan antara suatu sumber dengan sumber lainnya. Namun perbedaan tersebut janganlah justru dijadikan bahan pertentangan, malah sebaiknya dijadikan wahana yang dapat memperkaya wawasan

Tunjung adalah sebuah kelurahar yang terletak di kecamatan burneh Dan kabupaten bangkalan .berada di pulau madura yang berprovinsi jawa timur. disana adasebuah dam yang disebut sebut sebagai pennggalan belanda.

Dam yang memiliki panjang sekitar 50 meter itu memiliki pemandangan yang cukup menarik. Warga sering menyebutnya sebagai air terjun, karena airnya turun deras dari sungai di atasnya.  Di atas Dam tersebut, ada sebuah jalan kecil yang hanya cukup untuk pejalan kaki ataupun sepeda motor.

Dam Tondjung ini dibangun pada tahun 1927 oleh pemerintah Belanda pada masa Residen J.V, van Heijst atau tepatnya pada masa kepemimpinan R. AA Suryowinoto, dimana bangunan ini dibangun bersamaan juga dengan dibangunnya Menara Air (Tower Leideng), Jembatan Tondjung dan Tugu Menara Air di Embong Miring Burneh.

Adapun Belanda membangun Dam Tondjung tersebut dengan tujuan untuk mengairi sawah-sawah yang ada di sekitarnya, karena di daerah Tondjung dan sekitarnya merupakan daerah yang sangat potensial dimana tekstur tanah di sana sangat subur sehingga dapat meningkatkan hasil produksi padi/beras secara besar-besaran dengan tenaga kerja yang gratis. Tentunya dalam pelaksanaannya pengolahan sawah, otomatis Belanda akan memanfaatkan tenaga pribumi orang Bangkalan, Burneh dan sekitarnya.

Pembangunan Dam Tondjung juga bertujuan untuk mengantisipasi banjir dari arah Timur (Burneh) ke wilayah Kabupaten Bangkalan sehingga aliran dari sungai Tondjung tersebut di pecah sehingga aliran yang ke arah Bangkalan tidak terlalu banyak, dengan demikian Kota Bangkalan aman dari banjir apabila musim penghujan datang.

88 tahun telah berlalu, Kini Dam Tondjung masih berdiri dengan kokoh, meskipun telah mengalami beberapa kali perbaikan dan rehabilitasi namun sifatnya hanya perbaikan plengsengannya saja tetapi bangunan induk (Dam Tondjung) tidak mengalami perubahan. Kini tinggal bagaimana upaya kita agar bangunan bersejarah tersebut tetap terjaga eksistensi dan keutuhannya

Sumber : Bangkalan Memory

(Visited 167 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *