Makanan Khas Madura “Nase’ Bu’u’ Ngan Mronggih” Yang Hampir Terlupakan !!!

Nase’ Bu’u’ Ghengan Mronggih (Nasi dedak, sayur kelor), bagi masyarakat madura tentu tidak asing lagi dengan makanan ini. Makanan khas yang tak hanya senantiasa menggugah selera makan juga bisa mempererat tali persaudaraan. Madura sebagai penyandang komoditas penghasil jagung, banyak menciptakan kreasi makanan yang berbahan dasar jagung. Sajian ini amat terkenal sebagai pengganti karbohidrat dari beras, maka beras jagunglah yang menjadi bahan alternatif asupan karbohidrat. Jagung yang kaya manfaat dan bisa membuat kita lebih bisa menahan lapar. Penderita diabetes juga disarankan untuk mengkonsumsi jagung yang bisa mengontrol gula darah.

Nase’ Bu’u’ ini sebenarnya adalah hasil dari ampas gilingan jagung yang akan dijadikan beras jagung. Tentu teksturnya lebih halus dari beras jagung. Untuk memasaknya pun juga tidak sulit, sama seperti jika kita ingin memasak nasi. Cukup ditambahkan air dan garam kemudian dikukus, tunggu beberapa menit kemudian angkat dan tinggal disajikan selagi panas. Sebagai pelengkap lauknya, tak perlu susah-susah, Nase’ Bu’u’ ini biasanya ditemani oleh sayur daun kelor, ikan asin, tahu, tempe dan tentu saja Jhe’ Renges (sambal yang terbuat dari cabe rawit dan garam). Makannya pun lebih nikmat bila disantap bersama-sama. Sesuai kebiasaan masyarakat madura yang selalu guyub, dalam menikmati makanan ini kurang afdol bila tak di makan bersama keluarga besar ataupun tak jarang mengundang tetangga sekitar rumah untuk menikmati masakan ini sembari mengobrol tentang hal apa saja.
Dan Untuk Nasi Dedak (Nase’ Bu’u’) dan Kuah Kelor/Merunggai (Ngan Mrongih), merupakan makanan tradisional Madura, yang sangat Populer di masanya. Tetapi kini makanan tersebut mulai terlupakan.

Saat ini, makanan jenis tersebut sudah mulai sulit untuk didapatkan, warga di Madura menamakan makanan tersebut dengan “Nase’ Bu’u’ Ngan Mronggih”. Nasi Bu’uk terbuat dari ampas jagung yang sudah digiling.

Makanan ini biasanya disajikan saat-saat tertentu seperti saat mempekerjakan orang di sawah dan pesta kecil-kecilan untuk kalangan terbatas.

Pada jaman dulu, makanan ini sangatlah bergengsi. Bahkan, jika sudah menyantap makanan yang satu ini, akan lupa untuk berhenti. Rasanya sangat nikmat bila dimakan bersama-sama apalagi masih dalam keadaan hangat.

Uniknya makanan ini tidak perlu memakai lauk pauk yang mahal, cukup dengan ikan asin, sayur kelor, tempe atau tahu goreng, terong, ikan tongkol, sambal dan kerupuk.

Meskipun demikian, tidak semua orang menyukai jenis memakanan ini, jika belum terbiasa, perutnya bisa mual. Padahal nasi bu’uk ini kaya vitamin B, karena berasal dari jagung.

Penikmat nasi Bu’u’ ini rata-rata tidak ada yang menderita penyakit karna kekurangan vitamin B seperti beri-beri dan penyakit lainnya.

Dalam filosofi budaya Madura, Nasi Bu’u’ ini menjadi sarana keakraban antar tetangga, apabila salah satu tetangga memasak nasi bu’u’ tak jarang memanggil tetangga yang lain untuk ikut bersantap bersama, walaupun dengan lauk pauk apa adanya, yang penting ada sambal, sayur kelor dan ikan asin pestapun dimulai. Keakraban antar warga itu bisa dilihat dari tetesan keringat karena sambal yang pedas saat disantap.

Membuat Nasi bu’uk cukup mudah, bahan-bahanya juga gampang, cukup siapkan ampas jagung yang sudah digiling yang kemudian disebut bu’uk, campurkan air sedikit saja, tambahkan garam kemudian kukus layaknya memasak nasi.

Setelah dirasa matang, angkat dan campurkan parut kelapa secukupnya, bisa juga ditambahkan singkong singkong rebus, nasi bu’uk sudah siap disantap, jangan lupa pula sayur kelor dan sambalnya.

Ditengah serbuan makanan modern, nasi bu’u’ masih tetap bertahan. Nasi bu’u’ dinilai sangat ekonomis daripada membut nasi yang keseluruhan dari beras. Apalagi Madura sebagai daerah penghasil utama komoditas jagung, sehingga menjadikan semua hasil produksi yang terbuat dari jagung di Madura lebih nikmat. (Rosy/Esa)

(Visited 76 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *