Sejarah Perahu Sarimuna Peninggalan Syaichona Moh. Cholil

Judul Artikel : Perahu Peninggalan Syaichona Moh. Cholil

 

Tepat nya Di Pelabuhan Sarimuna di Desa Telaga Biru, Kecamatan Tanjungbumi, diambil dari nama sebuah perahu. Tentu perahu tersebut bukanlah perahu sembarang. Perahu berukuran 14,5 meter dengan lebar 4,65 meter itu merupakan peninggalan ulama besar Madura, Syaichona Cholil. Sampai saat ini, perahu yang terbuat dari kayu jati tersebut masih terawat dengan baik.

Perahu tersebut sampai saat ini diletakkan di pesisir pantai Telaga Biru, Kecamatan Tanjungbumi. Dari Mapolsek Tanjungbumi, lokasinya hanya 500 meter di sebelah barat. Cukup mudah untuk dilalui kendaraan karena jalannya sudah berlapis aspal.

Tepat di kiri jalan beraspal perahu tersebut diletakkan. Di bawah bangunan beratap asbes dengan lantai yang dilapisi keramik. Kemarin (16/10) koran ini berkunjung ke tempat itu. Bangunan sederhana tersebut dikelilingi pagar bambu. Sementara di pintu masuk terdapat tulisan yang menerangkan bahwa perahu tersebut merupakan peninggalan Syaichona Moh. Cholil.

Di sekitar perahu koran ini bertemu dengan Arifin, 41, warga setempat. Dari Arifin inilah informasi tentang perahu Sarimuna diperoleh. Menurutnya, perahu yang berusia ratusan tahun itu memiliki kekuatan magis. Bahkan, lanjut dia, seluruh warga di sana meyakini itu.

Arifin pun kemudian menceritakan salah satu contoh kenapa warga meyakini jika perahu yang dulu disebut Golekan Sarimuna itu bertuah. Menurut dia, dulu pernah ada warga sakit parah. Meski sudah berobat, namun penyakitnya tak kunjung sembuh.

Namun, setelah sekian lama warga tersebut sakit, ada kerabatnya yang bermimpi tentang perahu tersebut. Warga yang sakit pun kemudian ditanya apakah pernah mengambil sesuatu dari perahu tersebut atau tidak. Ternyata, warga yang sakit tersebut pernah mengambil kayu dari perahu Sarimuna.

Setelah itu, si warga yang sakit tersebut diminta mengembalikan kayu tersebut. ”Alhamdulillah, tak lama setelah dikembalikan, berkat izin Allah, yang sakit sembuh Mas,” ujar Arifin.

Arifin sendiri mengaku pernah dibuat heran oleh perahu Sarimuna. Itu terjadi saat angin kencang dan air di laut pasang. Rumah Arifin yang hanya berjarak 10 meter dari lokasi perahu Sarimuna saat itu sudah digenangi air laut. Anehnya, di sekitar bangunan perahu Sarimuna tetap kering. Padahal, lanjutnya, ketinggian lantai bangunan tempat perahu diletakkan tidak lebih tinggi dari lantai di rumahnya.

Masih menurut Arifin, masih banyak hal-hal yang membuat warga yakin peninggalan ulama besar tersebut memiliki keistimewaan tersendiri. Karena itu, warga setempat rutin menggelar pengajian di sekitar perahu. ”Setiap Kamis sore, banyak warga mendatangi perahu ini. Mereka mengaji, ada pula yang membawa tumpeng,” ungkapnya.

Untuk mendapat informasi lebih banyak tentang Golekan Sarimuna ini, Jawa Pos Radar Madura kemarin mendatangi Kantor Kecamatan Tanjungbumi. Di kantor tersebut koran ini ditemui Camat Tanjungbumi Djoko Budiono.

Camat tersebut kemudian menyodori tiga lembar kertas berisi rangkuman cerita rakyat seputar perahu Sarimuna. Mulai kisah pembuatannya, hingga pengalaman berlayar di laut nusantara.

Dari lembaran itu disebutkan jika Golekan Sarimuna dibuat sekitar abad ke-18. Saat ini diperkirakan usai perahu sudah mencapai 125 tahun lebih. Sebelumnya ukuran perahu lebih kecil. Perahu menjadi lebih besar setelah dilakukan renovasi pada 1951. Saat itu perahu masih digunakan. Namun, pada 1982 Golekan Sarimuna tak lagi mengarungi lautan. Warga pun menaikkannya ke daratan.

Di kertas yang berjudul ”Golekan Sarimuna Perahu Tradisional Tanjungbumi Peninggalan Syaichona Cholil” itu juga disebutkan siapa pembuat perahu tersebut. Di sana dijelaskan jika Syaichona Moh. Cholil meminta seorang warga Desa Telaga Biru yang bernama Molin untuk membuatkan perahu.

Kala itu, Molin tak langsung menyanggupi. Sebab, dirinya sedang menderita penyakit kulit dan gatal-gatal di seluruh tubuhnya. Namun, ulama besar itu pun kemudian menawarkan diri untuk mengobati penyakit Molin. Molin pun akhirnya menyanggupi membuat perahu asal dirinya terbebas dari penyakitnya.

Syaichona Moh. Cholil pun kemudian mengambil seikat lidi dan memukulkannya ke tubuh Molin. Seketika, Molin pun sembuh dari penyakitnya. Molin pun kemudian membuatkan perahu yang kemudian diberi nama Golekan Sarimuna.

Keistimewaan perahu ini juga tampak saat pembuatannya. Menurut Mohammad Juhri, penulis rangkuman cerita rakyat tersebut, perahu yang biasanya selesai lima sampai tujuh bulan ternyata tidak demikian dengan perahu yang satu ini. Molin hanya membutuhkan waktu 40 hari saja merampungkan perahu tersebut.

Dikatakan, dalam perjalanannya, perahu Sarimuna ini biasa digunakan oleh Syaichona Cholil untuk menyebarkan agama ke sejumlah daerah di nusantara. Karena itu, menurut camat Tanjungbumi, tidaklah berlebihan jika nama perahu tersebut kemudian diabadikan sebagai nama pelabuhan di desa setempat. ”Memang patut diabadikan,” pungkas camat tersebut. (*/fei)

 

Sumber : http://radarmadura.co.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Visited 430 times, 1 visits today)

Your email address will not be published. Required fields are marked *