Cara Warga Ketapang Melestarikan Alam

Judul Artikel : Cara Warga Ketapang Melestarikan Pohon Berusia Tua

 

Ada cara unik yang dilakukan warga Kecamatan Ketapang dalam melestarikan alam. Salah satunya dengan mempertahankan mitos. Ternyata cara itu mampu melestarikan tanaman di kecamatan tersebut. Salah satunya di Desa Rabiyan. Di desa tersebut terdapat pohon yang diyakini berumur 200 tahun. Pohon tersebut biasa menjadi tempat berdoa saat menyambut 10 Muharam.

Satu hari menjelang 10 Muharam 1436 Hijriah (Minggu, 2/11), ratusan warga Desa Rabiyan berkumpul di bawah pohon nangger besar setinggi 60 meter. Satu per satu mereka berdatangan. Alas seadanya yang terbuat dari terpal, perlahan disesaki ratusan warga yang duduk bersila sambil menunggu azan Isya tiba.

Setelah kumandang azan terdengar, warga yang sudah berkumpul kemudian mendirikan salat di samping pohon nangger yang dikeramatkan itu. Khusus malam ini, warga setempat memang menjalankan salat di sekitar pohon nangger. Pemandangan seperti ini hanya bisa dijumpai satu tahun satu kali.

Usai menjalankan salat Isya berjamaah, warga pun langsung bersama-sama membaca Alquran dan doa bersama. Ritual tersebut berlangsung hingga pukul 21.30. Menurut tokoh setempat, Abd Rosyid, 38, kegiatan itu dilakukan atas kesepakatan warga.

Menurut Rosyid, pohon tersebut dikenal angker. Karena itu, lanjutnya, warganya meyakini jika pohon berumur ratusan tahun tersebut perlu diruwat. Nah, setiap menjelang 10 Muharam inilah warga meruwat pohon tersebut dengan menjalankan salat, mengaji, dan berdoa di bawah pohon tersebut.

Anggapan angker pada pohon nangger tersebut bukanlah bualan semata. Warga setempat meyakini jika pohon tersebut tidak diperlakukan seperti itu, maka akan berdampak buruk. Menurutnya, beberapa waktu lalu ada orang yang duduk di bawah pohon tersebut. Tiba-tiba lemas dan langsung meninggal. Empat puluh hari kemudian, terjadi peristiwa serupa.

Dari kejadian itulah masyarakat mencoba melakukan pengajian di sekitar pohon nangger. ”Muncul kesepakatan sejak lima tahun lalu pada malam Asyura digelar doa bersama,” ujar pria yang rumahnya tak jauh dari pohon ini.

Rosyid menambahkan, pohon yang terletak di sisi timur jalan poros desa itu, juga menjadi penanda pergantian musim. Menurutnya, menjelang musim hujan, biasanya daun pohon nangger tersebut tumbuh. Setelah dedaunan lebat, biasanya hujan turun lebat.

Lain lagi ketika musim hujan akan segera selesai. Daun-daun pohon angker ini biasanya berguguran. Setelah semua daun rontok, kemarau pun biasanya datang.

Tak hanya itu, pohon tersebut menjadi pedoman nelayan. Maklum, tinggi pohon mencapai 60 meter. ”Pohon ini menjadi pedoman para nelayan agar tidak kehilangan arah ketika di laut. Sebab, di kawasan ini tidak ada mercusuar,” paparnya.

Moh. Faiz, 25, warga Desa Rabiyan yang selalu hadir dalam ritual tahunan tersebut mengatakan lebih melihat pada sisi positif dalam ritual Asyura tersebut. Menurutnya, berdoa bersama di tempat terbuka memberikan kesan adanya keselarasan dengan alam. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye pentingnya menjaga pohon demi generasi yang akan datang. Misalnya, menyampaikan sejarah pohon itu.

”Melalui momentum keagamaan, disampaikan terkait pentingnya memelihara pohon agar pohon tetap lestari. Misalnya, dalam pengajian ini disampaikan bahwa usia pohon sekitar 200 tahun lebih,” terangnya. (*/fei)

(Visited 150 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *