Musik Tong Tong Kesenian Khas Madura Yang Harus Di Lestarikan

Judul Artikel : Lebih Mengenal Musik Tong Tong Khas Madura

Sejak 1970 Siapa sangka menurut catatan sejarahnya musik tong-tong ini, ada sejak tahun 1970-an. Seperti yang diceritakan Ahmad Bahrawi, salah seorang penggiat musik tong-tong asal Sampang pada EastJava Traveler. Dia mengatakan musik tong-tong ada di Sampang pada tahun 1970-an.

”Saat itu musik ini digunakan sebagai musik patrol oleh masyarakat setempat. Terutama saat Ramadhan tiba digunakan untuk membangunkan orang saat waktu sahur,” tutur Bahrawi.

Lebih lanjut pria yang memliki nama panggilan Mamak ini menjelaskan, karena begitu legendarisnya musik ini hingga kami warga Sampang bikin pagelaran even tahunan, yakni lomba musik tong-tong setelah Lebaran.

Selain itu, dari literatur sejarah versi lain yang mencatat tentang kisah musik tong-tong. Di bagian ini didapati jika musik tong-tong populer pada tahun 1999. Saat itu kabel bawah laut yang merupakan aliran listrik di Pulau Madura putus. Sehingga suasana pun gelap gulita selama berbulan-bulan.

Peristiwa ini mengakibatkan wilayah Madura tidak aman dari tindak kriminal. Kemudian musik ini menjadi inisiatif warga untuk meredam tindak kriminal dengan melakukan patrol setiap malam hari. Suasana desa yang sunyi sepi pun tersulap menjadi ramai gegap gempita akibat adanya musik tong-tong. Terus menyanyi, menari, dan menabuh sambil berjalan-jalan mereka mengamankan dari bahaya.

Corak

Hal unik lain yang ada pada musik tong-tong diantaranya terletak pada pembawaan dan tata busana para penabuh. Menurut keterangan beberapa penabuh mengenai pembawaan haruslah selalu terlihat ceriah, serta penuh semangat dalam bermain. Seperti tawa, kekuatan memukul drum, lantang suara, dan gerak tubuh.

Betapa tidak karena musik ini sesuai dengan sejarahnya menggambarkan gagah perkasa, dalam hal menjaga wilayah tempat tinggal mereka dari marabahaya. Bahkan untuk membuat rasa aman bagi warga lain yang sedang lelap dalam tidurnya.

Sedangkan tata busana para penabuh, pada dasarnya semua sama. Antara penabuh yang satu dengan penabuh yang lain. Antara yang membawakan alat musik drum dengan gong, ataupun pembawa selompret semua sama.

Mereka lengkap dengan busana khas masyarakat Madura. Kaos lorek merah putih dengan celana kain berwarna hitam. Dan, tak lupa pula selalu mengenakan peci hitam dikepalanya.

Begitu detilnya dalam mengatur pembawaan dan tata busana para penabuh musik tong-tong, sehingga membuat seni musik ini begitu nampak indah ketika digelar. Alasan lain karena bagian-bagian seperti ini menggambarkan nilai-nilai keluhuran, tingginya budaya Madura, dan juga semangat dalam menjaga keamanan wilayah.

Mamak menjelaskan kembali, musik tong-tong ibarat sebuah pusaka yang bertuah. “Kalau kita pandai menjaga dan merawatnya, maka manfaat beberapa kelebihannya akan terasa bagi masyarakat luas,” lanjutnya.

Karenanya sebagai salah seorang penggiat musik tong-tong, dirinya berharap hingga kelak seni ini dapat tetap lestari dan dapat terus berkembang. “Bahkan orang yang mau memainkannya kalau bisa dari segala lapisan, baik sosial maupun usia,” harapnya.

Namun dalam memainkannya tidak aturan pakem yang harus dipenuhi oleh para pemain atau penabuh. Terpenting adalah semangat dan kekompakan untuk memainkannya. Mengingat musik ini mewarnai identitas masyarakat Pulau Garam. Penuh semangat dan berani.

”Memainkan musik tong-tong harus dengan serempak, kompak, dan penuh semangat. Sehingga kesan dan identitas daerah kami pun muncul,” papar Sodikun, 33 tahun, salah seorang pemain musik tong-tong.

Dari pokok itulah musik tong-tong melenggang. Semua melebur di antara keanekaragaman yang senantiasa diaktualkan untuk mengawal jaman yang terus berubah ini.

Musik tong-tong adalah musik tradisional Madura yang pada awalnya dimainkan sebagai penggugah saat sahur. Alat utama dari musik ini adalah tong tong (kentongan).

Tong tong bisa dibuat dari bambu atau kayu. Pada mulanya, musik ini hanya terdiri dari tiga nada, yakni tinggi, sedang, dan rendah. Kemudian, musik ini berkembang dan dimainkan bersama alat musik lainnya. Namun, cara memainkannya tetap keras bertalu-talu.

Musik yang bertalu-talu dianggap menggambarkan kegembiraan orang Madura. Memang, baik tong tong maupun saronin biasanya dimainkan dalam suasana riang gembira. Misalnya pada acara karapan sapi, sapi sono, atau kemeriahan sejenis lainnya

Melalui proses pembaharuan musik tong-tong kini tidak hanya menggunakan alat kentongan saja melainkan menggunakan alat musik seronin, gendang, tong-tong atau kentongan, gong atau kadangkala dipadukan dengan alat musik modern seperti keyboard, gitar dan drum. Musik tong-tong ini dimainkan secara bersama-sama dengan menghasilkan ritme lagu yang khas dan terdengar merdu.

Musik tong-tong bukan hanya sebagai perwujudan seni musik melainkan memiliki karakter budaya yang khas yang mampu beradaptasi dengan kehidupan masa kini. Musik tong-tong adalah salah satu kebudayaan Madura yang mencerminkan karakteristik masyarakat Madura yang sesungguhnya. Tong-tong tidak hanya memberikan keindahan bunyi tetapi juga memberikan ajaran leluhur tentang nilai-nilai seni. Musik Tong-Tong merupakan perpaduan dari nilai-nilai kebudayaan Madura yang mengajarkan tentang kebersamaan yang dibuktikan dengan pementasan di mana alat-alat musik dimainkan secara bersama-sama, sehingga melahirkan kesatuan bunyi yang sangat indah serta tetap dengan ciri khusus dari suara tong-tong atau kentongan.

Itulah musik tong-tong dari Madura.

Sumber : eastjavatraveler, joko

(Visited 278 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *